Jangan Lewatkan!Museum Keliling Abinawa #2 Sambangi Ndalem Djojokusuman Solo

Alfida Nurcholisah • Dipublikasikan Kamis, 23 Juli 2026 | 16:25 WIB
Pelajar memadati Museum Keliling Abinawa #2 di Ndalem Djojokusuman, Kamis (23/7). (M IHSAN/RADAR SOLO)
Pelajar memadati Museum Keliling Abinawa #2 di Ndalem Djojokusuman, Kamis (23/7). (M IHSAN/RADAR SOLO)

RADARSOLO.COM – Pelajar di Solo Raya memiliki kesempatan untuk mengenal koleksi museum-museum se Indonesia.

Mereka tidak perlu pergi jauh-jauh, karena puluhan museum itu justru datang ke Kota Solo.

Tepatnya dalam pameran Museum Keliling Abinawa #2 di Ndalem Djojokusuman selama empat hari, 23-26 Juli 2026.

Selain mendekatkan museum dengan masyarakat, ajang ini sekaligus memperkuat pelestarian warisan budaya.

Baca Juga: Peringati Hari Anak Nasional, Ajak Murid SD Melipat Baju Dan Main Dolanan Tradisional

Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Solo Budi Murtono menjelaskan, pemkot komitmen menjaga, merawat, dan mengembangkan warisan budaya yang hidup di tengah masyarakat.

Menurutnya, museum bukan sekadar tempat menyimpan benda bersejarah, tetapi juga ruang belajar, ruang dialog antargenerasi, sekaligus sarana menumbuhkan kebanggaan terhadap identitas budaya bangsa.

“Pesertanya dari museum-museum se Indonesia. Saya berharap kepala sekolah mengajak murid-murid untuk datang, karena museum dari berbagai daerah kumpul di sini. Sehingga aksesnya lebih mudah,” kata Budi.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Solo Maretha Dinar Cahyono menambahkan, ajang ini mengangkat tema Vilaja Jaladri Nusantara. Menghadirkan 65 museum se Indonesia.

Baca Juga: Atap TK Gaya Baru Jebres Solo Nyaris Ambrol, 25 Murid Dievakuasi

“Melalui pameran ini, masyarakat diajak memahami bahwa museum adalah ruang belajar yang hidup, ruang dialog antar generasi, sekaligus ruang untuk bangga terhadap identitas budaya bangsa,” jelasnya.

Di era digitalisasi, museum harus dinamis dan lebih dekat dengan masyarakat. Selain pameran, juga diisi dialog interaktif dari beberapa museum. Termasuk dokumentasi tari tradisional dan wayang Samanhoedi.

“Saya melihat koleksi Museum Asia Afrika, ada telepon dengan suara pidato kemerdekaan. Kemudian di Museum Batik Pekalongan diajarkan membatik dengan malam dan canting,” ujar murid kelas XI SMKN 3 Solo Salsabila Saharani. (alf/fer)

Editor : fery ardi susanto
Sumber : Radar Solo
Museum Keliling Abinawa #2 ndalem djojokusuman museum