Sulit Diterjemahkan, Istilah Bahasa Indonesia Ini Punya Makna yang Sangat Khas

Inayah Choirunisa • Dipublikasikan Senin, 20 Juli 2026 | 13:44 WIB
Kekayaan bahasa Indonesia tecermin dari kata seperti mudik & gotong royong yang sulit diterjemahkan pas ke bahasa Inggris. Gambar: Pinterest.
Kekayaan bahasa Indonesia tecermin dari kata seperti mudik & gotong royong yang sulit diterjemahkan pas ke bahasa Inggris. Gambar: Pinterest.

RADARSOLO.COM - Pernah mencoba menerjemahkan kata mudik, sungkan, atau gotong royong ke dalam bahasa Inggris? Sekilas tampak mudah. Mudik mungkin diterjemahkan sebagai go home, sedangkan gotong royong sering disebut mutual cooperation. Namun, ketika dicermati lebih jauh, padanan tersebut ternyata belum mampu mewakili seluruh makna yang terkandung di dalamnya.

Fenomena ini menunjukkan bahwa tidak semua kata dalam suatu bahasa memiliki padanan yang benar-benar setara di bahasa lain. Dalam ilmu linguistik dan penerjemahan, kondisi tersebut terjadi karena setiap bahasa lahir dari budaya, kebiasaan, dan cara pandang masyarakat yang berbeda.

Akibatnya, ada kosakata yang maknanya begitu khas sehingga sulit diterjemahkan hanya dengan satu kata.

Baca Juga: Bahasa Indonesia Ternyata Punya Banyak Istilah untuk Menyebut ‘Tertawa’, Lho!

Salah satu contohnya adalah mudik. Banyak orang menerjemahkannya sebagai go home atau homecoming. Padahal, mudik bukan sekadar pulang ke rumah. Di Indonesia, kata ini merujuk pada tradisi pulang ke kampung halaman, terutama menjelang Hari Raya Idulfitri, untuk berkumpul dengan keluarga.

Di dalamnya terkandung nilai budaya, hubungan kekeluargaan, hingga tradisi tahunan yang tidak sepenuhnya tercermin dalam padanan bahasa Inggris.

Contoh lainnya adalah gotong royong. Istilah ini kerap diterjemahkan menjadi mutual cooperation atau community work. Meski maknanya mendekati, kedua istilah tersebut belum sepenuhnya menggambarkan semangat kebersamaan, sukarela, dan rasa memiliki yang melekat pada konsep gotong royong dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Tidak mengherankan jika kata ini bahkan diakui sebagai salah satu nilai budaya khas Indonesia.

Baca Juga: Mengulang Kata Tidak Selalu Berarti Jamak, Yuk Kenali Keunikan Bahasa Indonesia

Kata sungkan juga menjadi contoh yang menarik. Dalam bahasa Inggris, maknanya sering dijelaskan menggunakan frasa seperti to feel reluctant, awkward, atau hesitant. Namun, sungkan bukan sekadar merasa enggan. Kata ini juga memuat unsur kesopanan, rasa hormat, menjaga perasaan orang lain, hingga keinginan untuk tidak merepotkan seseorang. Karena itulah, satu kata dalam bahasa Inggris sering kali belum cukup untuk menjelaskan seluruh maknanya.

Begitu pula dengan pamrih. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pamrih berarti maksud atau tujuan yang tersembunyi untuk memperoleh keuntungan pribadi. Dalam percakapan sehari-hari, ungkapan "membantu tanpa pamrih" memiliki makna membantu dengan tulus tanpa mengharapkan balasan. Dalam bahasa Inggris, makna tersebut biasanya dijelaskan melalui frasa seperti without expecting anything in return. Artinya, diperlukan beberapa kata untuk menyampaikan makna yang dalam bahasa Indonesia cukup diwakili oleh satu kata.

Baca Juga: Kenapa Kata Blunder Sering Dipakai Warganet? Ternyata Maknanya Makin Luas

Contoh lain yang sering menimbulkan kebingungan adalah gemas. Dalam penggunaan sehari-hari, gemas tidak selalu berarti lucu atau menggemaskan. Kata ini dapat menggambarkan perasaan sayang yang begitu besar hingga muncul dorongan untuk memeluk, mencubit, atau mengusap seseorang karena tingkahnya yang menggemaskan. Di sisi lain, dalam konteks tertentu, gemas juga dapat berarti kesal atau jengkel.

Nuansa makna yang beragam ini membuat penerjemah harus memahami konteks terlebih dahulu sebelum memilih padanan yang tepat.

Selain itu, ada pula kata silaturahmi. Kata yang berasal dari bahasa Arab ini telah menjadi bagian dari kosakata bahasa Indonesia dengan makna yang khas. Silaturahmi bukan sekadar visiting relatives atau keeping in touch, tetapi juga mengandung nilai menjaga hubungan baik, mempererat persaudaraan, dan membangun ikatan sosial yang kuat.

Dalam kajian penerjemahan, kondisi seperti ini dikenal sebagai ketidaksetaraan leksikal (non-equivalence at word level), yaitu ketika sebuah kata dalam satu bahasa tidak memiliki padanan yang benar-benar sama dalam bahasa lain. Karena itu, penerjemah sering menggunakan penjelasan berupa frasa atau kalimat agar makna yang dimaksud tetap tersampaikan.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa bahasa tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga menjadi cerminan budaya masyarakat penuturnya. Semakin khas pengalaman hidup suatu masyarakat, semakin besar kemungkinan bahasanya memiliki kosakata yang sulit diterjemahkan secara utuh ke bahasa lain.

Jadi, jika suatu hari Anda menemukan kata bahasa Indonesia yang tampaknya sederhana tetapi sulit dijelaskan dalam bahasa Inggris, jangan terburu-buru menganggapnya sebagai keterbatasan bahasa. Justru di situlah letak kekayaan bahasa Indonesia, yang mampu menyimpan nilai budaya dan cara pandang masyarakat dalam satu kata.

Editor : Kabun Triyatno
padanan leksikal kbbi makna budaya