‎Dosen Kebidanan Poltekkes Surakarta Gelar Pengabdian Masyarakat, Ajarkan Inovasi Nuget Tempe Tingkatkan Gizi Balita

Alfida Nurcholisah • Dipublikasikan Minggu, 9 Agustus 2026 | 19:29 WIB
‎BERSINERGI: Dosen Kebidanan Poltekkes Surakarta bekerja sama dengan mahasiswa Teknologi Pangan Universitas Slamet Riyadi menggelar pengabdian kepada masyarakat di Posyandu Dahlia, Pucangsawit, Solo, Minggu (9/8). (‎ALFIDA NURCHOLISAH/RADAR SOLO)
‎BERSINERGI: Dosen Kebidanan Poltekkes Surakarta bekerja sama dengan mahasiswa Teknologi Pangan Universitas Slamet Riyadi menggelar pengabdian kepada masyarakat di Posyandu Dahlia, Pucangsawit, Solo, Minggu (9/8). (‎ALFIDA NURCHOLISAH/RADAR SOLO)

RADAR‎SOLO.COM - Pemenuhan gizi balita tidak selalu membutuhkan bahan makanan mahal. Kreativitas mengolah pangan lokal justru dapat menjadi cara untuk meningkatkan ketertarikan anak terhadap makanan bergizi. Hal tersebut menjadi perhatian dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Posyandu Dahlia, Pucangsawit, Solo, Minggu (9/8/2026).

‎Dosen Kebidanan Poltekkes Surakarta Endah Widhi Astuti mengatakan, kegiatan pengabdian masyarakat tersebut bekerja sama dengan mahasiswa Teknologi Pangan Universitas Slamet Riyadi. Kegiatan digelar setelah ditemukan sejumlah balita di Posyandu Dahlia yang mengalami berat badan tidak bertambah, bahkan menurun.

‎Menurut Endah, kondisi tersebut membutuhkan perhatian, terutama dari sisi pola pemberian makanan. Orang tua sebenarnya telah mengetahui berbagai sumber protein maupun sayuran yang baik untuk anak. Namun, tantangannya adalah bagaimana mengolah bahan tersebut agar anak tidak mudah bosan.

‎“Anak biasanya akan bosan kalau makanannya itu-itu saja. Misalnya hanya ayam goreng atau tempe goreng. Dengan bahan yang sama, kita bisa membuat inovasi supaya anak lebih tertarik untuk makan,” ujarnya.

‎INOVASI: Pelatihan ini mengolah bahan pangan lokal dan menjadi nugget berbahan tempe, ayam, dan sayuran.
‎INOVASI: Pelatihan ini mengolah bahan pangan lokal dan menjadi nugget berbahan tempe, ayam, dan sayuran.


‎Salah satu inovasi yang dikenalkan dalam kegiatan tersebut adalah mengolah bahan pangan lokal dan ekonomis menjadi makanan yang lebih menarik bagi anak. Di antaranya nugget berbahan tempe, ayam, dan sayuran.

‎Endah menilai tempe menjadi salah satu bahan yang mudah diperoleh masyarakat dengan harga relatif terjangkau. Karena itu, tempe dapat dimanfaatkan sebagai salah satu sumber protein dalam menu sehari-hari keluarga.

‎“Bahan-bahan ini mudah kita dapatkan. Setiap hari bisa kita masak dan harganya juga murah. Yang dibutuhkan adalah inovasi agar anak lebih tertarik dengan makanan tersebut,” jelasnya.

‎Ia menambahkan, pemenuhan gizi sejak usia balita penting dilakukan sebagai bagian dari upaya pencegahan stunting. Menurutnya, persoalan stunting tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah maupun tenaga kesehatan, tetapi membutuhkan kepedulian seluruh masyarakat.

‎“Ini perlu kita tangani sejak awal. Bukan hanya balita, ibu hamil dan remaja juga perlu mendapatkan edukasi. Kita ingin mencegah stunting mulai sejak dini,” katanya.

‎Endah berharap kegiatan tersebut tidak berhenti pada pelatihan. Para orang tua diharapkan semakin kreatif menyediakan makanan bergizi bagi anak dengan memanfaatkan bahan pangan yang mudah ditemukan di sekitar.

‎Ketua PKK RW 2 Pucangsawit, Jebres, Esti Dwi Wardayati menyambut positif kegiatan tersebut. Menurutnya, pelatihan memberikan manfaat bagi masyarakat, khususnya dalam meningkatkan pemahaman mengenai gizi dan kesehatan balita.

‎Dia menilai inovasi pengolahan makanan dapat menjadi salah satu cara meningkatkan daya tarik anak terhadap makanan bergizi. Terlebih, anak-anak saat ini cenderung tertarik dengan makanan cepat saji.

‎“Kalau biasanya anak tidak mau makan tempe, dengan dibuat nugget tempe dan ditambah sayur mungkin lebih menarik. Jadi makanan lebih bervariasi sekaligus bergizi,” tuturnya.

‎Esti berharap kegiatan serupa dapat terus dilakukan secara berkelanjutan. Edukasi tidak hanya menyasar balita, tetapi juga dapat dikembangkan untuk kelompok masyarakat lain, termasuk lansia. (alf/nik)

Editor : Niko auglandy
Poltekkes Surakarta