
RADARSOLO.COM – Penanganan stunting tidak cukup hanya mengandalkan pemberian makanan bergizi. Stimulasi perkembangan motorik anak juga menjadi kunci agar balita dapat tumbuh sehat dan berkembang optimal. Pendekatan inilah yang diterapkan Jurusan Kebidanan Poltekkes Kemenkes Surakarta melalui program pengabdian masyarakat di Desa Bakungan, Kecamatan Karangdowo, Klaten.
Selama 1–29 Agustus 2026, tim dosen Jurusan Kebidanan Poltekkes Kemenkes Surakarta bersama mahasiswa menggelar pelatihan pembuatan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) berbahan nugget daging yang kaya protein hewani, sekaligus memberikan pendampingan stimulasi motorik kasar dan halus bagi balita stunting, maupun balita gizi kurang usia 1–5 tahun. Edukasi dilakukan menggunakan berbagai alat permainan edukatif agar orang tua dan kader kesehatan mampu menerapkannya secara mandiri di lingkungan posyandu.
Kegiatan dipimpin dosen Jurusan Kebidanan Poltekkes Kemenkes Surakarta Eni Sulastri SST M.Keb dan Siti Yulaikah S.Si.T M.Keb, berkolaborasi dengan praktisi gizi Anggalih Sarwo Utomo.
"Program ini merupakan bentuk komitmen perguruan tinggi dalam mendukung percepatan penurunan angka stunting melalui peningkatan pengetahuan dan keterampilan masyarakat," terang Eni Sulastri SST M.Keb, Kamis (6/8).
Kepala Puskesmas Karangdowo, dr. Fitriah Siti Aisyah mengapresiasi kegiatan tersebut. Menurutnya, pelatihan ini tidak hanya memberikan wawasan mengenai pemberian makanan tambahan tinggi protein, tetapi juga membekali para ibu dengan keterampilan melakukan stimulasi motorik yang sangat dibutuhkan pada masa emas pertumbuhan anak.
"Kami berharap kegiatan ini dapat meningkatkan keterampilan ibu dalam pemberian makanan tambahan kaya protein, sekaligus terampil melakukan stimulasi motorik kasar dan motorik halus sebagai upaya mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan balita, terutama balita stunting dan gizi kurang," ujar dr. Fitriah Siti Aisyah.
Sementara itu, Siti Yulaikah S.Si.T M.Keb menjelaskan, setidaknya 25 kader kesehatan mengikuti penyegaran materi sekaligus praktik langsung membuat nugget daging sebagai PMT tinggi protein. Mereka juga berlatih menggunakan alat permainan edukatif untuk merangsang perkembangan motorik balita.
"Sebagai bentuk keberlanjutan program, tim pengabdian menyerahkan lima paket permainan edukatif kepada Pemerintah Desa Bakungan. Selanjutnya akan didistribusikan ke lima posyandu di desa tersebut," ungkap Siti Yulaikah S.Si.T, M.Keb.
Program tidak berhenti pada tahap pelatihan. Mulai 6 Agustus, tim dosen melakukan monitoring dan evaluasi di setiap posyandu untuk memastikan keterampilan kader benar-benar diterapkan dalam pendampingan keluarga. Evaluasi mencakup praktik pemberian PMT, stimulasi motorik, hingga pemantauan pertumbuhan dan perkembangan balita sebagai indikator keberhasilan program.
Salah seorang kader kesehatan Desa Bakungan, Suharni mengaku, mendapatkan banyak manfaat dari kegiatan tersebut. Menurutnya, ilmu yang diperoleh dapat langsung diterapkan dalam pelayanan posyandu, sehingga mampu membantu upaya pencegahan stunting di tingkat desa.
Melalui sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, puskesmas, kader kesehatan, dan masyarakat, Poltekkes Kemenkes Surakarta berharap kesadaran keluarga terhadap pentingnya asupan protein hewani dan stimulasi perkembangan anak semakin meningkat.
Upaya sederhana seperti pemberian PMT bergizi dan pendampingan tumbuh kembang yang dilakukan secara rutin diyakini mampu menjadi investasi penting dalam mencetak generasi yang sehat, cerdas, dan bebas stunting. (kwl/nik)
Editor : Niko auglandy