RADARSOLO.COM Limbah abu ampas tebu yang menumpuk di sekitar Pabrik Gula (PG) Mojo Sragen, dilirik sebagai peluang usaha bagi mahasiswa Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS).
Melalui inovasi Tebu Sustainable Concert Paving (Tescopave), tujuh mahasiswa lintas program studi (prodi) ini mengolah abu ampas tebu sebagai campuran pembuatan paving blok.
Tim Tescopave terdiri dari Sarah Amelia Azzahra, Ardita Ayu, Daffa Maulana, Galang A.R, Mufti Muammarul, Nadine Nafeesa, dan Reginald M.R.
Ketua tim Sarah Amelia Azzahra menjelaskan, ide pembuatan Tescopave berawal dari keinginan mengikuti lomba.
Baca Juga: Paskibraka Selalu Jadi Sorotan Saat 17 Agustus, Begini Awal Mula Pasukan Pengibar Bendera Indonesia
Meski sempat gagal di ajang pertama, mereka pantang menyerah. Riset terus dikembangkan, hingga akhirnya membuahkan hasil.
“Permasalahan limbah abu ampas tebu di Kabupaten Sragen cukup banyak. Akhirnya kami berpikir, bagaimana limbah itu bisa dimanfaatkan,” ujarnya, Jumat (7/8).
Dalam proses produksinya, abu ampas tebu dimanfaatkan sebagai campuran material paving blok bersama semen dan pasir, dengan perbandingan 1:1:4.
Menurut Sarah, kandungan silika abu ampas tebu membantu meningkatkan kekuatan tekanan paving.
Campuran ini mengurangi ketergantungan terhadap penggunaan pasir.
“Kami bisa buatkan paving sesuai request dari customer. Mutu kuat tekannya mulai dari K225, K250, hingga K300. Kami buat sesuai peruntukannya,” jelasnya.
Saat ini, Sarah dkk masih bermitra dengan pihak ketiga untuk memfasilitasi mesin pres paving.
Maklum, mereka sementara ini belum punya modal untuk membeli mesin tersebut.
Meski demikian, pembuatan paving blok abu ampas tebu ini butuh proses perawatan panjang.
Harus dijemur dan disiram selama 28 hari, untuk menghasilkan kuat tekan yang optimal.
Prosesnya tak berjalan dengan mudah. Sarah dkk sempat mengalami beberapa kendala.
Di antaranya menentukan komposisi yang pas sesuai kebutuhan klien.
Setelah jadi, diuji kuat tekannya di laboratorium UNS.
Jika hasil belum memenuhi standar, proses formulasi diulang hingga diperoleh kualitas yang diinginkan.
“Kami sempat ulangi prosesnya berkali-kali, sampai ketemu takaran yang pas,” imbuhnya.
Berkat kegigihan usahanya, saat ini Sarah dkk mampu memproduksi 30 meter persegi paving per hari.
Bahkan dalam kurun enam bulan terakhir, Tescopave mencatat penjualan dengan omzet kotor hampir Rp 100 juta.
“Paving K225 kami jual mulai Rp 70 ribu per blok. Alhamdulillah enam bulan ini sudah ada beberapa pesanan,” beber Sarah.
Selain mengembangkan usaha, Sarah dkk juga aktif mengikuti berbagai kompetisi. Mereka pernah juara II ajang Krenova 2026 Kabupaten Sukoharjo.
Saat ini, Tescopave juga ambil bagian dalam Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) tingkat nasional.
“Semoga dengan mengikuti berbagai kompetisi ini, uang yang didapatkan bisa dipakai untuk pengadaan mesin pres. Sehingga kapasitas produksinya lebih besar,” ujar Sarah. (alf/fer)
Editor : fery ardi susantoSumber : Radar Solo