RADARSOLO.COM – Coba ucapkan kata “foto” atau “video”. Saat menghasilkan bunyi F dan V, gigi atas menyentuh bibir bawah. Gerakan tersebut terlihat sederhana dan hampir tidak pernah kita pikirkan.
Namun, sebuah penelitian menunjukkan bahwa kemampuan manusia menghasilkan bunyi seperti itu ternyata memiliki hubungan dengan sesuatu yang jauh lebih mendasar: cara manusia makan.
Penelitian berjudul Human Sound Systems Are Shaped by Post-Neolithic Changes in Bite Configuration yang diterbitkan oleh tim peneliti dari University of Zurich membahas hubungan antara perubahan pola makan manusia setelah munculnya pertanian dan perubahan struktur gigitan.
Baca Juga: Kenapa Bahasa Sanskerta Muncul di Prasasti-Prasasti Nusantara? Begini Awal Pengaruhnya
Sebelum manusia mengenal pertanian secara luas, masyarakat pemburu-pengumpul banyak mengonsumsi makanan yang lebih keras dan membutuhkan aktivitas mengunyah lebih besar. Kondisi tersebut berkaitan dengan pola susunan gigi yang disebut edge-to-edge bite, ketika gigi seri atas dan bawah bertemu pada bagian tepinya.
Setelah manusia mulai bercocok tanam dan mengolah makanan dengan lebih intensif, tekstur makanan dalam banyak masyarakat menjadi relatif lebih lunak.
Perubahan pola makan dalam jangka panjang ikut berhubungan dengan perubahan struktur rahang dan susunan gigi manusia.
Baca Juga: Kok Emoji Bisa Bikin Kita Terlihat Lebih Ramah daripada Aslinya?
Manusia modern umumnya memiliki pola overbite dan overjet, ketika gigi seri atas sedikit berada di depan gigi seri bawah.
Perubahan tersebut ternyata memiliki konsekuensi lain.
Dari Gigi ke Bunyi Bahasa
Susunan gigi yang berbeda membuat beberapa posisi organ bicara menjadi lebih mudah dilakukan.
Salah satunya adalah posisi ketika bibir bawah bersentuhan dengan gigi atas. Dalam fonetik, bunyi yang dihasilkan melalui pertemuan bibir dan gigi disebut labiodental.
Bunyi /f/ dan /v/ termasuk di dalamnya.
Peneliti memperkirakan bahwa pola gigitan manusia modern membuat produksi bunyi labiodental membutuhkan usaha yang lebih kecil dibandingkan pola gigitan tertentu yang lebih umum pada manusia sebelum perubahan pola makan.
Artinya, perubahan biologis tersebut tidak secara otomatis menciptakan bunyi F dan V.
Namun, perubahan itu dapat mengubah seberapa mudah manusia menghasilkan bunyi tertentu, yang kemudian berpotensi memengaruhi perkembangan sistem bunyi suatu bahasa.
Baca Juga: 5 Fakta Menarik tentang Bahasa Indonesia
Di sinilah hubungan antara biologi manusia dan bahasa menjadi menarik.
Bahasa memang merupakan sistem sosial dan budaya. Namun, manusia tetap menggunakan tubuh untuk menghasilkan bahasa. Perubahan kecil dalam anatomi dapat ikut memengaruhi bunyi mana yang lebih mudah diproduksi.
Bahasa Ikut Berubah Bersama Manusia
Hubungan antara perubahan bunyi dan sejarah bahasa dapat dilihat dalam perkembangan sejumlah kata.
Salah satu contoh yang kerap dibahas adalah perubahan bunyi pada rumpun bahasa Indo-Eropa. Bentuk pater dalam bahasa Latin memiliki kerabat yang kemudian berkembang menjadi bentuk seperti fæder dalam bahasa Inggris Kuno dan akhirnya menjadi father dalam bahasa Inggris modern.
Namun, perubahan tersebut tidak bisa dijelaskan hanya karena perubahan susunan gigi. Evolusi bunyi dalam bahasa melibatkan banyak faktor, termasuk perubahan artikulasi, kebiasaan penutur, kontak bahasa, dan perubahan fonologis yang berlangsung selama berabad-abad.
Jadi, pertanian tidak serta-merta membuat manusia “bisa mengucapkan F dan V”.
Yang lebih menarik justru adalah bagaimana perubahan cara hidup manusia dapat meninggalkan jejak hingga ke cara manusia berbicara.
Dari makanan yang lebih lunak, susunan gigi berubah. Dari perubahan anatomi, beberapa posisi bunyi menjadi lebih mudah. Dan melalui penggunaan manusia selama bergenerasi-generasi, perubahan kecil tersebut dapat ikut menjadi bagian dari sejarah bahasa.
Ternyata, cerita tentang evolusi bahasa tidak selalu dimulai dari mulut. Kadang-kadang, kita harus melihat dulu apa yang masuk ke dalamnya. (inayah choirunisa)
Editor : Kabun Triyatno