RADARSOLO.COM – Upaya mencegah dan mengendalikan hipertensi tak melulu dilakukan melalui pengobatan. Edukasi kepada masyarakat dan penguatan peran kader kesehatan di tingkat desa menjadi langkah penting untuk membangun kesadaran hidup sehat.
Hal itu dilakukan Poltekkes Kemenkes Surakarta melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat di Desa Bakung, Kecamatan Jogonalan, Kabupaten Klaten di balai desa setempat, Jumat hingga Sabtu (17-18/7) lalu. Kegiatan tersebut menyasar kader kesehatan dengan memberikan pelatihan mengenai penatalaksanaan hipertensi sekaligus pemanfaatan tanaman berkhasiat obat yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar.
Pelaksanaan pengabdian Masyarakat kali ini dilaksanakan oleh tim. Tim pelaksana dipimpin oleh Sigit Tri Ambarwanto, S.Kep.Ns.,M.Kes. sebagai ketua dengan apt. Muhammad Anegerah Alam Waris, M.Si sebagai anggota, dalam kegiatan ini juga melibatkan 2 PLP (Pranata Laboratorium Pendidikan), yakni Irzal Fandi Darmawan A.Md dan Muftikha Khoiri Rahmawati A.Md. serta melibatkan 3 mahasiswa Jurusan Jamu, yakni Valentine Jasmine Putri Maendry, Kaylila Deby Sevriano, dan Putrama Dava Aridho. Kegiatan ini juga dapat dukungan Kepala Desa Bakung Drs. Bambang Suryanto, warga Desa Bakung, khususnya ibu-ibu kader Kesehatan Desa Bakung.
Ketua Tim Pengabdian Masyarakat Sigit Tri Ambarwanto, S.Kep.Ns., M.Kes., mengatakan, kegiatan tersebut dirancang untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader agar semakin aktif menjalankan fungsi promotif dan preventif di tengah masyarakat.
“Kader kesehatan merupakan ujung tombak karena memiliki kedekatan langsung dengan keluarga dan masyarakat. Karena itu, mereka perlu dibekali pengetahuan yang benar sehingga mampu menyampaikan edukasi kesehatan secara tepat,” terang Sigit.
Dalam kegiatan tersebut, kader mendapatkan materi mengenai hipertensi, faktor risiko, pencegahan, pentingnya pemeriksaan tekanan darah secara rutin, hingga pola hidup sehat. Pelatihan tidak hanya dilakukan melalui penyuluhan, tetapi juga diskusi dan praktik agar materi lebih mudah diterapkan.
Salah satu materi yang menarik perhatian adalah pemanfaatan tanaman berkhasiat obat atau tanaman yang selama ini dikenal masyarakat sebagai bahan jamu.
Menurut Sigit, potensi tanaman yang tumbuh di lingkungan masyarakat dapat menjadi media edukasi kesehatan yang menarik. Namun, pemanfaatannya tetap harus dilakukan secara aman dan bertanggung jawab.
“Tanaman berkhasiat obat dapat menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan, tetapi bukan untuk menggantikan pemeriksaan maupun pengobatan medis. Jenis tanaman, cara pengolahan, jumlah konsumsi dan kemungkinan interaksi dengan obat harus diperhatikan,” jelasnya.
Karena itu, masyarakat, khususnya penderita hipertensi yang tengah menjalani terapi, tetap diarahkan untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan sebelum menggunakan tanaman berkhasiat obat.
Kegiatan pengabdian tersebut sekaligus menjadi momentum untuk memperkenalkan lebih luas keberadaan Jurusan Jamu Poltekkes Kemenkes Surakarta kepada masyarakat.
Keterlibatan tiga mahasiswa Jurusan Jamu, yakni Valentine Jasmine Putri Maendry, Kaylila Deby Sevriano dan Putrama Dava Aridho, menjadi bagian dari pelaksanaan kegiatan tersebut. Mereka terlibat bersama tim dosen dan Pranata Laboratorium Pendidikan (PLP) dalam memberikan edukasi kepada kader.
Sigit mengatakan, keberadaan Jurusan Jamu penting untuk lebih dikenal masyarakat karena memiliki keterkaitan erat dengan pengembangan pengetahuan tentang tanaman obat dan pemanfaatannya secara tepat.
“Melalui kegiatan seperti ini, kami ingin masyarakat semakin mengenal Jurusan Jamu Poltekkes Kemenkes Surakarta. Bukan hanya sebagai tempat pendidikan, tetapi juga sebagai bagian dari upaya memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pemanfaatan tanaman berkhasiat obat secara tepat, aman dan bertanggung jawab,” ujarnya.
Lebih lanjut dikatakan Sigit, dalam pencegahan hipertensi, pemanfaatan tanaman berkhasiat obat hanya menjadi salah satu bagian pendukung. Kader juga mendapatkan pemahaman mengenai pentingnya pola makan sehat, pembatasan konsumsi garam, aktivitas fisik, menjaga berat badan, menghindari rokok dan melakukan pemeriksaan tekanan darah secara berkala.
Sigit berharap pelatihan tidak berhenti setelah kegiatan selesai. Pengetahuan yang diperoleh kader diharapkan diteruskan kepada keluarga dan warga di lingkungan masing-masing.
“Kami berharap kader dapat menjadi penggerak perubahan perilaku kesehatan di tingkat keluarga. Dengan komunikasi yang dekat dengan warga, pesan-pesan kesehatan akan lebih mudah diterima dan diterapkan secara berkelanjutan,” katanya.
Melalui kolaborasi perguruan tinggi, pemerintah desa, kader kesehatan dan masyarakat, kegiatan pengabdian tersebut diharapkan mampu memperkuat kesadaran warga terhadap pencegahan hipertensi sekaligus membuka ruang bagi masyarakat untuk lebih mengenal potensi pendidikan dan keilmuan Jurusan Jamu Poltekkes Kemenkes Surakarta. (kwl/nik)
Editor : Niko auglandy