Kenapa Bahasa Indonesia Punya Banyak Nama untuk Satu Benda? Ternyata Ada Hubungannya dengan Budaya

Kabun Triyatno • Dipublikasikan Minggu, 23 Agustus 2026 | 14:45 WIB
Kekayaan kosakata bahasa Indonesia merefleksikan hubungan erat budaya, lingkungan, dan sejarah penuturnya.
Kekayaan kosakata bahasa Indonesia merefleksikan hubungan erat budaya, lingkungan, dan sejarah penuturnya.

RADARSOLO.COM – Pernah bertanya-tanya mengapa beras yang dimasak bisa disebut nasi, tetapi sebelum menjadi beras justru disebut gabah atau padi? Sekilas, semuanya merujuk pada benda yang sama. Namun, perbedaan nama tersebut ternyata menunjukkan sesuatu yang lebih besar tentang hubungan antara bahasa dan kehidupan masyarakat.

Dalam linguistik, kajian mengenai asal-usul suatu kata disebut etimologi. Sementara itu, bagaimana suatu masyarakat memiliki dan menggunakan kosakata tertentu tidak dapat dilepaskan dari budaya, lingkungan, serta aktivitas yang mereka jalani.

Masyarakat yang kehidupannya dekat dengan pertanian, misalnya, membutuhkan istilah yang lebih spesifik untuk menjelaskan berbagai tahapan tanaman yang mereka kenal.

Baca Juga: Dari Buku Motivasi ke Kolom Komentar, Begini Perjalanan Kata "Manifesting"

Padi merupakan tanaman yang masih tumbuh di sawah. Setelah dipanen dan bulirnya dirontokkan dari tangkai, hasilnya disebut gabah. Setelah kulitnya dilepaskan, menjadi beras. Ketika beras dimasak dengan air, kita menyebutnya nasi.

Bahkan setelah itu, nasi dapat diolah menjadi berbagai makanan dengan nama berbeda, seperti bubur atau lontong.

Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa bahasa tidak hanya berfungsi untuk memberi nama benda. Bahasa juga merekam apa yang dianggap penting oleh masyarakat.

Baca Juga: Semua Disebut Skena, Memangnya Apa Artinya?

Dari Lingkungan hingga Kebiasaan

Fenomena serupa dapat ditemukan dalam berbagai bahasa di dunia.

Masyarakat yang tinggal di lingkungan tertentu biasanya memiliki kosakata yang berkembang mengikuti pengalaman mereka. Semakin sering suatu hal ditemui dan dibicarakan, semakin besar pula kebutuhan untuk membedakan atau memberinya nama.

Hal ini menjelaskan mengapa sebuah bahasa dapat memiliki banyak istilah untuk sesuatu yang mungkin hanya memiliki sedikit istilah dalam bahasa lain.

Dalam bahasa Indonesia, misalnya, kita mengenal sejumlah kata yang berkaitan dengan aktivitas sehari-hari masyarakat Nusantara. Kosakata tersebut berkembang melalui interaksi antara manusia, lingkungan, dan kebudayaan.

Bahasa juga terus berubah karena adanya hubungan antarmasyarakat.

Bahasa Indonesia sendiri merupakan bagian dari keluarga bahasa Austronesia, yang memiliki persebaran sangat luas, mulai dari Taiwan, Filipina, Indonesia, hingga kawasan Pasifik dan Madagaskar.

Kemiripan sejumlah kata di antara bahasa-bahasa dalam rumpun tersebut menjadi salah satu jejak hubungan sejarah antarmasyarakat penuturnya.

Kata mata, misalnya, memiliki bentuk yang mirip dalam sejumlah bahasa Austronesia. Bahasa Indonesia menggunakan mata, bahasa Jawa memiliki mripat atau mata dalam konteks tertentu, sementara bahasa Māori di Selandia Baru juga mengenal bentuk mata.

Kemiripan seperti ini tidak berarti seluruh bahasa tersebut sama. Bahasa dapat berubah setelah penuturnya berpindah, berinteraksi dengan masyarakat lain, dan mengembangkan kebiasaan masing-masing.

Baca Juga: Kenalan dengan Micro Joy, Kebahagiaan Kecil yang Sering Kita Lewatkan

Kosakata Juga Bisa “Berjalan”

Selain berkembang dari dalam masyarakat, kata juga dapat berpindah dari satu bahasa ke bahasa lainnya. Fenomena tersebut dikenal sebagai kata serapan.

Bahasa Indonesia memiliki banyak kosakata yang berasal dari bahasa lain, termasuk Sanskerta, Arab, Belanda, Portugis, dan Inggris.

Prosesnya pun tidak selalu menghasilkan bentuk yang persis sama. Bahasa penerima dapat menyesuaikan bunyi kata dengan sistem bunyi yang dimilikinya.

Dalam bahasa Jepang, misalnya, kata bahasa Inggris knife diserap menjadi naifu. Bentuk tersebut menyesuaikan pengucapan bahasa Jepang.

Artinya, sebuah kata yang kita gunakan sehari-hari sebenarnya dapat menyimpan perjalanan panjang.

Ada kata yang lahir dari kebiasaan masyarakat, berubah karena perpindahan manusia, dan ada pula yang datang dari pertemuan dengan bahasa lain.

Karena itu, ketika sebuah bahasa memiliki banyak istilah untuk sesuatu yang tampaknya sederhana, hal tersebut bukan sekadar menunjukkan bahwa penuturnya “kaya kosakata”.

Di balik setiap kata, sering kali ada jejak tentang apa yang dilakukan, dilihat, dimakan, dipercaya, dan diwariskan oleh masyarakat yang menggunakannya. (inayah choirunisa)

Editor : Kabun Triyatno
kata inayah choirunisa Masyarakat indonesia bahasa