RADARSOLO.COM - Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Sekolah Tinggi Teknologi (STT) "Warga" Surakarta menerapkan inovasi teknologi tepat guna berupa alat penyiang gulma padi (power weeder) kepada Gapoktan Tani Maju di Desa Doplang, Kecamatan Teras, Kabupaten Boyolali.
Penerapan alat tersebut menjadi solusi atas proses penyiangan gulma yang selama ini masih banyak dilakukan secara manual.
Cara tersebut membutuhkan waktu dan tenaga kerja cukup besar, terlebih ketersediaan tenaga kerja di sektor pertanian semakin terbatas.
Program pengabdian ini diketuai Johanes Wawan Joharwan, S.T., M.T., dengan anggota Ir. Arif Setyo Nugroho, S.T., M.T., dan Drs. Rahmat, M.T.
Kegiatan tersebut juga melibatkan tiga mahasiswa, yakni Danar Hanung Prakoso, Alfian Randy Dwi Pradana, dan Raditya Riza Eka Saputra.
Sementara itu, mitra kegiatan adalah Gapoktan Tani Maju yang diketuai Soleh. Kelompok tani tersebut memiliki lahan persawahan sekitar 125 hektare.
Sebelum menggunakan power weeder, penyiangan secara manual untuk lahan seluas 2.000 meter persegi membutuhkan waktu sekitar dua hari dengan melibatkan dua orang tenaga kerja.
Kondisi ini dinilai kurang efisien dan menjadi salah satu kendala dalam pemeliharaan tanaman padi.
Sebagai solusi, tim PkM mengembangkan power weeder yang mampu melakukan penyiangan pada dua baris tanaman padi sekaligus.
Alat tersebut tidak hanya berfungsi mencabut gulma, tetapi juga membantu menggemburkan tanah dan meningkatkan aerasi.
Inovasi utama terdapat pada desain piringan dan cakar penyiang yang disusun secara berselang-seling. Desain tersebut dibuat agar sesuai dengan kebutuhan penyiangan di lahan persawahan.
Pelaksanaan program dimulai dari koordinasi dengan mitra, pembuatan desain 2D dan 3D, pengadaan material, pembuatan alat, penyusunan manual book, hingga serah terima power weeder.
Tim juga memberikan pelatihan dan pendampingan secara langsung agar anggota Gapoktan Tani Maju dapat mengoperasikan serta merawat alat secara mandiri.
Hasil penerapan menunjukkan adanya peningkatan efisiensi dalam proses penyiangan.
Lahan seluas 2.000 meter persegi yang sebelumnya membutuhkan waktu dua hari dapat diselesaikan dalam satu hari. Kebutuhan tenaga kerja juga berkurang dari dua orang menjadi satu orang.
Dengan demikian, penggunaan power weeder mampu menghemat waktu penyiangan hingga 50 persen sekaligus mengurangi kebutuhan tenaga kerja sebesar 50 persen dibandingkan metode manual.
Penerapan teknologi mekanisasi pertanian tersebut diharapkan dapat membantu petani mempercepat proses pemeliharaan tanaman, mengurangi kebutuhan tenaga kerja, serta menekan biaya produksi.
Dalam jangka panjang, teknologi ini diharapkan turut mendukung peningkatan produktivitas padi dan kesejahteraan petani di Desa Doplang.
Untuk memastikan keberlanjutan program, tim PkM akan melanjutkan pendampingan penggunaan dan perawatan alat, melakukan evaluasi kinerja secara berkala, serta menyempurnakan power weeder sesuai kebutuhan petani.
Kerja sama dengan Gapoktan Tani Maju juga akan dilanjutkan melalui program pembinaan agar teknologi tersebut dapat dimanfaatkan secara mandiri dan berkelanjutan.
Program ini merupakan bagian dari Skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat, Ruang Lingkup Pengabdian Masyarakat Pemula, Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Tahun 2026.(*)
Editor : Nur PramuditoSumber : Radar Solo