Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Gaya Hidup Photo

Bagaimana jika Sejarah Indonesia Diceritakan Lewat Kisah Perempuan? 6 Buku ini Menjawabnya

Annas Rohmanda Purbaningrum • Senin, 13 Juli 2026 | 15:44 WIB
Susunan Buku yang Ada di Solusi Buku. (Annas Rohmanda Purbaningrum)
Susunan Buku yang Ada di Solusi Buku. (Annas Rohmanda Purbaningrum)

RADARSOLO.COM - Saat membahas sejarah Indonesia, kita sering mengenal nama tokoh atau peristiwa besarnya. Padahal, ada banyak kisah perempuan yang juga menjadi bagian dari sejarah tetapi jarang mendapat sorotan. Lewat enam buku ini, kamu bisa melihat bagaimana mereka bertahan, melawan, dan menjalani hidup di tengah berbagai peristiwa penting yang pernah terjadi di Indonesia.

Lebih Putih Dariku – Dido Michielsen

Jika ingin melihat sisi lain kehidupan pada masa Hindia Belanda, Lebih Putih Dariku patut masuk daftar bacaan. Novel karya Dido Michielsen ini mengisahkan Isah, seorang perempuan pribumi yang menjadi nyai atau pendamping laki-laki Belanda. Dari hubungan tersebut lahirlah anak-anak berdarah campuran yang harus tumbuh di tengah sistem kolonial yang membedakan manusia berdasarkan ras dan warna kulit.

Melalui perjalanan hidup Isah, pembaca diajak melihat bagaimana perempuan pribumi sering kali tidak memiliki kuasa atas hidupnya sendiri. Selain itu, novel ini juga menggambarkan rumitnya identitas anak-anak Indo yang kerap merasa tidak sepenuhnya diterima, baik oleh masyarakat Belanda maupun masyarakat pribumi.

Baca Juga: Dulu Sindiran, Kini Jadi Pujian? Begini Perubahan Makna Kata "Centil"

Dengan alur yang emosional, Lebih Putih Dariku memperlihatkan bahwa dampak kolonialisme bukan hanya soal penjajahan wilayah tetapi juga meninggalkan luka sosial, diskriminasi, dan persoalan identitas yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Rasina – Iksaka Banu

Bagi pencinta novel sejarah, Rasina menjadi salah satu karya yang tidak boleh dilewatkan. Berbeda dari kebanyakan novel berlatar kolonial yang menggunakan sudut pandang masyarakat pribumi, Iksaka Banu justru menyajikan cerita melalui perspektif para penjajah Belanda.

Baca Juga: MBG Kembali Bergulir, Wali Kota Respati Pastikan Pengawasan Dapur hingga Menu Diperketat

Novel ini mengikuti kisah Rasina, seorang budak perempuan yang hidup dalam ketidakadilan. Selama menjadi budak, ia mengalami berbagai bentuk kekerasan, mulai dari penyiksaan fisik, kekerasan verbal, hingga kekerasan seksual yang dilakukan oleh majikannya. Bahkan, lidah Rasina sengaja dikerat agar ia tidak lagi dapat berteriak saat disiksa.

Meski mengangkat kisah Rasina, novel ini tidak hanya berfokus pada penderitaan seorang budak. Iksaka Banu juga memperlihatkan bagaimana sistem kolonial bekerja, relasi kuasa antara penjajah dan pribumi, serta dilema moral yang dihadapi beberapa tokohnya. Dengan alur yang penuh kejutan dan berbagai plot twist, Rasina memberikan gambaran yang berbeda mengenai kehidupan pada masa kolonial Belanda.

Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer – Pramoedya Ananta Toer

Berbeda dengan buku lainnya yang berbentuk novel, Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer merupakan karya investigatif Pramoedya Ananta Toer yang mendokumentasikan kisah nyata para perempuan Indonesia yang dipaksa menjadi jugun ianfu atau budak seks tentara Jepang pada masa Perang Dunia II.

Awalnya, para remaja perempuan itu dijanjikan akan memperoleh pendidikan dan kehidupan yang lebih baik. Kenyataannya, mereka justru dipaksa melayani tentara Jepang di berbagai wilayah pendudukan. Setelah Jepang kalah, banyak dari mereka ditinggalkan begitu saja tanpa kepastian nasib.

