Selama ini, pemeriksaan kehamilan di layanan primer lebih banyak berfokus pada kondisi fisik ibu dan janin, seperti tekanan darah, status gizi, pemeriksaan laboratorium, deteksi risiko obstetri, serta persiapan persalinan.
Padahal, kecemasan selama kehamilan juga dapat berdampak serius terhadap kesejahteraan ibu, proses persalinan, kesehatan bayi, dan kualitas hidup keluarga.
Isu tersebut menjadi perhatian utama Lely Firrahmawati, dosen Program Studi Kebidanan Universitas ‘Aisyiyah Surakarta yang baru saja dinyatakan lulus dalam ujian disertasi Program Doktor Ilmu Kedokteran dan Kesehatan, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada.
Dalam disertasinya, Lely mengangkat penelitian berjudul “Pengembangan Layanan Kesehatan Mental Antenatal melalui Kolaborasi Tenaga Kesehatan untuk Pengelolaan Kecemasan pada Ibu Hamil di Layanan Primer.”
Penelitian ini menghasilkan model layanan yang diberi nama Si-Laksmi, yaitu Sistem Layanan Kesehatan Mental Ibu Hamil.
Model Si-Laksmi dikembangkan sebagai upaya untuk mengintegrasikan layanan kesehatan mental ke dalam pelayanan antenatal care atau ANC di puskesmas.
Model ini menekankan pentingnya deteksi dini kecemasan ibu hamil, skrining kesehatan mental, konseling dasar, wawancara klinis, intervensi psikologis, psikoedukasi, kelas ibu hamil berbasis mindfulness, monitoring, evaluasi, serta rujukan melalui kolaborasi bidan, dokter, dan psikolog.
Lely menjelaskan, kecemasan pada masa kehamilan bukan sekadar rasa khawatir biasa. Pada sebagian ibu, kecemasan dapat muncul dalam bentuk ketakutan terhadap proses persalinan.
Termasuk kekhawatiran terhadap kondisi janin, takut bayi lahir tidak sehat, kekhawatiran terhadap perubahan tubuh, hingga perasaan tidak mampu menjalani peran sebagai ibu.
Baca Juga: Rektor Baru UNISA Surakarta Dyah Rahmawatie Resmi Dilantik, Siap Prioritaskan Peningkatan SDM
“Kehamilan memang sering dipandang sebagai peristiwa yang membahagiakan. Namun, bagi sebagian perempuan, kehamilan juga dapat menjadi masa yang penuh tekanan. Karena itu, pelayanan antenatal idealnya tidak hanya menilai aspek fisik, tetapi juga memperhatikan kondisi psikologis ibu,” ujar Lely.
Menurutnya, pelayanan antenatal terpadu sebenarnya telah memuat penilaian kesehatan jiwa dan konseling.
Namun, dalam praktik di lapangan, aspek kesehatan mental ibu hamil belum selalu berjalan secara rutin, terstandar, dan terintegrasi dalam alur layanan.
Karena itu, Si-Laksmi hadir bukan untuk menggantikan ANC terpadu, tetapi untuk memperkuat implementasi layanan kesehatan mental dalam ANC melalui alur yang lebih operasional.
Baca Juga: Rakernas PERHOMPEDIN Perkuat Kolaborasi Dokter Hadapi Kanker
“Si-Laksmi berupaya menjawab kesenjangan antara kebijakan dan praktik. Model ini menjelaskan kapan skrining dilakukan, siapa yang melakukan, instrumen apa yang digunakan, bagaimana hasil skrining ditindaklanjuti, kapan psikolog dilibatkan, serta bagaimana monitoring dan rujukan dilakukan,” jelasnya.
Penelitian ini dibimbing oleh dr. Widya Wasityastuti, M.Sc., M.Med.Ed., Ph.D. selaku promotor dan Dr.rer.nat.dr. Bernadette Josephine Istiti Kandarina selaku co-promotor. Keduanya memberikan arahan dalam penguatan aspek metodologi, kesehatan masyarakat, kolaborasi layanan primer, serta pengembangan model layanan kesehatan mental antenatal yang aplikatif.
Selain itu, penyempurnaan penelitian ini juga mendapat masukan akademik dari tim penguji, yaitu:
- Dr. Fitri Haryanti, S.Kp., M.Kes
- Prof. dr. Mora Claramita, MHPE, Ph.D., Sp.KKLP
- Diana Setiyawati, M.HSc.Psy., Ph.D.
- Dr. dr. Shinta Prawitasari, M.Kes., Sp.OG(K)
- dr. Likke Prawidya Putri, MPH, Ph.D.
- Dr. Heni Puji Wahyuningsih, S.Si.T., M.Keb.
Masukan dari para penguji memperkuat substansi penelitian, terutama terkait aspek pelayanan kebidanan, kesehatan mental, kolaborasi interprofesional, kedokteran keluarga layanan primer, kebijakan kesehatan, serta implementasi model di layanan primer.
Dalam proses penelitiannya, Lely menggunakan pendekatan mixed methods exploratory sequential design.
Tahap pertama dilakukan melalui penelitian kualitatif untuk menggali pengalaman, kebutuhan, hambatan, dan harapan ibu hamil serta tenaga kesehatan terhadap layanan kesehatan mental antenatal.
