RADARSOLO.COM – Bulan Agustus selalu menjadi momen datangnya ribuan mahasiswa baru ke Solo. Selain mencari kos, mengenal kampus, atau berburu tempat makan murah, ada satu hal yang sering membuat mahasiswa perantau sedikit bingung: bahasa Jawa.
Banyak yang sudah hafal mengucapkan "monggo", "matur nuwun", atau "nuwun sewu". Namun, yang sering belum diketahui adalah bahasa Jawa memiliki tingkatan tutur yang digunakan sesuai dengan lawan bicara dan situasi.
Tenang, kamu tidak harus langsung fasih. Memahami dasar-dasarnya saja sudah bisa membantumu beradaptasi dengan lingkungan baru.
Baca Juga: Kapan Kuliner Nusantara Bisa Punya Emoji Sendiri di Keyboard?
Tidak Semua Orang Diajak Bicara dengan Cara yang Sama
Dalam bahasa Jawa, ada beberapa ragam tutur yang umum digunakan, yaitu ngoko, madya, dan krama. Selain itu, ada pula krama inggil, yaitu kosakata penghormatan yang biasanya dipakai dalam ragam krama untuk menunjukkan rasa hormat kepada lawan bicara.
Ngoko digunakan dalam suasana akrab, misalnya dengan teman sebaya atau saudara dekat. Sementara itu, krama lebih sering dipakai ketika berbicara dengan orang yang lebih tua, dosen, tetangga yang baru dikenal, atau orang yang ingin dihormati.
Karena itu, jangan heran jika kamu mendengar dua orang Jawa berbicara dengan gaya bahasa yang berbeda, padahal topik yang dibahas sama.
Belajar dari Lingkungan Sekitar
Cara paling mudah mempelajari tingkatan bahasa Jawa bukan dari buku, melainkan dari kehidupan sehari-hari.
Perhatikan bagaimana teman kos berbicara kepada orang tua mereka, bagaimana mahasiswa menyapa dosen, atau bagaimana pembeli berbicara kepada pedagang di pasar.
Dari situ, kamu akan mulai memahami kapan harus menggunakan bahasa yang santai dan kapan perlu memilih tutur yang lebih sopan.
Tidak sedikit mahasiswa perantau yang akhirnya bisa memahami bahasa Jawa hanya karena terbiasa mendengarnya setiap hari, meski tetap menjawab menggunakan bahasa Indonesia.
Bahasa Adalah Bentuk Menghargai Budaya
Beradaptasi di kota baru bukan berarti harus meninggalkan bahasa daerah atau bahasa ibu sendiri. Namun, mengenal sedikit bahasa lokal bisa menjadi cara sederhana untuk membangun kedekatan dengan masyarakat sekitar.
Lagi pula, orang Jawa umumnya tidak menuntut pendatang langsung mahir menggunakan ngoko atau krama. Mereka lebih menghargai niat baik untuk belajar dan menghormati budaya setempat.
Jadi, kalau sebentar lagi kamu mulai kuliah di Solo, tidak perlu khawatir jika belum bisa berbahasa Jawa.
Cukup mulai dari sapaan sederhana, biasakan mendengar percakapan di sekitarmu, dan jangan ragu bertanya ketika belum paham. Siapa tahu, beberapa bulan kemudian kamu sudah bisa ikut ngobrol santai dengan teman-teman barumu tanpa merasa canggung.
Editor : Kabun Triyatno