Padahal, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) telah memberikan definisi yang jelas untuk setiap kata. Mengetahui makna yang tepat bukan hanya membantu berkomunikasi dengan lebih baik, tetapi juga menghindarkan kesalahpahaman saat berbicara maupun menulis. Berikut beberapa kata yang paling sering disalahartikan.
Baca Juga: "Maaf" atau "Mohon Maaf"? Sekilas Mirip, Ternyata Maknanya Tidak Selalu Sama
1. Acuh
Banyak orang menganggap acuh berarti tidak peduli. Padahal, menurut KBBI, acuh berarti peduli atau mengindahkan.
Kalimat yang benar:
Ia selalu acuh terhadap kondisi tetangganya yang sedang kesulitan.
Sementara jika ingin menyatakan tidak peduli, bentuk yang tepat adalah tidak acuh atau masa bodoh.
Baca Juga: Pernah Bilang "Gan" atau "Sob"? Bahasa Ternyata Juga Punya Umur
2. Bergeming
Ungkapan "dia bergeming sedikit pun" sering digunakan untuk menggambarkan seseorang yang mulai bergerak. Padahal, arti bergeming justru kebalikannya, yaitu diam atau tidak bergerak sama sekali.
Contoh:
Meski dipanggil berkali-kali, ia tetap bergeming.
Karena itu, frasa "tidak bergeming" sebenarnya merupakan bentuk penegasan yang sudah sangat lazim dipakai dalam bahasa Indonesia.
3. Notulen
Istilah notulen sering dipakai untuk menyebut hasil atau catatan rapat. Padahal, menurut KBBI, notulen adalah orang yang bertugas mencatat jalannya rapat.
Sementara hasil catatannya disebut notula.
Jadi, kalimat yang lebih tepat adalah:
Rapat hari ini dicatat oleh notulis.
Notula rapat akan dibagikan kepada seluruh peserta.
Meski demikian, penggunaan kata notulen untuk menyebut catatan rapat sudah sangat umum dijumpai dalam kehidupan sehari-hari.
4. Absen
Di sekolah maupun kantor, kalimat "saya mau absen dulu" atau "jangan lupa absen" sudah sangat akrab terdengar. Namun, jika merujuk KBBI, absen berkaitan dengan ketidakhadiran.
Artinya, mengatakan "saya absen hari ini" justru berarti tidak hadir.
Jika ingin menyatakan kehadiran, istilah yang lebih tepat adalah presensi atau mengisi daftar hadir. Meski begitu, dalam penggunaan sehari-hari, kata absen telah mengalami perluasan makna sehingga banyak dipahami sebagai kegiatan mencatat kehadiran.
5. Nuansa
Kata nuansa sering digunakan sebagai sinonim suasana. Misalnya, "kafe ini memiliki nuansa yang nyaman."
Padahal, makna nuansa dalam KBBI adalah variasi, perbedaan, atau perubahan yang halus atau tipis. Sementara suasana merujuk pada keadaan atau kondisi yang dirasakan.
Meski begitu, penggunaan nuansa untuk menggambarkan kesan sebuah tempat kini sudah sangat lazim dalam bahasa Indonesia modern, seperti pada ungkapan "bernuansa alam", "bernuansa klasik", atau "bernuansa tradisional".
6. Seronok
Bagi banyak orang Indonesia, seronok identik dengan sesuatu yang tidak senonoh atau mengandung unsur pornografi. Padahal, arti kata seronok menurut KBBI adalah sedap dipandang, elok, menyenangkan, atau meriah.
Contohnya:
Pesta rakyat berlangsung dengan suasana yang seronok.
Perubahan makna ini diduga dipengaruhi oleh penggunaan dalam bahasa serumpun, khususnya bahasa Melayu Malaysia, sehingga persepsi masyarakat Indonesia terhadap kata tersebut ikut bergeser.
Perubahan makna sebenarnya merupakan hal yang wajar dalam perkembangan bahasa. Pengaruh media, percakapan sehari-hari, hingga media sosial dapat membuat suatu kata mengalami penyempitan, perluasan, bahkan pergeseran arti. Namun, memahami makna baku tetap penting, terutama saat menulis karya ilmiah, berita, dokumen resmi, maupun berkomunikasi dalam situasi formal.
Karena itu, ketika ragu terhadap arti sebuah kata, tidak ada salahnya memeriksa KBBI terlebih dahulu. Siapa tahu, kata yang selama ini sering digunakan ternyata memiliki makna yang berbeda dari yang selama ini diyakini.
Editor : Kabun Triyatno