RADARSOLO.COM - Perayaan Dies Natalis ISI Surakarta ke-62 dikemas dalam berbagai rangkaian acara, salah satunya menegaskan komitmennya sebagai pusat pengembangan seni dan budaya. Momentum tersebut ditandai dengan pengukuhan guru besar dalam bidang Estetika Pedalangan.
Rektor ISI Surakarta Bondet Wrahatnala mengatakan, bertambahnya usia kampus harus beriringan dengan peningkatan kontribusi bagi masyarakat. Menurutnya, ISI Surakarta menargetkan menjadi pelopor dalam menggerakkan peradaban melalui seni dan budaya.
"Seni mampu menjadi jembatan dan sarana harmonisasi. Kami ingin ISI Surakarta menjadi pionir yang menggerakkan peradaban melalui pendekatan seni kepada seluruh lapisan masyarakat," ujarnya (15/7).
Dia mencontohkan, ISI Surakarta telah menjalankan diplomasi budaya bersama Pemerintah Timor Leste di wilayah perbatasan Belu, Indonesia. Melalui seni, kampus berupaya membangun hubungan yang harmonis sekaligus memperkuat peran budaya sebagai perekat masyarakat.
Menurut Bondet, seni juga memiliki kemampuan beradaptasi dengan perkembangan zaman dan teknologi. Karena itu, seni tidak lagi dipahami sebatas praktik berkesenian, tetapi juga sebagai disiplin ilmu yang dapat dipelajari berbagai kalangan untuk memberikan dampak bagi masyarakat.
"Seni bisa dipelajari oleh semua elemen masyarakat. Itu akan mempermudah kita menggerakkan dan memengaruhi peradaban di seluruh Nusantara," terangnya.
Saat ini ISI Surakarta memiliki 11 guru besar aktif. Jumlah tersebut ditargetkan terus bertambah hingga sekitar 20 guru besar, sehingga kapasitas akademik dan kontribusi kampus terhadap pengembangan seni semakin kuat.
Sementara itu, guru besar bidang Estetika Pedalangan Prof. Sunardi mengangkat, pidato ilmiah mengenai transformasi estetika pertunjukan wayang dari masa ke masa. Dia menjelaskan, wayang telah berkembang dari media ritual, menjadi wayang klasik dan inovasi, hingga kini memasuki era digital dan virtual.
"Realitanya sekarang masyarakat lebih banyak menikmati pertunjukan wayang melalui handphone. Karena itu dalang juga memanfaatkan YouTube, TikTok, hingga Facebook untuk menunjukkan eksistensinya," jelasnya.
Menurut Sunardi, perkembangan teknologi justru menjadi peluang bagi para dalang untuk mempertahankan eksistensinya. Wayang tidak kehilangan jati dirinya jika dikemas lebih menarik agar mampu menjangkau generasi baru.
"Wayangnya tetap wayang purwa, hanya kemasannya yang mengikuti perkembangan zaman. Kalau dalang terbuka terhadap teknologi, ini menjadi peluang untuk terus eksis. Sebaliknya, kalau alergi terhadap teknologi akan sulit berkembang," ujarnya.
Dia menambahkan, inovasi dalam seni harus terus dilakukan selama tidak menghilangkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Kreativitas menjadi kunci agar seni tradisi tetap hidup di tengah perubahan zaman.
Sunardi berharap ISI Surakarta terus berkembang menjadi pusat kreativitas seni yang diakui di tingkat nasional maupun internasional.
"Harapan saya, Dies Natalis ISI Surakarta ini bisa semakin maju, semakin dikenal masyarakat, menjadi barometer kreativitas seni, dan semakin bertambah usianya semakin memberikan dampak bagi masyarakat," pungkasnya. (alf/nik)
Editor : Niko auglandy