Raih Gelar Profesor, Katno Hadi Dorong Pariwisata Solo Raya Terintegrasi: Destinasi Wisata harus Terhubung Berbagai Elemen

Antonius Christian • Dipublikasikan Minggu, 9 Agustus 2026 | 19:06 WIB
BANGGA: Prof. Dr. H. Katno Hadi dikukuhkan sebagai guru besar ASEAN University International (AUI) Malaysia pada 4 Agustus lalu. (ISTIMEWA)
BANGGA: Prof. Dr. H. Katno Hadi dikukuhkan sebagai guru besar ASEAN University International (AUI) Malaysia pada 4 Agustus lalu. (ISTIMEWA)

RADARSOLO.COM - Gelar profesor bukan menjadi titik akhir perjalanan akademik Prof. Dr. H. Katno Hadi. Justru, pengukuhan sebagai guru besar ASEAN University International (AUI) Malaysia pada 4 Agustus lalu menjadi tanggung jawab baru untuk terus mengembangkan ilmu, melakukan penelitian, sekaligus memberikan manfaat lebih luas kepada masyarakat.

Hal itu disampaikan Prof. Katno Hadi saat ditemui di Bandara Adi Sumarmo Minggu (9/8). Ketua Umum Senkom Mitra Polri tersebut mengatakan, status guru besar membawa sejumlah tanggung jawab akademik yang harus dijalankan. Mulai dari mengajar, membimbing mahasiswa, melakukan penelitian, menghasilkan publikasi ilmiah hingga melaksanakan pengabdian kepada masyarakat.

“Guru besar itu punya tujuh yang harus dijalankan. Termasuk sebagai dosen senior, kemudian membimbing, baik disertasi maupun tesis, mengembangkan riset yang nantinya masuk jurnal, dan tentunya pengabdian kepada masyarakat,” kata Katno.

Baca Juga: Diduga Intimidasi Warga yang Nongkrong, Tim Sparta Amankan Empat Orang

Menurutnya, tanggung jawab tersebut harus dijalankan secara serius. Terlebih bidang yang ditekuninya berkaitan dengan ekonomi dan bisnis yang dinilai memiliki ruang pengembangan sangat luas.

“Kalau dari sisi tugas memang ada tujuh tadi. Tinggal bagaimana menjalankannya. Karena saya mengambil ekonomi bisnis, tentunya harus betul-betul dikembangkan. Di samping itu secara pribadi dalam bisnis saya juga harus banyak belajar lagi. Intinya harus berguna bagi orang banyak,” ujarnya.

Baca Juga: 2 Link Siaran Langsung MotoGP Inggris 2026 Jam 19.00 Malam Ini, Nonton Gratis Live di TV Rumah

Pengukuhan tersebut dilakukan dalam rangkaian Official Graduation Ceremony Tahun Akademik 2025/2026 di Grand Hyatt Kuala Lumpur, Malaysia. Dalam kesempatan itu, Katno juga menyampaikan orasi ilmiah berjudul Integrated Tourism Economic Resilience Framework (ITERF): Paradigma Baru Kepariwisataan untuk Membangun Ketahanan Ekonomi dan Kesejahteraan Masyarakat Indonesia.

Gagasan tersebut bukan lahir secara tiba-tiba. Katno mengaku telah melakukan penelitian mengenai perkembangan pariwisata di kawasan Solo Raya sejak menempuh pendidikan doktoral.

Penelitiannya mencakup tujuh kabupaten/kota di Solo Raya. Bahkan, kajian tersebut turut melihat bagaimana sektor pariwisata bertahan dan berkembang ketika menghadapi pandemi Covid-19.

“Saya penelitian di Solo Raya. Di tujuh kabupaten/kota Solo Raya, termasuk ketika pandemi Covid-19. Ada destinasi yang di situ bisa hidup, ada yang mati. Itu sudah saya teliti sejak saya doktor, bukan baru sekarang,” jelasnya.

