Tak Harus Mahal, MP-ASI Empat Bintang Jadi Jurus Cegah Stunting

Iwan Kawul • Dipublikasikan Rabu, 12 Agustus 2026 | 10:12 WIB
Acara ini juga bekerja sama dengan kader posyandu dan ibu balita di Desa Glodogan, Kecamatan Klaten Selatan. (IWAN KAWUL/RADAR SOLO)
Acara ini juga bekerja sama dengan kader posyandu dan ibu balita di Desa Glodogan, Kecamatan Klaten Selatan. (IWAN KAWUL/RADAR SOLO)

RADARSOLO.COM - Upaya mencegah stunting pada balita tidak cukup hanya mengandalkan pemantauan pertumbuhan di posyandu.

Pengetahuan keluarga dalam menyiapkan makanan bergizi juga menjadi bagian penting yang perlu diperkuat sejak dini.

Berangkat dari hal tersebut, kader posyandu dan ibu balita di Desa Glodogan, Kecamatan Klaten Selatan, mendapatkan pelatihan pembuatan Makanan Pendamping ASI (MP-ASI).

Salah satu materi yang menjadi perhatian adalah penyusunan menu MP-ASI dengan konsep empat bintang.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan dosen Jurusan Kebidanan Poltekkes Kemenkes Surakarta Rohmi Handayani, S.Si.T., Bdn., M.Keb. dan Anik Kurniawati, S.Si.T., Bdn., M.Keb., bekerja sama dengan Bidan Desa Glodogan Sumiyem, Amd.Keb.

Kegiatan dilaksanakan pada 1 Juli hingga 29 Agustus 2026 dan diikuti kader Posyandu serta ibu balita.

Pelatihan tidak hanya memberikan pemahaman secara teori, tetapi juga mengajak peserta menyusun hingga mempraktikkan pembuatan MP-ASI secara langsung.

Rohmi Handayani mengatakan, pemberian MP-ASI merupakan bagian penting dalam memenuhi kebutuhan gizi bayi setelah memasuki usia enam bulan.

Pada fase tersebut, kebutuhan gizi anak mulai meningkat sehingga tidak lagi cukup hanya dipenuhi melalui ASI.

Karena itu, menurut dia, orang tua perlu memperhatikan kualitas makanan yang diberikan kepada anak.

MP-ASI harus disiapkan dengan memperhatikan keragaman bahan, kecukupan gizi, tekstur, serta cara pemberian yang sesuai dengan usia dan perkembangan anak.

"Pemberian MP-ASI tidak sekadar bertujuan membuat anak kenyang. Kualitas makanan, keragaman bahan, kecukupan gizi, serta kesesuaian tekstur dan cara pemberian dengan usia anak perlu diperhatikan," ujar Rohmi.

Tim dosen yang lain, Anik Kurniawati menjelaskan, salah satu materi utama yang diberikan kepada peserta adalah penyusunan menu MP-ASI dengan konsep empat bintang.

Konsep tersebut mengajak keluarga mengombinasikan beberapa kelompok bahan makanan dalam satu menu sehingga makanan anak menjadi lebih beragam.

Kelompok makanan tersebut terdiri atas makanan pokok sebagai sumber energi, protein hewani, protein nabati, serta sayur dan buah.

Menurut Anik, keberagaman bahan makanan menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan ketika orang tua menyiapkan makanan untuk bayi dan balita.

Peserta juga diberikan materi mengenai pola pemberian makan berdasarkan tahapan usia, mulai bayi 6-9 bulan, 9-12 bulan, hingga anak usia 12-24 bulan.

Tidak hanya soal bahan, tekstur makanan juga harus disesuaikan dengan kemampuan makan dan perkembangan anak.

Dengan demikian, peserta diharapkan tidak sekadar mengetahui bahan apa yang digunakan, tetapi juga memahami bagaimana makanan tersebut disiapkan sesuai tahapan usia anak.

"Peserta kami ajak memahami bahwa penyusunan menu MP-ASI perlu mempertimbangkan kebutuhan anak berdasarkan usianya. Karena itu, pemilihan bahan, kombinasi makanan, tekstur, dan cara penyajian menjadi bagian yang dipraktikkan dalam pelatihan," jelas Anik.

