RADARSOLO.COM - Institut Seni Indonesia (ISI) Solo membentuk Komite Etik Mahasiswa untuk mengusut insiden yang terjadi dalam kegiatan Expo Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), Jumat (21/8/2026) lalu. Pembentukan komite tersebut dilakukan bersama Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi (Satgas PPKPT).
Sebelumnya, pada Jumat (21/8/2026) malam sekira pukul 19.30 WIB, Expo UKM ISI Solo viral di media sosial. Dalam video tersebut beberapa mahasiswa tampak berjoget dan memainkan gamelan dengan cara tidak pantas di Pendapa Ageng ISI Solo.
Kepala Bagian Akademik Esha Karwinarno mengungkapkan, kejadian tersebut bermula saat pementasan UKM Musik. Tiga mahasiswa yang juga menjadi panitia kegiatan nekat memainkan gamelan dan berjoget tidak pantas di belakang Pendapa.
Baca Juga: Viral Video Euforia Sejumlah Mahasiswa di Pendopo Ageng ISI Surakarta, Kampus Minta Maaf
"UKM Musik yang terakhir itu main, dan masuk ke area panggung. Kemudian ada panitia di belakangnya joget-joget seperti itu," ujar Esha, Minggu (23/8).
Menanggapi hal tersebut, Rektor ISI Solo Bondet Wrahatnala bersama Dekan Fakultas Seni Pertunjukan Handriyotopo mengadakan jumpa pers untuk mengklarifikasi kejadian.
Bondet mengatakan, pihak kampus akan membantuk komite etik untuk melakukan investigasi terhadap pihak-pihak yang diduga terlibat. Hasil investigasi nantinya menjadi dasar untuk menentukan ada tidaknya pelanggaran serta sanksi yang diberikan.
Baca Juga: Apa Isi Video Viral Kasir Indomaret di TikTok? Ini Penjelasan Link Full Durasi 7 Menit yang Diburu N
"Kami tidak menutup kemungkinan nanti akan memberikan sanksi pada pihak-pihak yang terlibat atas dasar keputusan dari Komite Etik Mahasiswa," kata Bondet di Rektorat ISI Solo, Senin (24/8/2026).
Bondet menjelaskan, insiden tersebut terjadi setelah rangkaian Expo UKM selesai dan acara telah ditutup oleh MC. Euforia seusai kegiatan kemudian memunculkan kejadian yang menjadi sorotan setelah videonya beredar di media sosial.
"Kami punya peraturan yang memang harus melibatkan Komite Etik Mahasiswa dan juga Satgas PPKPT. Mereka akan berembuk, berkolaborasi dan nantinya memberikan sanksi terkait perilaku mahasiswa yang dianggap melanggar etika," jelasnya.
Di sisi lain, Dekan Fakultas Seni Pertunjukan (FSP) ISI Surakarta Aris Setiawan meminta publik tidak serta-merta mengaitkan insiden tersebut dengan mahasiswa baru (maba).
"Kami ingin memberikan statement bahwa kejadian tersebut mohon disampaikan kepada publik untuk tidak dijustifikasi sebagai Maba. Maba seolah terlibat dan sebagainya," tegas Aris.
Aris memastikan setiap dugaan pelanggaran akan diproses melalui mekanisme etik. Pihak yang diduga terlibat akan dipanggil dan diklarifikasi. Temuan lapangan kemudian menjadi bahan pertimbangan komite etik sebelum menentukan sanksi.
"Harus melalui proses persidangan, dipanggil, diklarifikasi. Terus apa temuan-temuan lapangan yang diinvestigasi oleh tim, sehingga bisa diputuskan mahasiswa salah atau tidak," terangnya.
Menurut dia, sanksi baru dapat diberikan berdasarkan hasil pemeriksaan dan aturan yang berlaku. Bentuknya menyesuaikan tingkat pelanggaran, termasuk kemungkinan sanksi akademik jika terbukti melanggar ketentuan.
Terkait dugaan keterlibatan satu mahasiswa dari luar ISI Surakarta, Bondet mengatakan, pihaknya telah berkomunikasi dengan kampus asal mahasiswa tersebut. Penanganan mahasiswa dari luar ISI Surakarta selanjutnya diserahkan kepada perguruan tinggi asalnya.
Studium General Disiapkan untuk Perkuat Etika Budaya Mahasiswa
Kampus menyiapkan upaya memperkuat pemahaman adab dan etika mahsiswa yang serat akan nilai budaya pada stadium general yang dijadwalkan 28 Agustus 2026. Kegiatan itu menyasar mahasiswa baru sebagai bagian dari pengenalan nilai dan budaya yang menjadi fondasi ISI Solo.
"Kita akan melaksanakan studium general pada tanggal 28 Agustus yang nanti akan membahas atau menyampaikan nilai-nilai budaya bagi mahasiswa baru," kata Bondet.
Studium general tersebut akan menghadirkan mantan Rektor ISI Solo Prof. Dr. Sutarno. Materi diharapkan memberikan pemahaman kepada mahasiswa baru mengenai karakter dan nilai budaya yang melekat dalam lingkungan kampus.
Aris menambahkan, penguatan nilai budaya tidak hanya diberikan kepada mahasiswa baru. Pihaknya juga akan memperkuat materi pada sejumlah mata kuliah berbasis kebudayaan, termasuk Wawasan Budaya Nusantara dan Etika Nusantara.
"Nantinya akan dikenalkan bagaimana cara memperlakukan ruang-ruang yang identifikasinya itu berbasis budaya, seperti pendopo, peralatan keris, gamelan dan sebagainya. Bagaimana kita sebagai generasi muda menghargai hal itu," ujar Aris.
Bondet menekankan, penggunaan pendapa harus memperhatikan prinsip empan papan, empan wektu, empan toto, dan empan roso. Prinsip tersebut mencakup pemahaman terhadap tempat, waktu, tata perilaku, serta kepatutan dalam bertindak.
Selain pembentukan komite etik dan penguatan nilai budaya, pihak kampus akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap seluruh kegiatan kemahasiswaan. (alf)
Editor : Kabun Triyatno