RADARSOLO.COM - Ibu hamil tidak hanya membutuhkan informasi mengenai kesehatan kehamilan.
Dukungan emosional dan ruang untuk berbagi pengalaman juga menjadi bagian penting dalam mempersiapkan diri menghadapi persalinan hingga merawat bayi.
Kebutuhan tersebut menjadi perhatian tim dosen Poltekkes Kemenkes Surakarta melalui program Mother Peer Support di Desa Glodogan, Kecamatan Klaten Selatan, Kabupaten Klaten.
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat tersebut dilaksanakan secara bertahap pada Juni hingga Agustus 2026.
Program bertema "Penerapan Mother Peer Support sebagai Upaya Peningkatan Kualitas Kesehatan Ibu Hamil, Bersalin, dan Nifas di Desa Glodogan, Kecamatan Klaten Selatan" itu melibatkan ibu pendamping sebaya atau peer mother untuk menjadi teman berbagi bagi ibu hamil.
Tim pelaksana dipimpin Anik Kurniawati, S.Si.T., Bdn., M.Keb. sebagai ketua, dengan Rohmi Handayani, S.Si.T., Bdn., M.Keb. sebagai anggota. Kegiatan juga melibatkan dua mahasiswa Program Pendidikan Profesi Bidan, yakni Nita Diah Putri A. dan Nurul Ismiyatun K. serta mendapat dukungan Pemerintah Desa Glodogan, Bidan Desa Glodogan Sumiyem, A.Md.Keb., dan para kader kesehatan.
Berbeda dengan penyuluhan konvensional yang cenderung berlangsung satu arah, Mother Peer Support mengedepankan pendampingan sebaya.
Setiap kelompok ibu hamil mendapatkan pendampingan dari dua orang peer mother yang berbagi pengalaman mengenai kehamilan, persiapan persalinan, masa nifas hingga perawatan bayi baru lahir.
Pendekatan tersebut memberikan ruang yang lebih nyaman bagi ibu hamil untuk menyampaikan keluhan, kekhawatiran maupun kebingungan yang mereka alami.
Persoalan dapat disampaikan melalui diskusi langsung maupun tulisan, kemudian dibahas bersama dengan peserta lainnya.
Anik Kurniawati mengatakan, pendampingan sebaya dipilih karena kebutuhan ibu hamil tidak sebatas memperoleh informasi kesehatan.
Mereka juga membutuhkan dukungan emosional serta teman berdiskusi yang mampu menciptakan suasana aman untuk menceritakan persoalan selama kehamilan.
Selain itu, peserta juga mendapatkan pengetahuan dasar mengenai perawatan ibu setelah melahirkan dan perawatan bayi dalam kehidupan sehari-hari.
“Pendampingan ini diharapkan membantu ibu hamil lebih memahami perubahan selama kehamilan, mengenali kebutuhan pemeriksaan, serta mempersiapkan persalinan dengan lebih baik,” ujarnya.
Efektivitas program turut dievaluasi melalui kuesioner pada awal dan akhir kegiatan.
Evaluasi mencakup pengetahuan peserta mengenai kesehatan kehamilan, persiapan persalinan dan perawatan bayi sehari-hari.
Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan ibu hamil setelah mengikuti rangkaian kegiatan.
Peserta menjadi lebih memahami hal-hal yang perlu diperhatikan selama kehamilan, persiapan menjelang persalinan, serta cara merawat bayi baru lahir.
Tidak hanya meningkatkan pengetahuan, model Mother Peer Support juga mendorong terbentuknya dukungan sosial antaribu.
Para peserta dapat saling menguatkan, berbagi pengalaman dan mencari solusi bersama ketika menghadapi persoalan selama kehamilan maupun setelah melahirkan.
Anik menambahkan, keberlanjutan program menjadi salah satu hal penting yang perlu diperhatikan.
Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, bidan desa, kader kesehatan, mahasiswa dan masyarakat diharapkan membuat pendampingan kesehatan ibu tidak berhenti setelah program pengabdian kepada masyarakat selesai.
Model pendampingan sebaya tersebut diharapkan dapat terus dikembangkan sebagai bagian dari penguatan layanan kesehatan primer, khususnya melalui promosi kesehatan dan pemberdayaan masyarakat.
Dengan demikian, ibu dapat semakin siap menjalani kehamilan, persalinan, masa nifas hingga perawatan bayi. (kwl/nik)
Editor : Nur PramuditoSumber : Radar Solo