RADARSOLO.COM - Perkembangan teknologi digital menjadi tantangan baru dalam pola pengasuhan anak.
Bertepatan dengan peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2026, Dosen Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PG-PAUD) UMS Junita Dwi Wardhani mengingatkan pentingnya pendampingan orang tua.
Harapannya, anak tidak mengalami ketergantungan terhadap gadget.
Menurut Junita, generasi alpha tumbuh berdampingan dengan teknologi sehingga gadget kini tidak lagi hanya dimanfaatkan sebagai alat bantu, tetapi telah menjadi bagian dari kebutuhan sehari-hari anak.
Baca Juga: Peringati Hari Anak Nasional, Ajak Murid SD Melipat Baju Dan Main Dolanan Tradisional
Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi perkembangan emosi apabila penggunaannya tidak dibarengi pendampingan dari orang tua.
"Adanya teknologi yang berkembang pesat dan mudah dijangkau oleh anak, dapat memengaruhi emosi generasi saat ini," ujarnya, Kamis (23/7).
Dia menjelaskan, anak usia dini belajar melalui kemampuan sensorik dan motorik, yakni dengan bermain dan berinteraksi langsung dengan orang lain.
Sementara teknologi cenderung menghadirkan komunikasi satu arah sehingga pengalaman belajar alami anak menjadi berkurang.
Baca Juga: 10 Link Twibbon Hari Anak Nasional 2026 Terbaru Gratis, Cocok Dipakai pada 23 Juli
"Seorang anak jika berinteraksi dengan orang lain secara langsung akan menjadikan perasaan mereka lebih baik, karena interaksi secara langsung tidak bersifat satu arah saja, anak akan mendapat proses pemahaman alamiah lewat proses inderawi yang lebih kompleks," katanya.
Junita menilai, pembatasan penggunaan gadget perlu disertai kesepakatan antara orang tua dan anak agar anak memahami batas waktu penggunaan gawai sekaligus mampu mengendalikan emosinya.
"Perlunya kesepakatan antara anak dan orang tua dalam memberikan anak kesempatan bermain gadget, agar ada batasan-batasan yang tidak dilanggar dan tidak menjadikan anak cepat tantrum," tegasnya.
Selain membatasi penggunaan gadget, orang tua juga didorong mengajak anak bermain melalui aktivitas yang melatih kemampuan sensorik dan motorik.
Menurutnya, anak usia dini berada pada fase golden age sehingga pembentukan karakter dan pola pikir akan lebih optimal melalui pengalaman langsung dibandingkan hanya berinteraksi dengan layar.
Dia menekankan, pentingnya sinergi antara orang tua dan guru dalam membentuk karakter anak.
Menurutnya, anak yang mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari keluarga akan lebih nyaman berkomunikasi dengan orang tua sehingga tidak mencari pelampiasan pada gadget.
"Anak yang mendapat kasih sayang dan perhatian lebih menjadikan anak merasa nyaman dalam menceritakan dan menggali informasi pada orang terdekatnya di keluarga, terutama kepada orang tuanya, sehingga dirasa tidak perlu mencari tempat pelampiasan lain," tuturnya. (alf/bun)
Editor : fery ardi susantoSumber : Radar Solo