Menariknya, pelatihan tersebut tidak mengarahkan keluarga untuk menggunakan bahan makanan yang sulit diperoleh.

Sebaliknya, peserta didorong memanfaatkan potensi pangan yang ada di lingkungan sekitar.

Desa Glodogan memiliki sejumlah bahan pangan lokal yang dapat dikembangkan menjadi bahan MP-ASI. Di antaranya ubi, labu, sayuran, serta berbagai hasil kebun lainnya.

Rohmi menyampaikan, pemanfaatan pangan lokal dapat membantu keluarga menyiapkan makanan bergizi dengan bahan yang lebih mudah ditemukan.

Dengan kreativitas, bahan pangan sehari-hari dapat diolah menjadi menu MP-ASI yang lebih bervariasi.

Hal tersebut sekaligus memberikan pemahaman bahwa makanan bergizi untuk bayi dan balita tidak selalu identik dengan bahan khusus atau produk yang mahal.

Potensi pangan di sekitar rumah pun dapat dimanfaatkan selama diolah dan dikombinasikan dengan tepat.

“Yang penting bukan sekadar mahal atau tidaknya bahan makanan. Keluarga perlu memahami bagaimana memilih, mengombinasikan, dan mengolah bahan yang tersedia agar dapat menjadi menu yang sesuai dengan kebutuhan anak,” terang Rohmi.

Untuk memastikan materi benar-benar dipahami peserta, pelatihan menggunakan pendekatan learning by doing atau belajar sambil mempraktikkan.

Peserta terlebih dahulu mendapatkan pendidikan kesehatan, materi mengenai MP-ASI, diskusi dan tanya jawab. Setelah itu, mereka melihat demonstrasi penyusunan menu dengan kandungan gizi yang lengkap dan seimbang.

Tahap berikutnya, kader posyandu dan ibu balita langsung berlatih menyusun variasi menu menggunakan bahan makanan yang tersedia di sekitar mereka. Peserta belajar memilih bahan, mengombinasikan makanan, sekaligus menyesuaikan tekstur dengan usia anak.

Anik menilai praktik langsung penting karena kemampuan menyiapkan MP-ASI tidak cukup hanya diperoleh dari penjelasan teori.

"Dengan mencoba sendiri, peserta diharapkan lebih percaya diri ketika menerapkan pengetahuan tersebut di rumah. Pada akhirnya, keterampilan tersebut dapat menjadi kebiasaan dalam menyiapkan makanan bagi bayi dan balita," terang Anik.

Lebih jauh, kegiatan tersebut tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan pengetahuan ibu balita. Kader posyandu juga diposisikan sebagai penggerak edukasi di tengah masyarakat.

Kader merupakan salah satu unsur yang dekat dengan keluarga bayi dan balita.

Karena itu, pengetahuan yang mereka dapatkan mengenai MP-ASI diharapkan bisa diteruskan kepada keluarga lain melalui kegiatan posyandu maupun pendampingan di lingkungan masing-masing.

Anik mengatakan, ketika kader memiliki pemahaman dan keterampilan yang baik, edukasi mengenai pemberian makanan bayi dan anak dapat menjangkau lebih banyak keluarga.

"Harapannya, pengetahuan yang diperoleh dalam pelatihan tidak berhenti pada peserta. Kader dapat meneruskannya kepada ibu bayi dan balita melalui kegiatan posyandu maupun pendampingan di masyarakat," jelas Anik.

Kolaborasi antara perguruan tinggi, bidan desa, kader posyandu, dan keluarga menjadi bagian penting dalam kegiatan tersebut.

Rohmi dan Anik berharap pelatihan dapat meningkatkan kemampuan peserta dalam menyusun serta membuat MP-ASI yang lebih bervariasi, bernilai gizi, dan sesuai dengan kebutuhan anak.

Pada akhirnya, pencegahan stunting tidak hanya berlangsung ketika anak sudah mengalami masalah pertumbuhan. Upaya tersebut dapat dimulai jauh lebih awal melalui pengetahuan orang tua, pola pemberian makanan yang tepat, pemanfaatan pangan lokal, serta pendampingan yang dilakukan secara berkelanjutan. (kwl/nik)

Editor : Nur Pramudito
Sumber : Radar Solo
Desa Glodogan Poltekkes Kemenkes Surakarta klaten MP-ASI Cegah Stunting