RADARSOLO.COM – Memasuki tahun ajaran baru, pelajar dan mahasiswa kembali disibukkan dengan berbagai aktivitas sekolah maupun perkuliahan. Mulai dari melihat rapor, masuk kelas, mengikuti praktikum, hingga berkuliah di fakultas tertentu. Menariknya, banyak istilah yang akrab digunakan dalam dunia pendidikan ternyata memiliki jejak sejarah yang panjang.
Tanpa banyak disadari, sejumlah kosakata yang digunakan setiap hari merupakan kata serapan dari bahasa Belanda.
Hal ini tidak terlepas dari sejarah Indonesia yang pernah berada di bawah pemerintahan kolonial Belanda selama ratusan tahun. Sistem pendidikan modern yang berkembang pada masa itu turut membawa berbagai istilah yang kemudian diserap ke dalam bahasa Indonesia dan masih digunakan hingga sekarang.
Baca Juga: Jangan Mudah Emosi di Kolom Komentar, Bisa Jadi Anda Sedang Terjebak Rage Bait
Salah satu contohnya adalah rapor, yang berasal dari kata Belanda rapport. Dahulu, kata tersebut digunakan untuk merujuk pada laporan atau catatan mengenai hasil belajar siswa. Hingga kini, istilah rapor tetap dipakai sebagai dokumen yang memuat hasil belajar peserta didik di sekolah.
Istilah lain yang tak kalah akrab adalah kelas, yang berasal dari bahasa Belanda klas. Kata ini merujuk pada kelompok belajar siswa berdasarkan jenjang atau tingkat tertentu. Meski sederhana, kata "kelas" telah menjadi bagian tak terpisahkan dari dunia pendidikan Indonesia.
Bagi mahasiswa, istilah seperti fakultas dan laboratorium juga bukanlah hal asing. Kata faculteit dalam bahasa Belanda kemudian diserap menjadi fakultas, sedangkan laboratorium masuk melalui bahasa Belanda sebelum akhirnya menjadi bentuk baku dalam bahasa Indonesia. Demikian pula dengan praktikum, yang berasal dari kata practicum melalui penggunaan dalam sistem pendidikan Belanda dan hingga kini digunakan untuk menyebut kegiatan praktik dalam proses pembelajaran.
Baca Juga: Dulu Ramai Dipakai, Sekarang Nyaris Hilang. Ke Mana Perginya Kata-Kata Yang Sempat Gaul?
Tak hanya itu, kata dosen juga memiliki sejarah menarik. Istilah ini berasal dari bahasa Belanda docent, yang berarti pengajar di perguruan tinggi. Setelah diserap ke dalam bahasa Indonesia, maknanya tetap dipertahankan dan kini digunakan secara luas untuk menyebut tenaga pendidik di universitas.
Keberadaan kata-kata tersebut menunjukkan bahwa bahasa selalu berkembang mengikuti perjalanan sejarah. Ketika suatu masyarakat mengenal sistem, ilmu, atau teknologi baru, tidak jarang mereka juga menyerap kosakata dari bahasa yang membawanya. Dalam ilmu linguistik, proses ini dikenal sebagai penyerapan atau peminjaman kata.
Baca Juga: Mengapa Banyak Orang Kini Mengobrol dengan AI?
Meski berasal dari bahasa asing, kata-kata tersebut kini telah menjadi bagian dari kosakata bahasa Indonesia.
Ejaannya telah disesuaikan, pengucapannya mengikuti kaidah bahasa Indonesia, bahkan banyak orang tidak lagi menyadari asal-usulnya. Hal itu menunjukkan bahwa bahasa bersifat dinamis dan terus beradaptasi dengan kebutuhan masyarakat penuturnya.
Bahasa Indonesia sendiri memiliki ribuan kata serapan dari berbagai bahasa, seperti Sanskerta, Arab, Portugis, Belanda, hingga Inggris.
Di antara semuanya, pengaruh bahasa Belanda tergolong besar, terutama pada bidang administrasi, hukum, teknik, dan pendidikan. Hal tersebut merupakan warisan sejarah yang masih dapat dijumpai dalam kehidupan sehari-hari.
Jadi, saat mendengar atau mengucapkan kata rapor, dosen, kelas, laboratorium, atau fakultas, sebenarnya kita sedang menggunakan kosakata yang telah melewati perjalanan panjang lintas zaman.
Meskipun berasal dari bahasa Belanda, kata-kata itu kini telah menjadi bagian dari identitas bahasa Indonesia dan terus digunakan oleh jutaan pelajar serta mahasiswa di seluruh negeri.
Editor : Kabun Triyatno