RADARSOLO.COM - Bahasa tidak pernah benar-benar diam. Seiring perubahan zaman, perkembangan teknologi, dan kebiasaan masyarakat, makna sebuah kata juga dapat berubah. Fenomena ini semakin mudah diamati sejak media sosial menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Kata-kata yang dahulu memiliki arti tertentu kini digunakan dengan makna baru, bahkan menjadi bahasa gaul yang akrab di telinga masyarakat.
Dalam ilmu linguistik, perubahan tersebut dikenal sebagai perubahan makna (semantic change). Artinya, makna sebuah kata dapat mengalami perluasan, penyempitan, pergeseran, hingga perubahan nilai rasa karena dipengaruhi oleh cara masyarakat menggunakannya.
Baca Juga: Emangnya Emoji Bisa Bohong? Ini Penjelasan Ilmiahnya
Salah satu contohnya adalah kata halu. Awalnya, kata ini merupakan singkatan dari "halusinasi" yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti pengalaman merasakan sesuatu yang sebenarnya tidak ada.
Namun, di media sosial, makna halu bergeser menjadi sebutan bagi seseorang yang terlalu banyak berkhayal atau memiliki angan-angan yang dianggap berlebihan. Kalimat seperti "Jangan halu dulu, dia belum tentu suka sama kamu" kini lebih sering terdengar dibandingkan penggunaan makna medisnya.
Baca Juga: Pernah Tiba-Tiba Yakin Sesuatu? Ternyata Itu Disebut Intuitive Thought
Perubahan serupa juga terjadi pada kata baper. Kata ini merupakan singkatan dari "bawa perasaan". Awalnya, ungkapan tersebut digunakan untuk menggambarkan seseorang yang terlalu memasukkan urusan pribadi ke dalam suatu situasi. Kini, baper lebih luas digunakan untuk menyebut orang yang mudah tersinggung, terlalu sensitif, atau terlalu serius menanggapi candaan.
Contoh lain adalah kata julid. Menurut KBBI, julid berarti iri dan dengki dengan keberuntungan orang lain. Namun, dalam percakapan di media sosial, kata ini lebih sering dipakai untuk menyebut orang yang gemar memberikan komentar sinis, pedas, atau suka mencibir. Akibatnya, makna julid kini tidak lagi hanya berkaitan dengan rasa iri, tetapi juga perilaku seseorang saat berkomentar.
Baca Juga: Sering Sulit Fokus atau Mudah Lupa? Kenali Fenomena Brain Fog
Istilah viral juga mengalami perluasan makna. Dalam bidang kesehatan, kata viral berkaitan dengan virus atau sesuatu yang disebabkan oleh virus. Namun, di era internet, kata ini berubah menjadi istilah untuk menyebut konten, video, atau informasi yang menyebar dengan sangat cepat dan menarik perhatian banyak orang. Kini, ketika seseorang mengatakan sebuah video "viral", hampir tidak ada lagi yang mengaitkannya dengan dunia medis.
Begitu pula dengan kata toxic. Dalam bahasa Inggris, toxic berarti beracun. Namun, penggunaan di media sosial telah memperluas maknanya menjadi sifat, hubungan, atau lingkungan yang memberikan dampak buruk secara emosional maupun psikologis. Istilah seperti toxic relationship atau lingkungan toxic kini jauh lebih sering ditemui dibandingkan penggunaan makna harfiahnya.
Baca Juga: Kok Emoji Bisa Membuat Chat Terasa Lebih Ramah? Ternyata Ada Penjelasannya
Sementara itu, kata flexing sebenarnya berasal dari bahasa Inggris to flex, yang secara harfiah berarti melenturkan atau mengencangkan otot. Dalam budaya internet, maknanya bergeser menjadi tindakan memamerkan kekayaan, pencapaian, atau gaya hidup demi memperoleh pengakuan dari orang lain. Istilah ini kemudian diadopsi ke dalam percakapan masyarakat Indonesia dan menjadi bagian dari kosakata gaul sehari-hari.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa makna kata tidak hanya dibentuk oleh kamus, tetapi juga oleh para penuturnya. Dalam linguistik, kamus berfungsi mendokumentasikan penggunaan bahasa yang telah berkembang di masyarakat. Karena itu, ketika suatu kata digunakan secara konsisten dengan makna baru dalam jangka waktu tertentu, bukan tidak mungkin perubahan tersebut akan ikut tercatat dalam perkembangan bahasa.
Perubahan makna bukanlah tanda bahwa bahasa mengalami kerusakan. Sebaliknya, hal itu menjadi bukti bahwa bahasa mampu beradaptasi dengan kebutuhan komunikasi masyarakat. Media sosial mempercepat proses tersebut karena jutaan orang menggunakan dan menyebarkan kata-kata baru setiap hari.
Itulah sebabnya bahasa selalu terasa hidup. Kata yang hari ini memiliki satu makna, beberapa tahun kemudian bisa saja dipahami dengan cara yang berbeda. Selama masyarakat terus berkomunikasi dan menciptakan cara baru untuk mengekspresikan diri, perjalanan makna sebuah kata pun akan terus berkembang mengikuti zamannya.
Editor : Kabun Triyatno