Sebelum Proklamasi, Sutan Sjahrir Sudah Tahu Jepang Menyerah

Annas Rohmanda Purbaningrum • Dipublikasikan Sabtu, 15 Agustus 2026 | 12:40 WIB
Sutan Sjahrir, salah satu tokoh pergerakan bawah tanah selama pendudukan Jepang.
Sutan Sjahrir, salah satu tokoh pergerakan bawah tanah selama pendudukan Jepang.

RADARSOLO.COM - Dua hari sebelum Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dibacakan, situasi politik di tanah air mulai berubah. Kabar Jepang menyerah kepada Sekutu telah beredar melalui radio, tetapi informasi tersebut belum diketahui secara luas. Di antara tokoh pergerakan yang lebih awal mengetahui kabar itu adalah Sutan Sjahrir.

Bagi Sjahrir, kabar tersebut bukan sekadar berita tentang kekalahan Jepang dalam Perang Dunia II. Menyerahnya Jepang menjadi tanda bahwa kekuatan pendudukan mulai melemah. Ia kemudian mendesak Soekarno dan Mohammad Hatta agar segera memproklamasikan kemerdekaan tanpa menunggu keputusan Jepang.

Sjahrir merupakan salah satu tokoh pergerakan yang memilih bergerak di bawah tanah selama pendudukan Jepang. Melalui radio rahasia dan siaran luar negeri, ia memperoleh informasi mengenai perkembangan perang. Kabar mengenai Jepang yang semakin terdesak kemudian disampaikan kepada kalangan pemuda.

Baca Juga: Kisah Frans Mendur Selamatkan Foto Proklamasi yang Nyaris Dirampas Jepang

Situasi semakin berubah setelah Jepang menyatakan menyerah tanpa syarat kepada Sekutu pada Agustus 1945. Secara waktu, pengumuman Kaisar Hirohito disiarkan pada 15 Agustus menurut waktu Jepang. Kabar tersebut kemudian sampai ke Indonesia melalui siaran radio yang dipantau oleh para pejuang.

Sjahrir melihat keadaan tersebut sebagai kesempatan bagi Indonesia untuk menentukan nasibnya sendiri. Ia tidak menginginkan kemerdekaan Indonesia terlihat sebagai pemberian Jepang. Karena itu, ia menolak gagasan agar proklamasi dilakukan melalui Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia atau PPKI, badan yang dibentuk pada masa pendudukan Jepang.

Pandangan tersebut berbeda dengan Soekarno dan Hatta. Keduanya belum memperoleh kepastian resmi mengenai menyerahnya Jepang dan mempertimbangkan risiko jika proklamasi dilakukan secara tergesa-gesa. Mereka juga masih melihat PPKI sebagai badan yang dapat digunakan untuk mempersiapkan kemerdekaan.

Perbedaan pandangan itu kemudian berkembang menjadi ketegangan antara golongan muda dan golongan tua. Bagi kelompok pemuda, kemerdekaan harus lahir dari keputusan bangsa Indonesia sendiri, bukan melalui badan yang dianggap memiliki hubungan dengan Jepang.

Baca Juga: Tak Angkat Senjata, B.M. Diah Berjuang Lewat Pers

Pada 15 Agustus, desakan agar proklamasi segera dilakukan semakin kuat. Golongan muda bahkan meminta Soekarno dan Hatta untuk tidak menunggu lebih lama. Malam harinya, perdebatan mengenai waktu dan cara pelaksanaan proklamasi berlangsung semakin panas di kediaman Soekarno di Jalan Pegangsaan Timur 56.

Ketegangan tersebut akhirnya berujung pada peristiwa Rengasdengklok pada 16 Agustus 1945. Soekarno dan Hatta dibawa oleh golongan muda ke Rengasdengklok dengan tujuan menjauhkan keduanya dari pengaruh Jepang dan mendorong pelaksanaan proklamasi secepatnya.

Meski demikian, Sjahrir sendiri tidak berada di Rengasdengklok. Perannya lebih terlihat pada fase awal ketika kabar kekalahan Jepang mendorong perubahan sikap politik kelompok pemuda. Ia menjadi salah satu tokoh yang sejak awal menilai bahwa kemerdekaan harus segera diumumkan dan tidak boleh bergantung pada keputusan pemerintah pendudukan Jepang.

Baca Juga: Fatmawati dan Bendera Merah Putih yang Menjadi Saksi Proklamasi

Pada akhirnya, Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dibacakan Soekarno didampingi Hatta pada 17 Agustus 1945 di Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta. Jalan menuju momen tersebut tidak berlangsung sederhana. Ada perbedaan strategi, perdebatan, desakan pemuda, hingga kekhawatiran mengenai kemungkinan pertumpahan darah.

Kabar tentang kekalahan Jepang menjadi salah satu pemicu penting yang mempercepat dinamika tersebut. Bagi Sutan Sjahrir, berita yang didengar melalui radio itu menjadi tanda bahwa kesempatan untuk menentukan kemerdekaan Indonesia telah terbuka.

Sejarah kemudian mencatat bahwa Proklamasi 17 Agustus 1945 tidak lahir dalam satu malam. Di balik pembacaan teks yang hanya berlangsung singkat, terdapat rangkaian peristiwa dan perdebatan panjang yang melibatkan banyak tokoh. Salah satunya adalah Sutan Sjahrir, yang melihat kekalahan Jepang sebagai momentum yang tidak boleh dilewatkan. (annas rohmanda purbaningrum)

 

Editor : Kabun Triyatno
annas rohmanda purbaningrum Sutan Sjahrir pergerakan merdeka jepang