Dari penelitian tersebut, Katno melihat potensi besar pada konsep integrated tourism. Konsep ini tidak hanya berbicara mengenai destinasi wisata, tetapi menghubungkan berbagai sektor yang berada di sekitarnya.

Menurutnya, sebuah kawasan wisata idealnya tidak berdiri sendiri. Keberadaan destinasi harus terhubung dengan UMKM, hotel, kuliner, wisata edukasi, pusat oleh-oleh hingga berbagai fasilitas pendukung lainnya.

“Judul saya tentang integrated tourism. Bagaimana tourism itu dibangun, di situ UMKM ada, hotelnya ada, wisata edukasinya ada. Itu yang saya tawarkan,” katanya.

Katno menilai potensi pariwisata Solo Raya sebenarnya sangat besar. Persoalannya, destinasi yang ada saat ini masih cenderung berjalan sendiri-sendiri dan belum sepenuhnya terkoneksi dalam satu ekosistem perjalanan wisata.

Dia membayangkan wisatawan yang datang ke Solo tidak hanya berhenti di pusat kota. Mereka bisa diarahkan menikmati wisata budaya di Keraton Surakarta, kemudian melanjutkan perjalanan ke Tawangmangu, menikmati Grojogan Sewu, berwisata ke Kemuning, menikmati perkebunan teh, mencicipi kuliner hingga membeli oleh-oleh.

“Misalnya orang datang ke Solo, melihat Keraton Surakarta, kemudian ke Tawangmangu melihat Grojogan Sewu, ke Kemuning melihat kebun teh, kemudian kuliner dan tempat oleh-oleh. Semuanya terintegrasi,” paparnya.

Baca Juga: Buka Peluang Kolaborasi dengan Perusahaan Farmasi, Pemkot Solo Fokus Perkuat Layanan Kesehatan

Namun, kondisi tersebut menurutnya belum sepenuhnya terwujud. “Sekarang masih putus-putus. Orang datang ke Solo, kalau kuliner Solo oke, wisata budaya oke. Tapi ketika mau ke Tawangmangu atau pegunungan harus mencari shuttle sendiri. Belum terkoneksi dengan baik,” ungkapnya.

Karena itu, menurut Katno, diperlukan keberanian pemerintah untuk membuat kebijakan yang mampu menghubungkan berbagai destinasi tersebut. Tidak cukup hanya mengandalkan pelaku usaha swasta.

“Ini membutuhkan kebijakan pemerintah. Kalau dari sisi swasta sendiri membuat seperti itu agak sulit karena membutuhkan kolaborasi,” tegasnya.

Konsep serupa juga coba dia terapkan melalui sejumlah pengembangan kawasan wisata yang selama ini dibangunnya. Salah satunya di Gondangrejo dan kawasan De Tjolomadoe. Sejumlah fasilitas telah tersedia, Namun, masih ada sejumlah pekerjaan yang menurut Katno harus diselesaikan untuk memperkuat konsep kawasan wisata tersebut. Di antaranya pembangunan wahana waterboom, hotel, dan tempat konser terbuka.

“Masih ada tiga PR, yakni wahana waterboom, hotel, dan tempat konser. Saat ini memang sudah ada konser, tetapi belum dibuat konser terbuka yang nyaman bagi pengunjung,” katanya.

Sementara di kawasan Tawangmangu, pengembangan juga masih terus dilakukan. Ke depan, dia berencana menambah wahana permainan anak serta fasilitas kolam renang.

Bagi Katno, pengembangan tersebut menjadi contoh bahwa pariwisata tidak cukup hanya menghadirkan satu objek wisata. Kawasan harus dirancang agar wisatawan memiliki banyak alasan untuk tinggal lebih lama dan membelanjakan uangnya di sekitar destinasi.

Di tengah kesibukan akademik dan organisasi, Katno juga masih aktif menjalankan bisnis. Bahkan, salah satu perusahaan semen mortar miliknya di Klaten kini mengalami peningkatan produksi hingga mencapai over capacity.

