‘Partikel’ Kecil Ini Ternyata Punya Fungsi Penting dalam Bahasa Indonesia

Inayah Choirunisa • Dipublikasikan Sabtu, 1 Agustus 2026 | 08:15 WIB
Partikel seperti kok, sih, dong, deh, kan, nih, dan tuh punya peran penting dalam bahasa Indonesia. Meski kecil, partikel ini memberi penekanan, ekspresi emosi, dan suasana alami dalam komunikasi sehari-hari.
Partikel seperti kok, sih, dong, deh, kan, nih, dan tuh punya peran penting dalam bahasa Indonesia. Meski kecil, partikel ini memberi penekanan, ekspresi emosi, dan suasana alami dalam komunikasi sehari-hari.

RADARSOLO.COM – Pernah mengirim pesan seperti "Serius, sih?", "Cepetan, dong!", atau "Kok bisa begitu?" Sekilas, kata-kata seperti kok, sih, dong, deh, kan, nih, dan tuh tampak sederhana. Bahkan, jika dihilangkan, sebuah kalimat umumnya masih dapat dipahami. Namun, dalam ilmu linguistik, kata-kata kecil tersebut justru memiliki peran penting dalam membangun makna dan nuansa percakapan.

Kata-kata seperti ini dikenal sebagai partikel. Berbeda dengan kata benda atau kata kerja yang memiliki makna leksikal yang jelas, partikel lebih berfungsi memberikan penekanan, menunjukkan sikap penutur, atau mengatur hubungan antara pembicara dan lawan bicara. Karena itulah, partikel sangat sering muncul dalam bahasa lisan maupun percakapan di media sosial.

Baca Juga: Emoji yang Sama Kok Berubah di HP Lain? Ternyata Ini Penyebabnya

Ambil contoh kata kok. Dalam kehidupan sehari-hari, kata ini kerap digunakan untuk mengungkapkan rasa heran atau mempertanyakan sesuatu. Kalimat "Kok kamu belum pulang?" terasa berbeda dibanding "Kamu belum pulang?" Meskipun sama-sama berupa pertanyaan, penggunaan "kok" menunjukkan adanya rasa terkejut atau ketidaksesuaian dengan harapan penutur.

Partikel sih juga memiliki fungsi yang menarik. Kata ini sering dipakai untuk memberikan penekanan atau memperjelas topik yang sedang dibicarakan. Misalnya pada kalimat, "Dia sih memang rajin." Kehadiran "sih" membuat pernyataan tersebut terasa lebih menonjolkan orang yang sedang dibahas. Dalam konteks lain, "sih" juga dapat memperhalus pertanyaan, seperti dalam kalimat, "Maunya sih bagaimana?"

Sementara itu, dong umumnya digunakan ketika penutur ingin mengharapkan respons atau persetujuan dari lawan bicara. Kalimat "Bantu aku, dong" terdengar lebih akrab dibandingkan "Bantu aku." Partikel ini membuat permintaan terasa lebih halus sekaligus lebih persuasif.

Baca Juga: Pemerintah Siapkan Aturan Hak Cipta untuk Era AI, Apa Dampaknya bagi Kreator?

Ada pula partikel deh, yang sering digunakan untuk memberi kesan santai, menyudahi pembicaraan, atau menunjukkan keputusan. Contohnya, "Aku pulang dulu, deh," atau "Yang ini saja, deh." Kehadiran "deh" membuat kalimat terasa lebih ringan dan tidak kaku.

Partikel kan memiliki fungsi mengingatkan atau menegaskan sesuatu yang dianggap sudah diketahui bersama. Misalnya dalam kalimat, "Kan aku sudah bilang." Kata "kan" mengisyaratkan bahwa informasi tersebut sebenarnya bukan hal baru bagi lawan bicara.

Sementara itu, nih dan tuh biasanya digunakan untuk menunjuk sesuatu atau menarik perhatian. Kalimat "Nih bukunya" atau "Tuh, dia sudah datang" terasa lebih alami dalam percakapan sehari-hari dibandingkan jika partikel tersebut dihilangkan.

Menariknya, sebagian besar partikel ini sulit diterjemahkan secara langsung ke dalam bahasa lain.

Jika diterjemahkan kata per kata ke bahasa Inggris, misalnya, makna utamanya sering kali hilang. Hal itu terjadi karena fungsi partikel lebih berkaitan dengan konteks, hubungan antarpembicara, dan nuansa percakapan daripada makna leksikal sebuah kata.

Dalam kajian pragmatik, partikel-partikel tersebut membantu penutur menyampaikan sikap, emosi, hingga maksud tertentu tanpa harus menambah kalimat panjang. Itulah sebabnya bahasa Indonesia terdengar lebih hidup ketika digunakan dalam percakapan sehari-hari dibandingkan jika seluruh partikel dihilangkan.

Meski ukurannya kecil dan sering luput dari perhatian, kata-kata seperti kok, sih, dong, deh, kan, nih, dan tuh ternyata memiliki peran besar dalam komunikasi. Kehadirannya membuat percakapan terasa lebih alami, lebih ekspresif, dan lebih dekat dengan cara masyarakat Indonesia berbicara sehari-hari.

Editor : Kabun Triyatno
pragmatik leksikal ekspresif bahasa Partikel