RADARSOLO.COM-Perkembangan teknologi yang pesat turut mengubah dinamika serta cara belajar siswa di sekolah.
Menanggapi karakter siswa generasi Z, Alpha, hingga Beta yang tumbuh sebagai digital native, Penerbit Erlangga memperkenalkan konsep hybrid learning melalui Erklika Lab for STEAM Education dalam ajang Erklika Lab Connect di Novotel Solo pada Rabu (12/8/2026).
Produk ini memadukan buku panduan cetak dengan ekosistem pembelajaran digital berbasis STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts, and Mathematics) yang terintegrasi.
Baca Juga: Persiapan Asesmen Lebih Maksimal, Ini Ulasan Lengkap Seri Buku Erlangga X-Press TKA untuk SMA/MA
Chief Editor Digital Product Penerbit Erlangga Rengganis Rianingtyas Harsono Putri menjelaskan, penerbit harus terus beradaptasi dengan pola belajar siswa modern agar proses edukasi tidak lagi berjalan satu arah.
“Anak sekarang sudah digital native yang lebih suka dan sangat terbiasa dengan digitalisasi maupun teknologi. Kita tidak bisa memberikan pembelajaran yang hanya cetak saja atau hanya satu arah,” kata Rengganis, Rabu (12/8/2026).
Melalui Erklika Lab, porsi buku cetak dan teknologi digital ditempatkan secara sejajar.
Buku fisik difungsikan sebagai panduan, sementara ekosistem digital menyajikan konten interaktif seperti audio visual, simulasi 3D, hingga mini games.
Konsep ini juga dirancang untuk mengoptimalkan penggunaan Papan Interaktif Digital (PID) yang kini mulai dimiliki oleh berbagai sekolah.
“Kami berharap papan interaktif digitalnya itu tidak hanya menjadi salah satu item tambahan atau pendukung di sekolah, tapi bisa digunakan atau dimanfaatkan dengan baik dengan ekosistem digital kami yang dilengkapi dengan buku cetaknya,” ujar Rengganis.
Dukungan juga disampaikan oleh Widyaiswara Ahli Madya BBGTK Jawa Barat, Dr. Eneng Susilawati, M.Sc.
Ia menilai materi Erklika Lab sangat aplikatif dan membantu guru menerjemahkan teori ke dalam aktivitas konkret menggunakan PID di kelas.
“Sekolah-sekolah sudah punya PID. Mereka tidak lagi hanya menggunakan PID untuk presentasi, tapi aktivitas sehari-hari itu betul-betul sudah combine dengan teknologinya,” terang Eneng.
Public figure Shahnaz Haque yang turut hadir menggarisbawahi pentingnya metode praktikum interaktif untuk mengimbangi kebiasaan anak-anak yang dominan berinteraksi dengan gawai.
“Generasi muda itu bukan hanya menang otak, tapi juga mesti bagus akhlak. Adabnya mesti bagus, bagaimana dia menghormati guru pada saat ada percobaan, ada lab. Dengan adanya terobosan Erklika Lab ini menggantikan kebiasaan bermain zaman dulu, dipakai bermain ilmu seperti yang sekarang. Itu penting sekali,” tutur Shahnaz.
Baca Juga: Penerbit Erlangga Bersama Kata&Rasa Gelar Barista Coaching Clinic untuk Siswa SMK Se-Solo Raya
Senada, Putri Solo 2024 mewakili Gen Z, Adine Arinza, menyebutkan bahwa perpaduan teori dan praktik dapat melatih pola berpikir kritis serta kemampuan problem solving.
“Teori itu harus selalu berjalan berdampingan dengan yang namanya praktik. Jangan sampai kita dikendalikan oleh teknologi, tapi kita harus memakai teknologi itu untuk membantu kita. Buku ini bukan hanya untuk dibaca dan dipelajari, tapi menjadi teman untuk belajar bersama, teman bermain ilmu,” ucap Adine.
Erklika Lab for STEAM Education dikembangkan untuk jenjang SD, SMP, SMA, hingga SMK sebagai seri buku projek kokurikuler.
Melalui fitur Virtual Lab di laman erklika.id, siswa dapat mengakses learning map, pop-up quiz, video penjelasan, hingga simulasi praktikum. Produk ini juga dilengkapi fitur Mind Map Lipat untuk melatih pola pikir sistematis, Product Launchpad untuk memamerkan karya, serta fitur refleksi penalaran kritis.
Rengganis optimistis terobosan hybrid learning ini dapat menjadi alternatif segar bagi sekolah-sekolah di Indonesia.
“Saat ini kami baru memperkenalkannya. Namun, saya yakin sekolah-sekolah membutuhkan dan berminat dengan pembelajaran hybrid ini. Sebab, di Indonesia sendiri belum banyak yang mengeluarkan metode pembelajaran baru seperti ini,” pungkas Rengganis. (hj)
Editor : Tri Wahyu CahyonoSumber : Radarsolo.jawapos.com