“Produksi kami sudah over capacity. Sekarang bekerja 24 jam. Bahkan Minggu juga bekerja karena sistem shift tidak libur hari Minggu,” ungkapnya.

Tantangan berikutnya adalah memastikan pasokan bahan baku. Salah satu material yang saat ini menjadi persoalan adalah kalsit.

Menurut Katno, kebutuhan kalsit untuk menopang produksi mencapai sekitar lima truk tronton per hari. Karena itu, salah satu agenda bisnis yang ingin segera dieksekusi setelah pengukuhan guru besar adalah mengembangkan sumber pasokan kalsit.

“Bisnis pribadi yang segera saya eksekusi adalah membuat kalsit. Karena kami sangat kekurangan kalsit untuk perusahaan semen mortar. Kebutuhannya sekitar lima tronton per hari karena kami bekerja 24 jam,” jelasnya.

Kondisi tersebut membuatnya harus mulai memikirkan pengembangan bisnis secara vertikal, khususnya untuk menjamin ketersediaan bahan baku. “Pengembangannya bukan ke mana-mana, tetapi ke atas. Bagaimana supply kebutuhan bahan baku bisa teratasi,” ujarnya.

Selain industri bahan bangunan, Katno juga tengah mempersiapkan pengembangan peternakan sapi. Rencana tersebut diproyeksikan dimulai dalam skala sekira 200 ekor sebelum dikembangkan secara bertahap hingga mencapai target 2.000 ekor.

Dua wilayah yang menjadi pertimbangan adalah Karanganyar dan Wonogiri. Katno menilai keduanya memiliki potensi yang mendukung pengembangan peternakan.

“Di Karanganyar sudah ada tata kelolanya, bahkan plotting area untuk peternakan sudah ada. Wonogiri juga respons pemerintahnya luar biasa. Kami diberi peluang untuk bergerak seluas-luasnya, tinggal memilih lahan yang tepat,” katanya.

Rencana tersebut juga berkaitan dengan kebutuhan daging sapi yang cukup besar. Dia menyebut harga daging sapi saat ini sudah berada dikisaran Rp 155 ribu per kilogram.

Menjadi profesor sekaligus pebisnis dan pemimpin organisasi membuat aktivitas Katno semakin padat. Selain harus datang ke Malaysia setiap tiga hingga empat bulan untuk menjalankan kewajiban akademiknya, dia juga masih menjalankan aktivitas organisasi dan bisnis di Indonesia.

Menurut Katno, banyaknya aktivitas tidak harus dimaknai sebagai beban. Kuncinya adalah kemampuan membagi waktu antara keluarga, bisnis, kegiatan sosial, organisasi dan akademik. “Semua itu pasti repot. Tergantung bagaimana kita bisa membagi waktu. Ada waktu untuk keluarga, bisnis dan sosial,” katanya.

Dia juga mengaku mulai merasakan manfaat kaderisasi di lingkungan keluarga. Bisnis yang selama ini dibangun perlahan mulai dilanjutkan oleh anak-anaknya. “Anak-anak sudah saya kaderisasi. Kadang saya malah tidak punya pekerjaan karena sudah dijalankan anak-anak. Sekarang sudah era digitalisasi, sistem yang kita jalankan juga semakin memudahkan,” ujarnya sembari tersenyum.

Bagi Katno, keberhasilan bisnis dan jabatan akademik tidak boleh membuat seseorang lupa terhadap lingkungan sosial. Justru semakin tinggi posisi yang diraih, semakin besar pula tanggung jawab untuk memberikan manfaat. “Jangan hidup itu dipakai ego sendiri, mengurusi bisnis terus. Sisi sosial harus ada. Ibadah juga harus dikuatkan. Semua ada pertolongannya nanti,” pungkasnya. (atn/nik)

 

 

Editor : Niko auglandy
profesor pendidikan solo pariwisata