RADARSOLO.COM - Setiap 17 Agustus, masyarakat Indonesia kembali mengingat perjuangan para pahlawan dalam merebut kemerdekaan. Namun, perjuangan melawan penjajahan sebenarnya sudah berlangsung jauh sebelum Proklamasi Kemerdekaan dibacakan pada 17 Agustus 1945.
Jauh sebelum Indonesia berdiri sebagai sebuah negara, berbagai wilayah di Nusantara telah memiliki perlawanan masing-masing terhadap kekuasaan asing. Perlawanan tersebut muncul dalam bentuk perang, pemberontakan, hingga gerakan mempertahankan wilayah dan kekuasaan lokal.
Baca Juga: Kenapa Warga Selalu Mengecat Gapura Jelang 17 Agustus? Ternyata Ada Maknanya
Perlawanan Pattimura
Salah satu perlawanan besar terjadi di Maluku. Pada 1817, rakyat Maluku di bawah pimpinan Kapitan Pattimura bangkit melawan pemerintah kolonial Belanda. Perlawanan tersebut dipicu oleh berbagai kebijakan kolonial yang dianggap merugikan masyarakat.
Perlawanan Pattimura juga melibatkan sejumlah tokoh lain, termasuk Martha Christina Tiahahu. Sosok perempuan asal Maluku tersebut ikut berjuang bersama rakyat dalam menghadapi pasukan Belanda.
Perang Diponegoro
Di Jawa, masyarakat juga mengenal Perang Diponegoro yang berlangsung pada 1825 hingga 1830. Perang ini dipimpin Pangeran Diponegoro dan menjadi salah satu perlawanan terbesar terhadap Belanda di Pulau Jawa.
Perlawanan tersebut tidak hanya berkaitan dengan persoalan politik. Pembangunan jalan yang melewati tanah milik keluarga Diponegoro serta berbagai persoalan lain di lingkungan keraton turut menjadi pemicu konflik. Perang kemudian meluas dan melibatkan banyak masyarakat di Jawa.
Baca Juga: Panjat Pinang dan Hadiah di Puncak, Apa Makna di Balik Tradisi Ini?
Perang Padri
Sementara itu, di Sumatra Barat terjadi Perang Padri yang berlangsung pada awal abad ke-19. Tokoh yang paling dikenal dalam perang ini adalah Tuanku Imam Bonjol. Konflik tersebut kemudian berkembang menjadi perjuangan menghadapi intervensi Belanda di wilayah Minangkabau.
Perlawanan Sultan Hasanuddin
Di Sulawesi Selatan, nama Sultan Hasanuddin juga tidak dapat dilepaskan dari sejarah perlawanan terhadap VOC. Kerajaan Gowa di bawah kepemimpinannya berusaha mempertahankan kebebasan perdagangan dari monopoli VOC.
Baca Juga: Resep Tumpeng Merah Putih 17 Agustus, Sajian Unik untuk Merayakan Hari Kemerdekaan
Perlawanan tersebut berlangsung pada 1666 hingga 1669 dan berakhir setelah Gowa mengalami kekalahan. Sultan Hasanuddin kemudian dikenal sebagai salah satu tokoh yang gigih menentang dominasi VOC di kawasan Indonesia Timur.
Perang Banjar
Perlawanan juga terjadi di Kalimantan. Perang Banjar berlangsung sejak 1859 dan melibatkan sejumlah tokoh lokal, salah satunya Pangeran Antasari. Konflik tersebut muncul di tengah persoalan politik Kesultanan Banjar dan campur tangan Belanda.
Perang Aceh
Di wilayah paling utara Sumatra, rakyat Aceh juga memberikan perlawanan panjang terhadap Belanda. Perang Aceh dimulai pada 1873 dan melibatkan banyak tokoh, seperti Teuku Umar dan Cut Nyak Dhien. Perlawanan di Aceh menjadi salah satu konflik paling panjang dalam sejarah kolonial Belanda di Nusantara.
Perang Batak
Sementara itu, masyarakat Batak di Sumatra Utara juga melakukan perlawanan melalui Perang Batak. Perjuangan tersebut dipimpin oleh Sisingamangaraja XII yang berusaha mempertahankan wilayahnya dari ekspansi Belanda.
Tidak hanya di wilayah-wilayah tersebut, perlawanan terhadap kekuasaan asing juga muncul di berbagai daerah lain, termasuk Bali, Lombok, dan Sulawesi Utara.
Beragam perlawanan itu memang terjadi pada waktu, wilayah, serta latar belakang yang berbeda. Saat itu belum ada Negara Kesatuan Republik Indonesia seperti yang dikenal sekarang. Masing-masing kerajaan dan masyarakat memiliki kepentingan serta wilayah kekuasaannya sendiri. (annas rohmanda purbaningrum)
Editor : Kabun Triyatno