RADARSOLO.COM - Ketika membicarakan tokoh perjuangan kemerdekaan Indonesia, nama yang muncul biasanya adalah mereka yang terlibat dalam pertempuran atau perumusan Proklamasi.
Akan tetapi, perjuangan mempertahankan kemerdekaan tidak hanya dilakukan dengan mengangkat senjata. Ada pula tokoh yang berjuang melalui tulisan dan pemberitaan, salah satunya Burhanuddin Mohammad Diah atau B.M. Diah.
Baca Juga: Dari Desa Kami Belajar Mencintai Indonesia, Refleksi Seorang Anak Desa Menyambut Bulan Kemerdekaan
B.M. Diah merupakan wartawan yang aktif sebelum dan setelah Indonesia merdeka. Ia menekuni dunia jurnalistik sejak muda dan pernah bekerja sebagai redaktur Sinar Deli, kemudian bekerja di Sin Po dan Warta Harian. Ia juga pernah mendirikan majalah Pertjatoeran Doenia.
Kemampuannya di bidang jurnalistik kemudian menjadi bagian dari perjuangannya. Menjelang Proklamasi, B.M. Diah aktif berhubungan dengan kelompok pemuda dan berdiskusi mengenai gagasan kemerdekaan.
Bahkan, aktivitasnya membuat ia sempat ditangkap oleh Jepang pada 7 Agustus 1945 dan baru dibebaskan pada 15 Agustus 1945.
Baca Juga: Siapa Orang Pertama yang Menyebarkan Kabar Indonesia Merdeka?
Setelah Proklamasi dibacakan pada 17 Agustus 1945, tantangan berikutnya adalah memastikan kabar kemerdekaan diketahui masyarakat luas. Saat itu, sistem komunikasi belum seperti sekarang.
Berita hanya dapat disebarkan melalui surat kabar, radio, kantor berita, hingga pamflet dan poster.
Di sinilah B.M. Diah mengambil peran. Ia termasuk tokoh pemuda yang terlibat dalam penyebaran berita Proklamasi.
B.M. Diah bahkan diminta menggunakan percetakan Asia Raya untuk mencetak ratusan ribu eksemplar salinan Proklamasi yang kemudian disebarkan kepada masyarakat.
Perjuangan lewat pers tidak berhenti pada penyebaran kabar kemerdekaan. Pada 1 Oktober 1945, B.M. Diah bersama sejumlah wartawan bekas Asia Raya mendirikan Harian Merdeka setelah mengambil alih percetakan milik Jepang. Ia kemudian menjadi pemimpin redaksi surat kabar tersebut.
Baca Juga: Zaman Belum Ada Internet, Begini Cara Kabar Indonesia Merdeka Menyebar
Harian Merdeka kemudian menjadi salah satu media yang menyuarakan kepentingan Republik pada masa revolusi. Pemberitaan dan opini di dalamnya digunakan untuk mengkritik Belanda, menentang imperialisme, serta membangkitkan semangat masyarakat untuk mempertahankan kemerdekaan.
Peran tersebut menunjukkan bahwa pers pada masa awal kemerdekaan bukan sekadar tempat masyarakat memperoleh informasi. Surat kabar juga menjadi bagian dari perjuangan politik.
Ketika pihak kolonial berusaha kembali menguasai Indonesia, pemberitaan dapat menjadi alat untuk membangun kesadaran masyarakat bahwa kemerdekaan harus dipertahankan.
Bahkan, perjuangan B.M. Diah melalui pers memiliki risiko tersendiri. Media yang dipimpinnya akhirnya berhenti terbit pada Juli 1947 setelah markas redaksi Harian Merdeka di Percetakan Negara, Salemba, diduduki Belanda dalam Agresi Militer I.
Kisah B.M. Diah memperlihatkan bahwa perjuangan kemerdekaan tidak selalu berbentuk pertempuran di medan perang. Ada yang berjuang dengan senjata, ada yang berdiplomasi, dan ada pula yang menggunakan pena serta mesin cetak.
Bagi B.M. Diah, berita dan tulisan menjadi cara untuk menyampaikan bahwa Indonesia telah merdeka sekaligus mempertahankan semangat tersebut ketika kemerdekaan kembali terancam. (annas rohmanda purbaningrum)
Editor : Kabun Triyatno