RADARSOLO.COM – Bahasa biasanya dibayangkan sebagai sesuatu yang terus digunakan manusia untuk berbicara. Namun, bagaimana jika sebuah bahasa sudah tidak lagi menjadi bahasa ibu suatu masyarakat? Apakah bahasa tersebut benar-benar hilang?
Dalam linguistik, kondisi tersebut dapat berkaitan dengan istilah bahasa mati atau dead language. Istilah ini tidak selalu berarti tidak ada seorang pun yang mampu menggunakan bahasa tersebut.
Sebuah bahasa dapat disebut mati ketika tidak ada lagi komunitas yang memperoleh bahasa tersebut secara alami sebagai bahasa ibu atau menggunakannya sebagai bahasa pertama dalam kehidupan sehari-hari.
Baca Juga: Kenapa Bahasa Arab Ditulis dari Kanan ke Kiri?
Salah satu contoh paling terkenal adalah bahasa Latin.
Latin pernah menjadi bahasa penting dalam Kekaisaran Romawi dan kemudian digunakan selama berabad-abad dalam bidang agama, ilmu pengetahuan, hukum, dan pendidikan di Eropa. Namun, Latin akhirnya tidak lagi berkembang sebagai bahasa ibu sebuah komunitas penutur.
Meski begitu, bukan berarti Latin menghilang begitu saja.
Bahasa tersebut masih digunakan dalam konteks tertentu, terutama dalam tradisi Gereja Katolik, penamaan ilmiah, istilah hukum, serta berbagai bidang akademik. Selain itu, bahasa-bahasa seperti Italia, Spanyol, Prancis, Portugis, dan Rumania berkembang dari variasi Latin yang digunakan masyarakat di berbagai wilayah.
Artinya, sebuah bahasa dapat kehilangan penutur asli, tetapi warisannya tetap hidup dalam bahasa lain.
Baca Juga: Bahasa Indonesia Bukan Sekadar Bahasa Melayu, Begini Perjalanannya Menjadi Bahasa Persatuan
Tidak Hanya Latin
Latin bukan satu-satunya bahasa yang mengalami kondisi serupa. Sanskerta, misalnya, tidak lagi menjadi bahasa ibu komunitas besar dalam kehidupan sehari-hari, tetapi tetap memiliki kedudukan penting dalam tradisi keagamaan, sastra, dan kajian akademik.
Ada pula bahasa Akkadia, yang pernah digunakan di Mesopotamia dan diketahui melalui berbagai peninggalan tertulis menggunakan aksara paku. Bahasa tersebut kemudian tidak lagi digunakan sebagai bahasa sehari-hari dan tergantikan oleh bahasa lain di kawasan tersebut.
Contoh lainnya adalah Gothic, bahasa dari rumpun Jermanik yang kini sudah tidak memiliki komunitas penutur asli. Keberadaannya diketahui terutama melalui peninggalan tertulis, salah satunya terjemahan Alkitab yang dikaitkan dengan Uskup Wulfila pada abad ke-4.
Sementara itu, bahasa Etruscan pernah digunakan masyarakat Etruria di wilayah Italia sebelum akhirnya tergeser oleh dominasi bahasa Latin.
Menariknya, tidak semua bahasa lama yang sudah tidak digunakan dalam percakapan sehari-hari otomatis disebut bahasa mati. Bahasa seperti Old English atau Inggris Kuno, misalnya, lebih tepat dipandang sebagai bentuk historis bahasa Inggris yang kemudian berkembang menjadi bahasa Inggris modern.
Baca Juga: “2026 Is the New 2016”, Kenapa Warganet Kembali Merindukan Era Media Sosial Lama?
Mati, tetapi Bisa Hidup Kembali
Kisah bahasa juga tidak selalu berakhir ketika penuturnya menghilang. Ada bahasa yang justru berhasil dihidupkan kembali.
Salah satu contoh paling terkenal adalah bahasa Ibrani. Selama berabad-abad, Ibrani memiliki fungsi penting dalam agama dan tulisan, tetapi tidak menjadi bahasa percakapan sehari-hari utama masyarakat Yahudi di berbagai wilayah. Kemudian, melalui proses revitalisasi yang berlangsung terutama pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, Ibrani kembali dikembangkan sebagai bahasa komunikasi sehari-hari.
Kini, bahasa Ibrani modern menjadi salah satu bahasa utama di Israel.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa “kematian” sebuah bahasa tidak selalu berarti akhir yang mutlak.
Sebuah bahasa memang dapat kehilangan penutur asli, tetapi tetap meninggalkan jejak melalui kosakata, tulisan, sastra, agama, ilmu pengetahuan, atau bahasa-bahasa yang lahir darinya.
Karena itu, ketika mendengar istilah bahasa mati, sebenarnya yang mati bukan seluruh keberadaan bahasa tersebut. Yang hilang adalah komunitas yang secara alami mewariskan bahasa itu dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Dan selama peninggalannya masih dipelajari, digunakan, atau bahkan dihidupkan kembali, sebuah bahasa yang telah “mati” ternyata masih memiliki kesempatan untuk terus berbicara kepada generasi berikutnya. (inayah choirunisa)
Editor : Kabun Triyatno