RADARSOLO.COM – Belakangan ini, semakin banyak kata baru yang muncul dalam percakapan sehari-hari maupun media sosial. Sebut saja flexing, healing, swafoto, hingga gim. Tidak sedikit pula masyarakat yang bertanya-tanya, bagaimana sebuah kata bisa masuk ke Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)? Apakah cukup karena viral atau sering digunakan oleh warganet?
Jawabannya, tidak sesederhana itu. Masuknya sebuah kata ke dalam KBBI bukan ditentukan oleh popularitas semata, melainkan melalui proses pengamatan, pengkajian, dan penyuntingan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.
KBBI merupakan kamus umum bahasa Indonesia yang berfungsi mendokumentasikan kosakata yang digunakan oleh masyarakat. Karena bahasa terus berkembang, isi KBBI juga selalu diperbarui agar dapat mencerminkan perkembangan tersebut.
Baca Juga: Masih Sering Tertukar, "Absen" atau "Presensi"? Ini Perbedaan Maknanya Menurut KBBI
Itulah sebabnya setiap beberapa waktu muncul penambahan entri baru, baik berupa kata asli bahasa Indonesia, istilah baru, maupun kata serapan dari bahasa asing dan bahasa daerah.
Namun, tidak semua kata yang sedang ramai langsung masuk ke dalam kamus. Sebelum dicantumkan sebagai entri, sebuah kata harus memenuhi sejumlah pertimbangan. Salah satunya adalah frekuensi penggunaan. Kata tersebut perlu benar-benar digunakan oleh masyarakat dalam berbagai konteks, bukan sekadar menjadi tren sesaat yang kemudian menghilang.
Baca Juga: MPLS Dulu Disebut MOS, Kok Berubah?
Selain frekuensi, penyusun kamus juga memperhatikan kestabilan makna sebuah kata. Ketika suatu kata masih memiliki arti yang berubah-ubah atau belum digunakan secara konsisten, biasanya kata tersebut belum dimasukkan ke dalam KBBI. Sebaliknya, jika maknanya sudah relatif mapan dan dipahami secara luas, peluangnya untuk didokumentasikan menjadi lebih besar.
Asal-usul kata juga menjadi pertimbangan penting. Banyak kosakata baru yang berasal dari bahasa daerah maupun bahasa asing.
Jika kata tersebut digunakan secara luas oleh penutur bahasa Indonesia dan dianggap memiliki fungsi yang jelas dalam komunikasi, kata itu dapat dipertimbangkan untuk menjadi bagian dari kosakata bahasa Indonesia.
Baca Juga: Emoji Juga Punya Tren, Lho! Kok Ada yang Mendadak Dipakai Semua Orang?
Contohnya adalah swafoto, yang dipilih sebagai padanan untuk kata selfie. Ada pula gim sebagai bentuk baku dari game, serta daring dan luring yang menjadi padanan untuk online dan offline.
Kehadiran kata-kata tersebut menunjukkan bahwa perkembangan bahasa tidak selalu berarti mengambil bentuk asli dari bahasa asing, tetapi juga dapat melahirkan padanan baru yang sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia.
Masyarakat pun dapat ikut berkontribusi dalam perkembangan kosakata. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa menyediakan laman KBBI Daring serta aplikasi Sibakulin (Sistem Informasi Bahasa dan Kamus Linguistik) yang memungkinkan masyarakat mengusulkan kata baru atau melaporkan kosakata yang belum tercatat. Usulan tersebut kemudian akan dikaji oleh para penyusun kamus sebelum diputuskan apakah layak dimasukkan sebagai entri atau tidak.
Proses ini menunjukkan bahwa KBBI bukanlah lembaga yang "menciptakan" kata-kata baru. Sebaliknya, kamus berfungsi mencatat kata yang telah hidup dan digunakan oleh masyarakat. Dengan kata lain, penuturlah yang lebih dahulu menggunakan bahasa, sementara kamus mendokumentasikan perkembangan tersebut berdasarkan hasil kajian ilmiah.
Karena itu, tidak semua kata yang viral akan otomatis menjadi bagian dari KBBI. Banyak istilah yang hanya populer dalam waktu singkat lalu menghilang seiring bergantinya tren. Sebaliknya, ada pula kata yang awalnya terdengar asing, tetapi kemudian digunakan secara konsisten hingga akhirnya diakui sebagai bagian dari kosakata bahasa Indonesia.
Perjalanan sebuah kata menuju KBBI memperlihatkan bahwa bahasa adalah sesuatu yang terus bergerak. Kamus bukan sekadar daftar kata, melainkan rekaman perjalanan bahasa Indonesia yang selalu berkembang mengikuti kebutuhan masyarakat. Di balik setiap entri baru, terdapat proses panjang yang memastikan bahwa kata tersebut benar-benar hidup, dipahami, dan memiliki tempat dalam komunikasi sehari-hari.
Editor : Kabun Triyatno