Bahasa Cia-Cia di Buton pernah mengadopsi Aksara Korea

Kabun Triyatno • Dipublikasikan Senin, 24 Agustus 2026 | 17:34 WIB
Penggunaan aksara Hangul Korea untuk bahasa Cia-Cia di Buton menjadi bukti fleksibilitas sistem tulisan.
Penggunaan aksara Hangul Korea untuk bahasa Cia-Cia di Buton menjadi bukti fleksibilitas sistem tulisan.

RADARSOLO.COM – Ketika melihat tulisan Hangul, sebagian besar orang mungkin langsung teringat Korea Selatan. Namun, siapa sangka aksara yang sama pernah digunakan untuk menuliskan salah satu bahasa daerah di Indonesia?

Fenomena tersebut berkaitan dengan bahasa Cia-Cia yang digunakan masyarakat di wilayah Bau-Bau, Pulau Buton, Sulawesi Tenggara. Bahasa Cia-Cia menjadi perhatian karena pernah diperkenalkan dengan sistem penulisan menggunakan aksara Hangul Korea.

Bahasa Cia-Cia pada dasarnya merupakan bahasa daerah yang telah digunakan masyarakat secara turun-temurun. Selama perkembangannya, bahasa tersebut lebih banyak diwariskan melalui tradisi lisan sehingga masyarakat penuturnya tidak memiliki sistem aksara tradisional yang digunakan secara luas untuk menuliskan bahasa Cia-Cia.

Baca Juga: Jangan Mudah Emosi di Kolom Komentar, Bisa Jadi Anda Sedang Terjebak Rage Bait

Kondisi tersebut kemudian menjadi salah satu alasan munculnya upaya untuk memperkenalkan sistem tulisan bagi bahasa Cia-Cia.

Cerita mengenai penggunaan Hangul bermula dari hubungan budaya antara masyarakat Bau-Bau dan Korea Selatan. Pada 2009, muncul pemberitaan mengenai upaya memperkenalkan aksara Hangul untuk menuliskan bahasa Cia-Cia.

Sebelumnya, pada 2005, sejumlah linguis dari Korea Selatan mulai memperhatikan bahasa tersebut dan melihat adanya kemungkinan penggunaan Hangul untuk merepresentasikan bunyi-bunyi dalam bahasa Cia-Cia.

Hangul sendiri merupakan sistem aksara yang digunakan untuk menulis bahasa Korea. Aksara tersebut memiliki karakteristik yang berbeda dari alfabet Latin yang selama ini lebih umum digunakan untuk menuliskan bahasa-bahasa daerah di Indonesia.

Baca Juga: Pura-Pura Checkout Jadi Tren di Korea, Cara Baru Menyalurkan Keinginan Belanja

Ketertarikan terhadap Hangul bukan berarti bahasa Cia-Cia berubah menjadi bahasa Korea. Yang berubah adalah sistem penulisannya.

Dalam linguistik, bahasa dan aksara merupakan dua hal yang berbeda. Sebuah bahasa dapat dituliskan menggunakan lebih dari satu sistem aksara. Bahasa Indonesia, misalnya, saat ini menggunakan alfabet Latin, tetapi dalam sejarahnya pernah ditulis menggunakan berbagai sistem tulisan di wilayah Nusantara.

Begitu pula dengan bahasa Cia-Cia. Penggunaan Hangul pada sejumlah materi berbahasa Cia-Cia pada waktu itu dimaksudkan sebagai salah satu upaya untuk memberikan bentuk tertulis terhadap bahasa yang sebelumnya lebih banyak diwariskan secara lisan.

Hal tersebut juga berkaitan dengan persoalan pelestarian bahasa daerah.

Bahasa daerah tidak hanya menghadapi persoalan jumlah penutur, tetapi juga perubahan pola penggunaan di tengah masyarakat. Ketika generasi muda semakin jarang menggunakan bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari, keberlangsungan bahasa tersebut dapat menghadapi tantangan.

Memiliki sistem tulisan memang tidak otomatis membuat sebuah bahasa terbebas dari ancaman kepunahan. Namun, keberadaan sistem tulisan dapat membuka ruang baru bagi bahasa untuk digunakan dalam pendidikan, dokumentasi, media, dan berbagai bentuk komunikasi tertulis.

Baca Juga: Bahasa Jawa Punya Kata-Kata yang "Pas Banget" untuk Kehidupan Sehari-hari

Meski demikian, kisah Hangul dan bahasa Cia-Cia juga tidak sesederhana cerita bahwa bahasa tersebut “mengganti” aksaranya secara permanen dengan aksara Korea.

Penggunaan Hangul untuk bahasa Cia-Cia sempat menjadi fenomena budaya yang mendapat perhatian luas, tetapi penerapannya tidak kemudian menjadikan Hangul sebagai satu-satunya sistem penulisan bahasa Cia-Cia.

Fenomena tersebut tetap menarik karena menunjukkan bahwa batas bahasa dan aksara tidak selalu sama.

Hangul dapat digunakan untuk menuliskan bahasa Korea, tetapi pada konteks tertentu juga pernah digunakan untuk merepresentasikan bahasa dari Indonesia. Artinya, aksara pada dasarnya merupakan alat untuk merekam bahasa dalam bentuk tulisan.

Kisah Cia-Cia pun memperlihatkan bahwa upaya menjaga bahasa tidak selalu harus dimulai dengan menciptakan aksara baru. Yang lebih penting adalah memastikan bahasa tersebut tetap digunakan, dipelajari, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Sebab, sebuah bahasa tidak menjadi berharga karena memiliki aksara tertentu. Bahasa menjadi hidup karena masih ada manusia yang menggunakannya. (inayah choirunisa)

Editor : Kabun Triyatno
inayah choirunisa cia-cia hangul aksara bahasa