RADARSOLO.COM - Perkembangan bahasa Indonesia terus mengikuti perubahan zaman. Seiring munculnya teknologi, media sosial, dan kebiasaan baru di masyarakat, sejumlah kosakata baru juga bermunculan. Menariknya, beberapa kata yang dahulu terdengar asing atau bahkan sempat diperdebatkan kini telah resmi tercantum dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).
Kehadiran kata-kata baru tersebut bukan berarti menggantikan seluruh istilah asing yang sudah dikenal masyarakat. Sebaliknya, kosakata itu menjadi padanan bahasa Indonesia yang dapat digunakan dalam situasi formal maupun penulisan resmi.
Berikut beberapa kata yang kini telah menjadi bagian dari KBBI.
Baca Juga: Masih Sering Salah Tulis? Ini Deretan Kata Bahasa Indonesia yang Kerap Keliru
1. Swafoto
Sebelum kata swafoto diperkenalkan, masyarakat lebih akrab menggunakan istilah selfie. Kini, swafoto telah menjadi padanan resmi dalam bahasa Indonesia.
Menurut KBBI, swafoto berarti kegiatan memotret diri sendiri menggunakan kamera atau telepon seluler.
Meski kata selfie masih sering digunakan dalam percakapan sehari-hari, penggunaan swafoto banyak dijumpai pada berita, dokumen resmi, maupun publikasi pemerintah.
Baca Juga: Bukan Sekadar ‘Hujan’, Bahasa Indonesia Punya Banyak Kata untuk Menggambarkan Hal yang Mirip
2. Gawai
Istilah gadget sangat populer untuk menyebut perangkat elektronik seperti telepon pintar atau tablet. Namun, bahasa Indonesia memiliki padanan resminya, yaitu gawai.
Dalam KBBI, gawai diartikan sebagai alat elektronik atau mekanik yang memiliki fungsi praktis. Kini, kata tersebut semakin sering digunakan, terutama dalam dunia pendidikan dan pemberitaan.
3. Daring dan Luring
Pandemi Covid-19 membuat masyarakat semakin akrab dengan istilah daring dan luring.
Daring merupakan singkatan dari dalam jaringan, yaitu kegiatan yang dilakukan melalui internet. Sebaliknya, luring adalah singkatan dari luar jaringan, yaitu kegiatan yang dilakukan secara langsung tanpa memanfaatkan jaringan internet.
Istilah ini kini digunakan dalam berbagai bidang, mulai dari pendidikan hingga penyelenggaraan rapat dan seminar.
Baca Juga: Tujuh Emoji Populer yang Jadi Bahasa Rahasia Gen Z
4. Surel
Banyak orang masih lebih sering menggunakan kata email. Padahal, KBBI telah menetapkan surel sebagai padanan resmi yang merupakan singkatan dari surat elektronik.
Meski belum sepopuler kata email, penggunaan surel cukup sering dijumpai dalam dokumen pemerintahan dan surat-menyurat resmi.
5. Pranala
Saat ingin membagikan sebuah tautan internet, sebagian besar orang akan mengatakan "kirim link-nya". Dalam bahasa Indonesia, kata yang digunakan adalah pranala.
Pranala memiliki makna hubungan atau sambungan menuju halaman lain dalam sebuah dokumen digital atau situs web. Meski demikian, penggunaan kata link masih jauh lebih dominan dalam komunikasi sehari-hari.
6. Gim
Istilah gim merupakan bentuk baku dari kata game. Kata ini digunakan untuk menyebut permainan, baik yang dimainkan secara digital maupun non-digital.
Kini, kata gim semakin sering digunakan dalam berbagai media massa dan publikasi resmi.
Masuknya kata-kata tersebut ke dalam KBBI menunjukkan bahwa bahasa Indonesia terus berkembang mengikuti kebutuhan masyarakat. Proses penambahan kosakata tidak dilakukan secara sembarangan. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa melakukan kajian terhadap penggunaan suatu kata di masyarakat sebelum menetapkannya sebagai bagian dari kosakata bahasa Indonesia.
Selain menyerap kata dari bahasa asing, bahasa Indonesia juga berupaya menghadirkan padanan yang sesuai dengan kaidah kebahasaan. Tujuannya agar masyarakat memiliki pilihan untuk menggunakan istilah dalam bahasa Indonesia tanpa kehilangan makna yang ingin disampaikan.
Meski beberapa padanan tersebut belum sepenuhnya menggantikan istilah asing dalam percakapan sehari-hari, penggunaannya semakin meningkat, terutama dalam lingkungan pendidikan, pemerintahan, media massa, dan dokumen resmi.
Dengan mengenal kosakata yang telah tercantum dalam KBBI, masyarakat dapat semakin memahami bahwa bahasa Indonesia merupakan bahasa yang dinamis. Bahasa tidak hanya mempertahankan kosakata lama, tetapi juga terus berkembang untuk mengikuti perubahan teknologi, budaya, dan kehidupan masyarakat.
Editor : Kabun Triyatno