RADARSOLO.COM – Kalau pernah belajar bahasa Jawa, kamu mungkin menyadari satu hal yang cukup menantang. Saat berbicara dengan teman sebaya, bahasa yang digunakan bisa berbeda ketika berbicara dengan orang tua atau dosen.
Dalam bahasa Jawa dikenal ragam tutur seperti ngoko, madya, dan krama, yang digunakan sesuai dengan hubungan sosial dan situasi. Hal ini sering membuat orang bertanya, mengapa bahasa Indonesia tidak memiliki sistem seperti itu?
Jawabannya sederhana: cara kedua bahasa menunjukkan kesopanan memang berbeda.
Baca Juga: Emoji Juga Punya Tren, Lho! Kok Ada yang Mendadak Dipakai Semua Orang?
Bahasa Jawa Punya Tingkatan, Bahasa Indonesia Punya Pilihan Kata
Dalam bahasa Jawa, tingkat kesopanan sudah menjadi bagian dari sistem bahasanya. Pilihan kosakata bisa berubah tergantung kepada siapa seseorang berbicara.
Sebaliknya, bahasa Indonesia tidak mengenal tingkatan tutur seperti itu. Kata "makan", misalnya, tetap "makan", baik saat berbicara kepada teman, dosen, maupun orang tua.
Namun, bukan berarti bahasa Indonesia tidak memiliki cara untuk menunjukkan rasa hormat.
Baca Juga: Kok Emoji Bisa Jadi "Word of the Year"? Ternyata Pernah Mengalahkan Kata-Kata
Kesopanan dalam bahasa Indonesia justru lebih banyak dibangun melalui pilihan kata, sapaan, dan cara menyampaikan kalimat.
Kesopanan Ada pada Cara Bertutur
Perhatikan dua kalimat berikut.
"Pinjam buku." dan "Boleh saya pinjam bukunya, ya?"
Keduanya memiliki maksud yang sama, tetapi memberikan kesan yang berbeda.
Begitu pula ketika seseorang mengatakan, "Tutup pintunya," dibandingkan dengan "Tolong tutup pintunya, ya."
Penambahan kata seperti tolong, mohon, silakan, atau maaf membuat tuturan terdengar lebih sopan tanpa perlu mengubah struktur bahasa secara keseluruhan.
Hal ini menunjukkan bahwa bahasa Indonesia lebih mengandalkan strategi bertutur daripada tingkatan bahasa.
Sapaan Juga Menentukan
Selain pilihan kata, kesopanan dalam bahasa Indonesia juga terlihat dari penggunaan sapaan.
Kita terbiasa memanggil orang dengan sebutan Bapak, Ibu, Mas, Mbak, Kak, atau Pakde, meskipun tidak memiliki hubungan keluarga.
Sapaan-sapaan tersebut membantu menunjukkan rasa hormat sekaligus menciptakan suasana yang lebih akrab.
Karena itu, meskipun bahasa Indonesia tidak memiliki ngoko atau krama, penutur tetap bisa membedakan cara berbicara kepada teman, dosen, atasan, maupun orang yang baru dikenal.
Intonasi Tak Kalah Penting
Kesopanan juga dipengaruhi oleh intonasi.
Kalimat "Silakan duduk" bisa terdengar ramah ketika diucapkan dengan nada yang hangat. Sebaliknya, kalimat yang sama bisa terasa kurang menyenangkan jika diucapkan dengan nada datar atau tinggi.
Artinya, dalam bahasa Indonesia, makna tidak hanya dibentuk oleh kata-kata, tetapi juga oleh cara kata-kata itu diucapkan.
Inilah yang membuat kemampuan berkomunikasi bukan sekadar soal memilih kosakata yang benar, melainkan juga memahami konteks dan situasi.
Sama-Sama Sopan, Hanya Caranya Berbeda
Baik bahasa Jawa maupun bahasa Indonesia sama-sama memiliki cara untuk menunjukkan rasa hormat kepada orang lain. Perbedaannya terletak pada sistem yang digunakan.
Bahasa Jawa mengatur kesopanan melalui tingkatan tutur yang tercermin dalam pilihan kosakata. Sementara itu, bahasa Indonesia lebih mengandalkan sapaan, pilihan diksi, ungkapan seperti "tolong" atau "mohon", serta intonasi saat berbicara.
Perbedaan ini menunjukkan bahwa setiap bahasa memiliki caranya sendiri dalam membangun hubungan sosial. Tidak ada yang lebih baik atau lebih sopan. Yang ada hanyalah cara yang berbeda dalam menyampaikan penghormatan kepada lawan bicara.
Editor : Kabun Triyatno