RADARSOLO.COM – Upaya menekan kasus stunting di Kabupaten Klaten terus dilakukan melalui berbagai pendekatan. Salah satunya dengan menyasar remaja sebagai calon ibu melalui edukasi berbasis teknologi.
Langkah tersebut dilakukan tim Poltekkes Kemenkes Surakarta melalui program pengabdian masyarakat berbasis kemitraan di Desa Joton, Kecamatan Jogonalan, Klaten, Sabtu (15/8/2026). Sebanyak 23 remaja mengikuti sosialisasi sekaligus pengenalan platform digital interaktif bernama STULYTION (Stunting Early Detection).
Program tersebut menjadi bagian dari pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Edukasi dikemas dengan memanfaatkan website yang dapat diakses melalui gawai sehingga informasi mengenai stunting lebih mudah dijangkau oleh kalangan remaja.
Tim pengabdian masyarakat Poltekkes Kemenkes Surakarta terdiri atas Henik Istikhomah, S.SiT, Bdn, M.Keb, bersama anggota Dr. Sri Wahyuni, M.Mid dan Brigita Senanda Septia Firma, S.Tr.Keb., Bdn.
Henik menjelaskan, pencegahan stunting perlu dilakukan secara berkesinambungan dan dimulai sejak remaja. Menurutnya, kondisi kesehatan perempuan sebelum memasuki masa kehamilan menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan.
"Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, prevalensi stunting di Kabupaten Klaten sebesar 20,8 persen. Maka itu, fokus kita adalah pada remaja sebagai calon ibu. Kita tingkatkan pengetahuannya tentang stunting dengan harapan ketika mereka menikah dan menjadi ibu kelak, organ reproduksinya sehat serta dapat melahirkan bayi yang sehat," ujar Henik di sela kegiatan, Sabtu (15/8).
Menurut Henik, edukasi mengenai stunting selama ini kerap dilakukan melalui metode konvensional, seperti ceramah di kelas, pembagian materi cetak, maupun pemutaran video. Namun, informasi yang diberikan berpotensi lebih cepat dilupakan apabila tidak disertai media yang dapat diakses kembali.
Karena itu, tim mengembangkan STULYTION sebagai sarana edukasi digital yang dapat digunakan remaja untuk mempelajari informasi terkait stunting.
Website tersebut memuat berbagai materi, mulai pemahaman dasar mengenai stunting, upaya pencegahan, hingga panduan asupan gizi seimbang. Informasi dikemas menggunakan bahasa yang lebih populer dengan tampilan yang disesuaikan untuk pengguna remaja.
STULYTION juga dilengkapi fitur Janji Temu Bidan serta kolom komentar interaktif. Melalui fitur tersebut, pengguna dapat menyampaikan pertanyaan atau keluhan kesehatan untuk mendapatkan pendampingan dari tim bidan Poltekkes Kemenkes Surakarta.
"Karena ini era digital, remaja lebih tertarik membaca lewat gawai. Melalui web ini, informasi stunting ada di genggaman dan interaktif. Kami meyakini inovasi ini tidak hanya berguna bagi remaja, tetapi juga bagi ibu hamil dan ibu balita," tambah Henik.
Untuk mengetahui efektivitas edukasi, tim menerapkan evaluasi melalui pre-test dan post-test. Pendampingan juga dilanjutkan melalui grup komunikasi untuk memantau penerapan materi yang telah diberikan dalam kehidupan sehari-hari.
Inovasi tersebut mendapat apresiasi dari Bidan Desa Joton, Sri Rochmani, S.Tr.Keb., Bdn. Menurutnya, pendekatan digital sesuai dengan karakter remaja yang sehari-hari dekat dengan perangkat digital.
Desa Joton sendiri sebelumnya sempat menjadi lokus stunting pada 2024. Berdasarkan data yang disampaikan Rochmani, jumlah balita stunting di desa tersebut menunjukkan penurunan. Dari lebih dari 20 kasus pada 2024, menjadi 16 kasus pada 2025, dan sekira 13 kasus pada 2026.
"Kami sangat mengapresiasi inovasi web STULYTION ini. Remaja sekarang kan tidak lepas dari HP, tapi informasi di sosmed sering kali kurang pas. Tapi web dari Poltekkes ini sudah teruji dan validitas informasinya terjamin secara akademis," ujar Rochmani.
Menurutnya, kehadiran STULYTION dapat melengkapi program pencegahan stunting yang telah berjalan di Desa Joton, seperti Posyandu Remaja dan pemberian tablet tambah darah.
Edukasi tersebut juga mendapat respons positif dari peserta. Salah satunya Suci Nur Ramadani, 14, yang mengaku memperoleh wawasan baru mengenai pencegahan stunting dan anemia.
"Bagus dan berguna banget buat anak-anak Gen Z yang malas buka buku. Kita jadi makin paham kalau stunting itu berbahaya, bukan cuma fisik tapi bisa bikin IQ anak lebih rendah. Lewat web ini kita bisa tahu cara cegah anemia dan gizi buruk sejak dini untuk persiapan masa depan," tutur Suci.
Melalui kolaborasi antara akademisi, tenaga kesehatan desa, dan remaja, program tersebut diharapkan dapat memperkuat kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pencegahan stunting sejak dini. Edukasi yang dimulai dari kelompok remaja diharapkan menjadi bagian dari upaya jangka panjang untuk mempersiapkan generasi yang lebih sehat dan berkualitas. (ren/nik)
Editor : Niko auglandy