Mereka mengembangkan SafeTKI, platform berbasis blockchain yang dirancang untuk keamanan data PMI.
Selain itu, juga mempermudah proses pengaduan dan pemantauan permasalahan pekerja migran.
Inovasi tersebut digarap enam mahasiswa dari lintas program studi (prodi).
Yakni Syaban Al Musyaffa Ibnu Ahmad, Fauzan Muhammad Ihsan, Ahmad Dzaky Mubarok, Afnan Zain Muzakki, Yuanda Eka Saputra, dan Irfan Malik Tamroini.
Baca Juga: Bahasa Indonesia Makin Dominan, tapi Bahasa Daerah Masih Dipakai 73,82 Persen Penduduk
Ketua tim Syaban Al Musyaffa mengatakan, SafeTKI berangkat dari berbagai persoalan yang masih dihadapi PMI.
Mulai dari risiko penipuan, pemalsuan dokumen, kehilangan data hingga kendala dalam proses pengaduan.
“SafeTKI adalah platform digital berbasis blockchain, yang dirancang untuk meningkatkan perlindungan PMI. Platform ini membantu menyimpan dan mengelola data penting PMI secara lebih aman, transparan, dan sulit dimanipulasi,” kata Syaban, kemarin (21/8).
Selain pengelolaan data, SafeTKI dilengkapi sistem pengaduan serta pemantauan permasalahan PMI.
Sistem tersebut diharapkan mempercepat penanganan persoalan yang dialami pekerja migran.
“Tujuannya mengurangi risiko penipuan, pemalsuan dokumen, kehilangan data, dan kesulitan dalam proses pengaduan PMI. Manfaat utamanya menciptakan database yang lebih aman dan transparan, serta meningkatkan perlindungan PMI. Mulai dari sebelum keberangkatan, hingga setelah bekerja di luar negeri,” jelasnya.
Pengembangan SafeTKI diawali identifikasi permasalahan PMI.
Syaban dkk kemudian mengumpulkan data dan kebutuhan pengguna, sebelum merancang sistem serta alur platform.
Berikutnya, mengembangkan konsep blockchain, database, fitur aduan, hingga dashboard pemantauan.
Prototype kemudian disusun sebagai gambaran awal sistem, sebelum masuk tahap pengujian kepada pengguna.
“Prosesnya dimulai dari identifikasi permasalahan PMI, pengumpulan data dan kebutuhan pengguna, kemudian merancang sistem dan alur platform. Setelah itu dikembangkan konsep blockchain, database, fitur pengaduan, serta dashboard pemantauan,” ungkap Syaban.
Baca Juga: ‘Campur-Campur’ Bahasa Makin Biasa di Percakapan Sehari-hari, Mengapa?
Meskipun telah meraih prestasi internasional, SafeTKI saat ini masih berada pada tahap prototype.
Platform tersebut belum diuji coba secara langsung kepada PMI, maupun stakeholder terkait.
“Tahap selanjutnya adalah validasi dan pengujian kepada calon pengguna,” hematnya.
Menurut Syaban, proses pengembangan sempat menghadapi sejumlah kendala.
Di antaranya keterbatasan data PMI, kompleksitas teknologi blockchain, kebutuhan integrasi dengan berbagai stakeholder, serta perbedaan tingkat literasi digital calon pengguna.
Mengatasi kendala tersebut, Syaban dkk melakukan riset dan validasi secara bertahap.
Pembagian tugas juga dilakukan sesuai kompetensi masing-masing anggota. Mulai riset, pengembangan teknologi, desain produk, bisnis dan kemitraan, hingga komunikasi.
Usaha tak pernah khianati hasil. SafeTKI berhasil meraih medali perak Japan Design, Idea & Invention Expo (JDIE) di Osaka, Jepang, Juli lalu.
“Harapan kami, SafeTKI tidak berhenti sebagai prototype atau karya kompetisi. Bisa dikembangkan menjadi platform perlindungan PMI, yang benar-benar dapat diimplementasikan,” tandasnya.
Ke depan, tim menargetkan SafeTKI dapat terintegrasi dengan stakeholder terkait. Seperti pemerintah, lembaga penempatan, dan organisasi perlindungan PMI supaya lebih cepat, tepat sasaran, dan transparan. (alf/fer)
Editor : fery ardi susantoSumber : Radar Solo