RADARSOLO.COM - Pernahkah Anda memperhatikan bahwa bunyi benda tercebur ke air ditulis sebagai "byur" dalam bahasa Indonesia? Sementara itu, dalam bahasa Inggris bunyi yang sama lebih sering dituliskan sebagai "splash". Padahal, suara yang didengar sebenarnya tidak berbeda. Lantas, mengapa setiap bahasa memiliki cara yang berbeda untuk menuliskan bunyi?
Dalam linguistik, kata-kata seperti byur, bruk, cling, atau jreng dikenal sebagai onomatope, yaitu kata yang dibentuk dengan meniru atau menggambarkan bunyi yang terdengar di sekitar manusia. Onomatope banyak digunakan dalam percakapan sehari-hari, karya sastra, hingga komik karena mampu membuat suatu peristiwa terasa lebih hidup.
Baca Juga: Kenapa Sih Emoji Baru Muncul Tiap Tahun? Ini Rahasianya!
Bahasa Indonesia memiliki banyak contoh onomatope yang akrab di telinga. Ketika benda jatuh, kita mengenal bunyi bruk atau gedebuk. Saat sesuatu tercebur ke air, muncul kata byur. Ketika mengetuk pintu, bunyinya ditulis tok-tok. Detak jantung sering digambarkan dengan dug-dug, sedangkan suara benda logam yang berkilau atau berbenturan kerap ditulis sebagai cling.
Tak hanya benda, suara hewan pun memiliki onomatope tersendiri. Kucing digambarkan berbunyi meong atau mengeong, ayam jantan berkokok, sementara kambing mengembik. Kata-kata tersebut terasa begitu alami bagi penutur bahasa Indonesia hingga sering dianggap sebagai bunyi yang "sebenarnya".
Namun, jika dibandingkan dengan bahasa lain, hasilnya justru berbeda.
Baca Juga: 7 Bahasa Gaul Viral Gen Alpha yang Bikin Generasi Lain Bingung
Misalnya, suara kucing dalam bahasa Inggris lebih dikenal sebagai meow, sedangkan suara anjing ditulis woof, arf, atau bark. Ayam jantan yang dalam bahasa Indonesia digambarkan berkokok, dalam bahasa Inggris terkenal dengan bunyi cock-a-doodle-doo. Bunyi benda tercebur ke air pun berubah menjadi splash, bukan byur.
Perbedaan tersebut bukan berarti orang Indonesia dan penutur bahasa Inggris mendengar bunyi yang berbeda. Sebaliknya, setiap bahasa memiliki cara sendiri dalam menangkap, menyederhanakan, dan menuliskan bunyi sesuai dengan sistem bunyi atau fonologi yang dimilikinya.
Setiap bahasa memiliki susunan bunyi yang khas. Karena itulah, bunyi yang sama dapat diwakili oleh rangkaian huruf yang berbeda. Penutur suatu bahasa cenderung menuliskan bunyi berdasarkan bunyi-bunyi yang sudah akrab dalam bahasa mereka.
Baca Juga: Niatnya Senyum Malah Dikira Sinis, Kenapa Emoji Sering Bikin Salah Paham?
Hal itu juga menjelaskan mengapa satu bunyi bisa memiliki lebih dari satu onomatope. Misalnya, benda yang jatuh tidak selalu digambarkan dengan kata bruk. Jika jatuhnya lebih keras, orang mungkin mengatakan gedebuk. Jika benda tersebut kecil, ada pula yang menuliskannya sebagai duk atau buk. Pilihan kata bergantung pada bagaimana penutur membayangkan bunyi yang didengar.
Onomatope juga banyak dimanfaatkan dalam komik, novel, dan film. Bayangkan sebuah adegan tanpa kata jreng saat gitar dipetik atau tanpa krik-krik ketika suasana tiba-tiba hening dan canggung. Kehadiran kata-kata tersebut membantu pembaca atau penonton membayangkan suasana tanpa perlu penjelasan yang panjang.
Dalam dunia sastra, onomatope berfungsi menciptakan efek bunyi sehingga cerita terasa lebih hidup. Sementara dalam percakapan sehari-hari, penggunaan kata seperti byur, cling, atau dug-dug membuat komunikasi menjadi lebih ekspresif dan mudah dipahami.
Fenomena ini menunjukkan bahwa bahasa tidak hanya terdiri atas kosakata yang memiliki arti leksikal, tetapi juga mampu merepresentasikan pengalaman indrawi manusia, termasuk suara. Menariknya, cara setiap bahasa menggambarkan bunyi dipengaruhi oleh budaya dan sistem bunyi yang berkembang di masyarakat penuturnya.
Karena itu, jika suatu hari Anda mendengar kata byur, gedebuk, atau jreng, ingatlah bahwa kata-kata tersebut bukan sekadar tiruan bunyi. Dalam linguistik, semuanya merupakan contoh onomatope yang memperlihatkan bagaimana manusia mengubah suara di sekitarnya menjadi bagian dari bahasa yang digunakan setiap hari.
Editor : Kabun Triyatno