RADARSOLO.COM - Sedia payung sebelum hujan. Mencegah lebih baik daripada mengobati. Ungkapan ini sangat tepat ditujukan kepada Dfense V01 karya siswa MAN 1 Solo.
Aplikasi ini dirancang untuk melindungi pengguna dari kejahatan siber.
Adalah Aldeandra Rasya Wiratmana, Fahreza Roihan Pratama, Daffa Bakhitah Hilmi Ardano, dan Rasendria Rakha Wiratmana, siswa kelas XI MAN 1 Solo yang mengembangkan Defense V01.
Aplikasi ini dibuat untuk membantu melindungi pengguna dari penipuan dan hack via WhatsApp (WA) maupun SMS secara real-time.
Baca Juga: Hafal Lirik Lagu, Lupa Isi Buku? Ini Penjelasan Ilmiahnya
Menurut Rasendria Rakha, Defense V01 tidak sekadar menganalisis isi pesan yang mencurigakan.
Aplikasi ini juga bisa memantau perilaku akun pengguna. Sebagai lapisan keamanan tambahan, sistem dilengkapi fitur verifikasi menggunakan kartu NFC.
“Defense V01 merupakan sistem deteksi dini berbasis machine learning. Bisa mendeteksi serangan social engineering atau account takeover,” jelas Rakha.
Defense V01 dikembangkan untuk membantu masyarakat, terutama kelompok rentan seperti lanjut usia (lansia).
Termasuk juga pengguna dengan literasi digital yang masih rendah, agar lebih waspada terhadap berbagai modus penipuan siber.
“Tujuannya agar masyarakat mengetahui potensi penipuan sebelum menjadi korban. Sistem akan memberikan peringatan lebih awal, ketika ada pesan atau aktivitas akun yang mencurigakan. Sehingga risiko pencurian data, penipuan, maupun pengambilalihan akun bisa dikurangi,” bebernya.
Proses pengembangan Defense V01 diawali dengan mengidentifikasi persoalan berdasarkan data kasus kejahatan siber, termasuk studi literatur dari berbagai jurnal ilmiah.
Setelah itu, tim merancang sistem, membuat desain antarmuka, mengembangkan model machine learning, hingga mengintegrasikan website, aplikasi, dan fitur autentikasi NFC.
“Setelah semua fitur selesai, kami melakukan pengujian menggunakan beberapa skenario. Seperti pesan phishing, permintaan data pribadi, hingga percobaan login dari perangkat yang tidak dikenali,” katanya.
Hasil pengujian menunjukkan prototype inovasi tersebut mampu mendeteksi indikasi serangan sejak tahap awal, serta mengirimkan notifikasi secara real time kepada pengguna.
Baca Juga: Pemerintah Buka Lebar Pintu Kampus Asing, Pengamat Pendidikan: Jangan Rugikan Perguruan Tinggi Lokal
Saat sistem menemukan aktivitas login yang tidak wajar, fitur verifikasi NFC otomatis aktif sebagai langkah pengamanan tambahan.
Proses pengembangan inovasi ini memakan waktu sekira tiga bulan.
Selama itu, tim menghadapi sejumlah kendala. Mulai dari mencari data set serangan social engineering yang relevan, hingga membagi waktu karena seluruh anggota masih berstatus pelajar.
“Kami mengatasinya dengan memperbanyak studi literatur dari jurnal internasional. Kami pakai data set yang lebih beragam, melakukan pengujian, hingga penyempurnaan model secara berulang,” ujarnya.
Meski Defense V01 masih dalam tahap pengembangan, inovasi tersebut meraih Juara Harapan II Krenova 2026.
Ke depan, Rakha dkk berharap sistem ini bisa dikembangkan agar diintegrasikan dengan layanan perbankan, dompet digital (e-wallet), media sosial, serta berbagai aplikasi lain yang butuh tingkat keamanan tinggi.
“Harapan kami, Defense V01 terus disempurnakan dengan akurasi yang semakin baik. Sehingga benar-benar dimanfaatkan masyarakat untuk mencegah berbagai bentuk kejahatan siber,” bebernya. (alf/fer)
Editor : fery ardi susanto