Kenapa Bahasa Sanskerta Muncul di Prasasti-Prasasti Nusantara? Begini Awal Pengaruhnya

Inayah Choirunisa • Dipublikasikan Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:17 WIB
Penggunaan bahasa Sanskerta pada prasasti Nusantara berakar dari tradisi keagamaan, perdagangan, dan prestise politik.
Penggunaan bahasa Sanskerta pada prasasti Nusantara berakar dari tradisi keagamaan, perdagangan, dan prestise politik.

RADARSOLO.COM – Ketika melihat prasasti peninggalan kerajaan-kerajaan awal Nusantara, ada satu hal yang mungkin membuat penasaran. Mengapa sejumlah prasasti justru ditulis menggunakan bahasa Sanskerta, padahal bahasa tersebut bukan bahasa percakapan masyarakat Nusantara sehari-hari?

Jawabannya berkaitan dengan perjalanan panjang hubungan Nusantara dengan Asia Selatan, perkembangan agama, perdagangan, serta kebutuhan penguasa pada masa itu untuk membangun simbol kekuasaan.

Bahasa Sanskerta sendiri merupakan bahasa kuno dari Asia Selatan yang memiliki kedudukan penting dalam tradisi Hindu dan Buddha.

Baca Juga: Sebelum Indonesia Merdeka, Daerah-Daerah Ini Sudah Lebih Dulu Melawan Penjajahan

Pada awal Masehi, penggunaannya dalam prasasti berkembang luas di Asia Selatan dan kemudian menyebar ke berbagai wilayah Asia Tenggara.

Periode sekitar 300–1300 Masehi bahkan kerap disebut sebagai masa Sanskrit cosmopolis, ketika Sanskerta menjadi bahasa penting dalam kehidupan keagamaan dan politik di kawasan tersebut.

Jejak Awalnya Ada di Kutai

Salah satu bukti paling awal penggunaan Sanskerta di Nusantara ditemukan pada prasasti Yupa di Muara Kaman, Kalimantan Timur. Prasasti tersebut diperkirakan berasal dari sekitar abad ke-5 Masehi dan ditulis menggunakan aksara Pallawa dengan bahasa Sanskerta.

Yupa merupakan tiang batu yang berkaitan dengan upacara dan pemberian persembahan pada masa pemerintahan Raja Mulawarman. Isi prasasti juga mencatat kebaikan sang raja dan kegiatan keagamaan yang dilakukannya.

Baca Juga: "Merdeka" Tak Lagi Sekadar Soal Penjajahan, Begini Maknanya Kini

Penggunaan Sanskerta pada prasasti tersebut menunjukkan bahwa pada masa itu telah terjadi kontak budaya yang cukup kuat antara masyarakat Nusantara dan dunia Asia Selatan.

Namun, prosesnya tidak sesederhana anggapan bahwa bahasa Sanskerta tiba di Nusantara karena pendeta dari India datang membawa agama dan bahasa mereka. Hubungan tersebut berlangsung melalui jaringan yang lebih luas, termasuk perdagangan dan hubungan politik.

Kajian tentang Asia Tenggara awal menunjukkan bahwa kapal-kapal pedagang yang menghubungkan kawasan Samudra Hindia ikut menjadi jalur pertemuan budaya.

Di sisi lain, penguasa lokal juga memiliki peran dalam mendatangkan tokoh keagamaan dan mengadopsi unsur budaya yang dianggap sesuai dengan kebutuhan mereka. 

Mengapa Justru Dipakai untuk Prasasti?

Salah satu alasannya adalah prestise.

Sanskerta memiliki kedudukan tinggi dalam tradisi keagamaan dan intelektual Hindu-Buddha. Karena itu, penggunaannya dalam prasasti kerajaan bukan berarti masyarakat sehari-hari berbicara menggunakan Sanskerta.

Bahasa tersebut lebih banyak digunakan dalam konteks tertentu, terutama untuk menyampaikan pesan keagamaan, pujian terhadap penguasa, atau menampilkan kedudukan politik dan budaya kerajaan.

Baca Juga: Bukan Sekadar Lomba 17 Agustus, Begini Perjalanan Tradisi Merayakan Kemerdekaan dari Masa ke Masa

Fenomena serupa juga terlihat di wilayah lain. Prasasti-prasasti Tarumanagara di Jawa Barat, misalnya, menggunakan Sanskerta dan aksara yang berasal dari tradisi penulisan India. Salah satunya adalah prasasti Ciaruteun yang memuat nama Raja Purnawarman dan menghubungkannya dengan pemujaan terhadap Wisnu.

Menariknya, penggunaan unsur budaya India tersebut tidak berarti masyarakat Nusantara hanya meniru budaya dari luar. Penguasa dan masyarakat lokal justru mengadaptasinya sesuai kebutuhan masing-masing.

Kajian sejarah kini juga semakin menekankan proses lokalisasi, bukan sekadar melihatnya sebagai pengaruh satu arah dari India ke Nusantara. 

Lama-kelamaan Muncul Bahasa Lokal

Seiring perkembangan kerajaan dan tradisi tulis, penggunaan bahasa lokal dalam prasasti semakin terlihat. Di Sumatra, misalnya, prasasti-prasasti Sriwijaya pada abad ke-7 mulai menggunakan Melayu Kuno.

Sementara itu, tradisi penulisan di berbagai wilayah Nusantara berkembang dengan aksara dan bahasa yang semakin beragam. 

Hal ini menunjukkan bahwa Sanskerta bukanlah bahasa yang menggantikan seluruh bahasa lokal Nusantara. Pengaruhnya justru menjadi salah satu lapisan dalam perkembangan kebudayaan dan tradisi tulis di kawasan ini.

Jadi, ketika menemukan prasasti berbahasa Sanskerta di Nusantara, kita tidak sedang melihat bukti bahwa masyarakat pada masa itu sehari-hari berbicara Sanskerta.

Prasasti tersebut merupakan jejak pertemuan budaya, agama, perdagangan, dan politik yang kemudian diolah oleh masyarakat lokal menjadi bagian dari sejarah Nusantara. (inayah choirunisa)

Editor : Kabun Triyatno
inayah choirunisa Sansekerta prasasti nusantara bahasa