Bukan Sekadar Mengeja, Membiasakan Anak Membaca Buku Bantu Pahami Konteks hingga Perkuat Bonding dengan Orang Tua

Angga Purenda • Dipublikasikan Jumat, 14 Agustus 2026 | 16:33 WIB
Kegiatan lapak baca yang digelar Komunitas Read Aloud di Alun-alun Klaten Setiap Minggu pada momen Car Free Day (CFD). (Dokumentasi Komunitas Read Aloud Klaten-Parenting)
Kegiatan lapak baca yang digelar Komunitas Read Aloud di Alun-alun Klaten Setiap Minggu pada momen Car Free Day (CFD). (Dokumentasi Komunitas Read Aloud Klaten-Parenting)

RADARSOLO.COM-Membiasakan anak membaca buku sejak dini menjadi langkah yang perlu diinisiai orang tua di rumah.

Mengingat tidak lagi sekadar mengenal teks maupun mengeja kata, melainkan sarana melatih pemahaman konteks, berpikir kritis hingga mempererat ikat emosional (bonding) antara orang tua dan anak.

Hal itu diungkapkan Pendiri Komunitas Read Aloud Klaten Sandra Srengenge, Jumat (14/8/2026).

Baca Juga: Dulu Bisa dapat 10 Emas, Kini Maksimal Empat? Ini Alasan Solo Target hanya 1 Emas, Persaingan Judo Jateng Ternyata Makin Ketat

Ia mengungkapkan bahwa proses membaca melibatkan kerja otak yang kompleks.

Mulai dari decoding kata hingga reading comprehension guna mencapai reading with meaning.

"Tujuan menggerakkan minat baca ini tidak sekadar anak bisa baca teks, tetapi bagaimana anak bisa memahami konteks. Kemampuan menelaah dan memahami konteks ini sangat penting ketika kelak anak memegang ponsel. Mereka secara alami akan lebih mudah memfilter dan menyaring mana informasi atau berita yang benar dan mana yang tidak," ujar Sandra.

Kemampuan memahami konteks tersebut juga akan berdampak langsung pada performa akademis anak di sekolah.

Mengingat saat ini metode evaluasi pembelajaran cenderung menggunakan soal cerita sehingga menuntut anak berpikir dan memproses maksud teks sebelum menjawab.

Menurutnya, tanpa kebiasaan membaca, anak akan kesulitan menelaah soal-soal tersebut.

Baca Juga: Pemerintah Buka 4.770 Formasi CPNS 2026 lewat Sekolah Kedinasan, Cek Rinciannya

Selain mengasah daya pikir kritis, membiasakan membaca buku bersama anak membawa dampak positif terhadap hubungan keluarga.

Kegiatan tersebut menjadi momen bonding yang berharga, terutama bagi orang tua yang sibuk bekerja.

"Membaca nyaring (read aloud) bersama anak itu tidak hanya membacakan teks, tetapi ada dialog di dalamnya," kata Sandra. 

"Orang tua dan anak bisa berdiskusi tentang jalan cerita maupun relevansinya dalam kehidupan sehari-hari. Dari sini, hubungan orang tua dan anak kembali rekat," imbuh dia.

Ia menambahkan, rentang usia ideal untuk mengenalkan kegiatan membaca ternyata bisa dimulai sejak bayi masih dalam kandungan.

Baca Juga: Picu Getaran dan Suara Peringatan, Dishub Boyolali Pasang Pita Penggaduh 9 MM di Jalur Rawan Kecelakaan

Ibu hamil dapat membacakan cerita untuk melatih sensor pendengaran janin.

Sedangkan saat memasuki usia golden age (0–6 tahun), daya serap otak anak sedang berada pada masa keemasan.

Maka itu, menjadi momen yang baik jika dipaparkan pada bacaan positif ketimbang gawai.

“Bagi Usia 0–3 Tahun, pilih buku dengan visual gambar yang menarik dan minim teks. Gunakan media yang aman dan tahan lama seperti board book, sponge book, sound book, atau fabric book,” beber Sandra.

Untuk usia prasekolah atau sekolah dasar bisa diterapkan secara bertahap.

Baca Juga: Bukan Hal Jelimet, Ketua KKMP Banjarsari Solo Beber Strategi Kantongi Omzet Rp300 Juta dalam 6 Bulan

Mulai dari buku cerita bergambar dengan kalimat sederhana. Hingga meningkat ke buku teks seiring meningkatnya kemampuan membaca anak.

Mengenai penggunaan media digital seperti e-book, Sandra menyampaikan bahwa esensi membaca nyaring terletak pada dialog yang terbangun antara orang tua dan anak.

Maka itu, menggunakan media digital pada dasarnya tidak masalah sepanjang interaksi berpikir dan berdialog tetap tercipta.

"Namun jika ada pilihan, buku fisik jauh lebih disarankan untuk meminimalisir paparan gawai," tambahnya.

Diakuinya, membangun kebiasaan membaca pada anak memerlukan komitmen dan konsistensi dari lingkungan terdekat.

Baca Juga: Sisi Lain Jembatan Teter di Simo Boyolali yang Hanya Bisa dilalui saat Musim Kemarau

Sandra membagikan beberapa tips praktis bagi para orang tua.

Salah satunya, orang tua perlu menumbuhkan kesukaan membaca dalam diri sendiri terlebih dahulu sebelum mengajarkannya kepada anak.

Harapannya bisa menjadi role model bagi anak.

“Sediakan akses buku di rumah. Buku tidak harus selalu membeli baru. Orang tua dapat memanfaatkan fasilitas perpustakaan daerah atau bisa juga bertukar buku dengan kerabat,” ucapnya.

Menurutnya, yang terpenting orang tua wajib meluangkan waktu membacakan buku bagi anaknya di tengah kesibukannya dalam bekerja.

Cukup meluangkan waktu sekira 5-15 menit setiap harinya secara konsisten.

“Jika terasa berat, mulailah secara bertahap, misalnya seminggu sekali di akhir pekan. Lalu tingkatkan intensitasnya secara konsisten,” tambahnya. (ren)

Editor : Tri Wahyu Cahyono
Sumber : Radarsolo.jawapos.com
bonding anak dan orang tua biasakan anak membaca buku dialog interaksi