RADARSOLO.COM – Setiap menjelang 17 Agustus, rangkaian sejarah Proklamasi biasanya mengarah pada beberapa tanggal yang paling dikenal. Ada 6 dan 9 Agustus ketika bom atom dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki, 15 Agustus ketika Jepang menyerah kepada Sekutu, 16 Agustus ketika terjadi peristiwa Rengasdengklok, kemudian 17 Agustus ketika Proklamasi Kemerdekaan dibacakan.
Namun, di antara tanggal-tanggal tersebut terdapat 10 Agustus 1945, hari ketika kabar mengenai kekalahan Jepang mulai diketahui oleh kalangan pejuang Indonesia.
Informasi tersebut kemudian ikut mendorong perdebatan mengenai kapan dan bagaimana kemerdekaan Indonesia harus diproklamasikan.
Baca Juga: Kamera HP Makin Canggih, Kenapa Kamera Digital Jadul Malah Kembali Dicari?
Kabar Kekalahan Jepang Mulai Terdengar
Pada masa pendudukan Jepang, informasi mengenai perkembangan Perang Dunia II tidak mudah diperoleh masyarakat Indonesia. Radio-radio berada di bawah pengawasan Jepang sehingga kabar dari luar negeri tidak dapat diterima secara bebas.
Meski demikian, kelompok pergerakan dan pemuda tetap berusaha mengikuti perkembangan perang melalui berbagai sumber. Sejumlah kelompok bahkan memantau siaran luar negeri secara sembunyi-sembunyi.
Dari perkembangan itulah muncul kabar bahwa posisi Jepang semakin terdesak. Sejumlah sumber sejarah mencatat bahwa kalangan pemuda mengetahui Jepang telah menyerah kepada Sekutu sebelum berita tersebut diumumkan secara resmi oleh pemerintah Jepang. Informasi tersebut kemudian disampaikan kepada tokoh-tokoh pergerakan.
Baca Juga: Makin Sulit Dibedakan, Kenali Ciri Video AI agar Tak Mudah Terkecoh
Kabar tersebut menjadi penting karena membuka kemungkinan bahwa Jepang tidak lagi mampu melaksanakan janji memberikan kemerdekaan kepada Indonesia.
Mengapa Kabar Itu Begitu Penting?
Sebelumnya, Jepang memang membentuk berbagai badan dan menjanjikan kemerdekaan bagi Indonesia. Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia atau PPKI juga telah dibentuk dan memiliki tugas berkaitan dengan persiapan kemerdekaan.
Namun, bagi sebagian kelompok pemuda, kemerdekaan Indonesia tidak seharusnya bergantung pada keputusan Jepang.
Ketika kabar kekalahan Jepang mulai diketahui, muncul dorongan agar Indonesia segera menyatakan kemerdekaannya atas kehendak sendiri. Kelompok pemuda menginginkan Proklamasi dilakukan tanpa menunggu keputusan atau persetujuan pihak Jepang. Perbedaan pandangan inilah yang kemudian menjadi salah satu latar belakang ketegangan antara kelompok pemuda dan Soekarno-Hatta.
Dengan demikian, berita mengenai Jepang yang semakin dekat dengan kekalahan bukan sekadar kabar perang. Informasi tersebut memiliki dampak langsung terhadap situasi politik Indonesia.
Jepang Baru Resmi Menyerah pada 15 Agustus
Meski kabar kekalahan sudah diketahui lebih awal oleh sebagian kalangan, Jepang baru secara resmi menyatakan menyerah kepada Sekutu pada 15 Agustus 1945.
Perbedaan waktu antara kabar yang diterima para pejuang dan pengumuman resmi tersebut membuat situasi politik semakin tegang. Di satu sisi, para pemuda mendesak agar kemerdekaan segera diumumkan. Di sisi lain, Soekarno dan Hatta masih mempertimbangkan berbagai keadaan, termasuk kedudukan PPKI dan risiko yang mungkin muncul jika Proklamasi dilakukan secara terburu-buru.
Arsip sejarah mengenai Rengasdengklok mencatat bahwa setelah kabar penyerahan Jepang beredar, para pemuda semakin ingin agar Proklamasi dilakukan secepatnya dan tidak dikaitkan dengan Jepang. Ketegangan tersebut kemudian memuncak pada 16 Agustus ketika Soekarno dan Hatta dibawa ke Rengasdengklok oleh kelompok pemuda.
Baca Juga: Bukan Cuma Buat Kunci, Gantungan Kunci Kini Jadi Aksesori Favorit Gen Z
Hanya Seminggu Menuju Proklamasi
Jika dilihat dari urutannya, 10 Agustus berada tepat di tengah rangkaian peristiwa yang berlangsung sangat cepat.
Kabar kekalahan Jepang mulai diketahui, kemudian Jepang menyerah secara resmi pada 15 Agustus. Sehari setelahnya terjadi Rengasdengklok, dilanjutkan dengan perumusan teks Proklamasi pada malam hari. Pada pagi 17 Agustus 1945, Soekarno dan Hatta akhirnya membacakan Proklamasi di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56, Jakarta.
Karena itu, 10 Agustus dapat dilihat sebagai salah satu bagian dari rangkaian hari-hari genting sebelum Indonesia menyatakan kemerdekaannya.
Tanggal tersebut memang tidak sepopuler 17 Agustus atau 16 Agustus. Namun, dari kabar yang mulai terdengar pada hari itu, terlihat bahwa kemerdekaan Indonesia lahir melalui rangkaian keputusan dan perdebatan yang berlangsung dalam waktu sangat singkat.
Sebelum Merah Putih dikibarkan dan Proklamasi dibacakan, ada kabar-kabar yang lebih dulu bergerak dari satu kelompok ke kelompok lain. Salah satunya menjadi bagian penting dari hitung mundur menuju 17 Agustus 1945. (inayah choirunisa)
Editor : Kabun Triyatno