RADARSOLO.COM – Kalau mendengar nama Conor McGregor, mungkin yang langsung terbayang adalah petarung UFC asal Irlandia. Namun, pernahkah terpikir bahwa bagian “Mc” dalam namanya ternyata bukan sekadar nama keluarga?
Hal serupa juga bisa ditemukan dalam nama seperti O’Brien atau Anderson. Potongan kecil dalam nama tersebut ternyata menyimpan informasi mengenai asal-usul keluarga dan hubungan dengan leluhur seseorang.
Dalam sejarah penamaan, pola seperti ini dikenal sebagai patronimik, yaitu sistem pemberian nama yang menunjukkan hubungan seseorang dengan ayah atau leluhur laki-lakinya.
Baca Juga: 10 Singkatan yang Lahir dari Budaya Internet, Berapa yang Masih Sering Kamu Pakai?
Salah satu contohnya adalah nama McGregor. Nama tersebut berasal dari bentuk Mac Griogair dalam tradisi Gaelik dan secara umum berkaitan dengan makna “anak atau keturunan Gregor”. Kata mac dalam sejumlah bahasa Keltik digunakan untuk menunjukkan hubungan sebagai anak laki-laki atau keturunan.
Begitu pula dengan O’Brien. Nama tersebut berasal dari bentuk Irlandia Ó Briain. Dalam sistem penamaan tradisional Irlandia, Ó menunjukkan keturunan dari seseorang, sedangkan Briain berkaitan dengan nama Brian.
Dengan demikian, nama yang sekarang terlihat sebagai satu kesatuan ternyata pada awalnya dapat berfungsi seperti informasi silsilah.
Baca Juga: Kok Tiba-Tiba Semua Orang Membahas Hal yang Sama? Begini Cara Algoritma Membuat Sebuah Produk Viral
Bukan Cuma di Irlandia
Sistem penamaan berdasarkan hubungan keluarga sebenarnya ditemukan di berbagai wilayah.
Di negara-negara Skandinavia, misalnya, terdapat nama keluarga yang menggunakan akhiran -son. Nama seperti Andersson secara harfiah menunjukkan hubungan dengan seseorang bernama Anders, sedangkan Johansson menunjukkan hubungan dengan Johan.
Pola tersebut juga memiliki pasangan untuk perempuan. Dalam tradisi penamaan tertentu, akhiran -dóttir berarti “anak perempuan dari”.
Islandia menjadi salah satu contoh yang menarik karena sistem patronimik masih digunakan secara luas hingga sekarang. Seseorang dapat memiliki nama yang menunjukkan nama ayah atau ibunya, sehingga nama belakang tidak selalu menjadi nama keluarga tetap yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Artinya, seorang anak dan orang tuanya tidak selalu memiliki nama belakang yang sama.
Hal tersebut berbeda dengan sistem nama keluarga modern di banyak negara yang menjadikan nama belakang sebagai identitas keluarga yang diwariskan secara turun-temurun.
Nama Sebagai “Petunjuk” Silsilah
Pada masa lalu, sistem seperti patronimik memiliki fungsi praktis.
Ketika seseorang bernama Johan memiliki anak bernama Anders, nama seperti Andersson dapat membantu orang lain mengetahui bahwa Anders adalah anak Johan. Nama tersebut menjadi semacam penanda hubungan keluarga.
Namun, seiring perkembangan masyarakat, sistem tersebut mengalami perubahan. Nama yang awalnya menjelaskan hubungan seseorang dengan ayah atau leluhurnya kemudian dapat berubah menjadi marga atau nama keluarga tetap.
Baca Juga: Dari Rinai hingga Menyunggi, Bahasa Indonesia Punya Kata yang Sangat Spesifik
Itulah sebabnya sekarang kita dapat menemukan banyak orang dengan nama keluarga yang sama meskipun mereka tidak selalu mengetahui hubungan langsung dengan leluhur yang menjadi asal nama tersebut.
Menariknya, Indonesia memiliki pola yang jauh lebih beragam.
Tidak semua masyarakat Indonesia menggunakan nama keluarga. Sebagian kelompok memiliki sistem marga, seperti masyarakat Batak, sementara masyarakat lainnya menggunakan nama pribadi tanpa nama keluarga yang diwariskan secara tetap.
Ada pula nama yang berkaitan dengan urutan kelahiran, gelar, tempat asal, atau unsur budaya tertentu.
Karena itu, ketika melihat nama seperti McGregor, O’Brien, atau Anderson, sebenarnya kita sedang melihat sisa dari cara manusia pada masa lalu menjawab pertanyaan sederhana: “Kamu anak siapa?”
Bedanya, dulu jawaban tersebut bisa langsung disisipkan ke dalam nama.
Dan dari potongan kecil seperti Mc, O’, atau -son, kita bisa membaca sedikit jejak bagaimana masyarakat di berbagai belahan dunia mengatur hubungan keluarga, identitas, dan garis keturunan. (inayah choirunisa)
Editor : Kabun Triyatno