Baca Juga: Efek Suhu Ekstrem bagi Kesehatan, Bisa Picu Heat Stroke dan Gagal Ginjal
Tahap kedua adalah pengembangan Model Si-Laksmi.
Tahap ketiga dilakukan pengujian kuantitatif untuk menilai efektivitas model terhadap kecemasan ibu hamil, kepuasan ibu, serta kolaborasi tenaga kesehatan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Model Si-Laksmi efektif membantu menurunkan kecemasan umum dan kecemasan terkait kehamilan.
Selain itu, model ini juga meningkatkan kepuasan ibu hamil terhadap pelayanan antenatal.
Temuan tersebut memperkuat pentingnya layanan kesehatan mental antenatal yang tidak berjalan sendiri, tetapi terintegrasi dengan pelayanan ANC rutin di puskesmas.
Urgensi topik ini juga diperkuat oleh dua publikasi ilmiah internasional bereputasi yang telah diterbitkan terkait penelitian Lely. Publikasi pertama berjudul “The efficacy of collaborative psychological interventions in reducing anxiety levels in pregnant women: a systematic review and meta-analysis” yang terbit di BMC Pregnancy and Childbirth.
Artikel ini menunjukkan bahwa intervensi psikologis efektif menurunkan kecemasan ibu hamil, dan intervensi yang dilakukan secara kolaboratif oleh tim multidisiplin memiliki efektivitas lebih baik dibanding intervensi oleh satu profesi saja.
Publikasi kedua berjudul “Mapping the impact of maternal anxiety on birth outcomes in developing countries: a scoping review” yang terbit di Journal of Public Mental Health Emerald.
Artikel ini memetakan dampak kecemasan ibu hamil terhadap luaran kelahiran di negara berkembang.
Hasil kajian menunjukkan bahwa kecemasan maternal berhubungan dengan luaran kelahiran yang merugikan, terutama bayi berat lahir rendah dan kelahiran prematur.
Temuan tersebut semakin menegaskan bahwa kesehatan mental ibu hamil perlu menjadi bagian penting dari pelayanan kesehatan ibu dan anak.
Dalam konteks negara berkembang, termasuk Indonesia, layanan kesehatan mental ibu hamil menghadapi tantangan berupa keterbatasan sumber daya, akses psikolog yang belum merata, stigma terhadap masalah psikologis, serta belum optimalnya sistem rujukan kesehatan mental di layanan primer.
Lely berharap, Model Si-Laksmi dapat menjadi salah satu kontribusi praktis bagi penguatan pelayanan kesehatan ibu di puskesmas.
Model ini dapat diterapkan secara bertahap, dimulai dari pelatihan bidan, penggunaan instrumen skrining kecemasan, edukasi kesehatan mental dasar, konseling awal, pencatatan hasil skrining, serta penguatan rujukan ke psikolog, dokter, atau layanan spesialistik bila ditemukan risiko berat.
“Harapan saya, ibu hamil tidak hanya diperiksa tekanan darahnya, berat badannya, atau kondisi janinnya, tetapi juga ditanya bagaimana kondisi emosinya, apakah ia merasa cemas, takut, tertekan, atau membutuhkan dukungan. Hal-hal seperti ini sederhana, tetapi sangat penting bagi keselamatan dan kesejahteraan ibu,” ungkap Lely.
Ia juga menekankan bahwa bidan memiliki peran strategis sebagai tenaga kesehatan yang paling dekat dengan ibu hamil di layanan primer.
Baca Juga: Krisis Perawat Global, AI Tak Bisa Gantikan Empati
Namun, bidan tidak dapat bekerja sendiri. Kolaborasi dengan dokter, psikolog, pemegang program kesehatan jiwa, dinas kesehatan, serta keluarga menjadi kunci agar layanan kesehatan mental antenatal dapat berjalan secara berkelanjutan.
Model Si-Laksmi juga relevan dengan kebutuhan penguatan layanan kesehatan primer.
Di tengah meningkatnya perhatian terhadap kesehatan mental, integrasi layanan psikologis dalam ANC dapat menjadi langkah nyata untuk meningkatkan kualitas pelayanan ibu hamil.
Model ini juga sejalan dengan pendekatan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif dalam pelayanan kesehatan.
Bagi Lely, kelulusan doktor ini bukan hanya capaian akademik pribadi, tetapi juga amanah untuk mengembangkan layanan kebidanan yang lebih manusiawi, holistik, dan responsif terhadap kebutuhan ibu hamil.
“Disertasi ini saya persembahkan untuk penguatan layanan ibu hamil di layanan primer. Semoga Si-Laksmi dapat menjadi kontribusi kecil untuk memastikan bahwa kesehatan mental ibu hamil mendapat tempat yang layak dalam pelayanan antenatal,” pungkasnya.
Dengan lahirnya Model Si-Laksmi, diharapkan pelayanan antenatal di puskesmas dapat semakin komprehensif.
Ibu hamil tidak hanya dipandang dari aspek fisik, tetapi juga sebagai pribadi yang memiliki kebutuhan psikologis, sosial, dan emosional.
Pendekatan ini penting untuk mewujudkan pelayanan kesehatan ibu yang lebih bermutu, berkesinambungan, dan berorientasi pada keselamatan serta kesejahteraan ibu dan bayi. (*)
Editor : Tri Wahyu Cahyono