Sebagian besar korban memilih tidak kembali kepada keluarganya karena merasa malu dan kehilangan harga diri. Ada pula yang akhirnya menetap di Pulau Buru dan membangun kehidupan baru. Melalui kesaksian para penyintas, Pramoedya menghadirkan dokumentasi penting mengenai salah satu tragedi kemanusiaan yang jarang dibahas dalam sejarah Indonesia.

Amba – Laksmi Pamuntjak

Jika ingin memahami tragedi 1965 melalui sudut pandang yang lebih personal, Amba menjadi pilihan yang tepat. Novel karya Laksmi Pamuntjak ini mengisahkan Amba Kinanti, seorang perempuan yang hidupnya berubah setelah peristiwa G30S. Hubungannya dengan Bhisma, seorang dokter muda, terpisah akibat gejolak politik yang membuat Bhisma ditahan dan dibuang ke Pulau Buru sebagai tahanan politik.

Melalui kisah cinta yang mengharukan, pembaca diajak melihat bagaimana peristiwa 1965 tidak hanya berdampak pada para tahanan politik, tetapi juga keluarga dan orang-orang terdekat mereka. Novel ini juga menggambarkan kehidupan para tahanan politik di Pulau Buru serta luka yang terus membekas bertahun-tahun setelah tragedi tersebut. Dengan memadukan sejarah, romansa, dan pencarian jati diri, Amba menjadi salah satu novel sejarah Indonesia yang paling banyak mendapat apresiasi.

Entrok – Okky Madasari

Novel Entrok mengangkat kehidupan Marni, seorang perempuan desa yang tumbuh dalam kemiskinan pada masa Orde Baru. Berawal dari keinginannya memiliki entrok atau bra, barang yang saat itu dianggap mewah di desanya, Marni bekerja keras hingga berhasil mengubah nasib keluarganya.

Akan tetapi, keberhasilannya justru membawanya berhadapan dengan berbagai bentuk penyalahgunaan kekuasaan. Ia harus menghadapi pungutan liar, intimidasi aparat, hingga tekanan politik yang terjadi pada masa Orde Baru. Di sisi lain, hubungan Marni dengan putrinya, Rahayu, yang memiliki pandangan hidup berbeda turut menjadi konflik utama dalam cerita.

Melalui kisah sederhana masyarakat desa, Okky Madasari memperlihatkan bagaimana kekuasaan negara dapat memengaruhi kehidupan rakyat kecil, terutama perempuan. Novel ini menjadi gambaran nyata mengenai kehidupan masyarakat Indonesia pada masa Orde Baru dari sudut pandang yang jarang diangkat.

Dari Dalam Kubur – Soe Tjen Marching

Meski belum sepopuler novel sejarah lainnya, Dari Dalam Kubur menawarkan kisah yang tidak kalah kuat. Novel ini mengangkat rentang sejarah Indonesia dari tahun 1936 hingga 2018 melalui perjalanan hidup Karla, perempuan keturunan Tionghoa yang berusaha mencari jawaban atas perlakuan berbeda yang ia terima sejak kecil.

Pencarian tersebut membawanya pada kenyataan pahit bahwa sang ibu merupakan korban kekerasan politik yang terjadi sejak tragedi 1965 hingga masa Orde Baru. Melalui cerita itu, Soe Tjen Marching memperlihatkan bagaimana diskriminasi terhadap etnis Tionghoa berlangsung selama puluhan tahun.

Novel ini juga mengangkat isu kekerasan terhadap perempuan, trauma antargenerasi, serta bagaimana situasi politik dapat memengaruhi kehidupan seseorang bahkan hingga bertahun-tahun kemudian. Bagi pembaca yang ingin memahami sejarah Indonesia dari sudut pandang perempuan dan kelompok minoritas, buku ini menjadi pilihan yang menarik.

Keenam buku tersebut tidak hanya menawarkan cerita yang menarik, tetapi juga mengajak pembaca memahami sejarah Indonesia melalui sudut pandang yang lebih manusiawi. Lewat kisah para tokohnya, sejarah tidak lagi terasa sebagai kumpulan tanggal dan peristiwa, melainkan pengalaman hidup yang penuh emosi, perjuangan, serta pelajaran yang masih relevan hingga saat ini.

 

Editor : Kabun Triyatno
perempuan novel indonesia buku sejarah