RADARSOLO.COM – Pernah terpikir kenapa kata “ngemis” terdengar begitu dekat dengan “Kemis” atau Kamis dalam bahasa Jawa? Bagi masyarakat Jawa, kata ngemis tentu sudah sangat akrab untuk menyebut kegiatan meminta-minta.
Namun, di balik kemiripan bunyinya, terdapat cerita sejarah yang mengaitkan istilah tersebut dengan tradisi masyarakat Surakarta pada masa pemerintahan Sri Susuhunan Pakubuwono X.
Dalam bahasa Jawa, ngemis digunakan untuk menyebut aktivitas meminta atau mengharapkan pemberian dari orang lain. Sementara itu, Kemis merupakan penyebutan hari Kamis. Kemiripan tersebut kemudian melahirkan cerita mengenai kebiasaan masyarakat Surakarta pada masa lalu yang dikaitkan dengan hari Kamis.
Baca Juga: Kenapa Keraton Solo Punya Alun-Alun Lor dan Kidul? Ternyata Fungsinya Berbeda
Pada masa pemerintahan Pakubuwono X, raja Kasunanan Surakarta Hadiningrat yang memerintah pada 1893–1939, terdapat tradisi ketika raja keluar dari lingkungan keraton dan bertemu dengan rakyat. Masyarakat dapat berkumpul untuk melihat atau menyambut sang raja.
Dalam sejumlah kisah mengenai tradisi tersebut, hari Kamis disebut sebagai salah satu waktu ketika Pakubuwono X keluar keraton untuk menemui rakyatnya. Masyarakat yang datang bukan sekadar ingin melihat raja. Sebagian juga berharap memperoleh berkah atau pemberian.
Tradisi tersebut berkaitan dengan konsep hubungan antara raja dan rakyat dalam kehidupan sosial Keraton Surakarta. Raja dipandang sebagai sosok yang memiliki kedudukan tinggi dan memiliki hubungan simbolis dengan kesejahteraan rakyat. Ketika bertemu dengan masyarakat, pemberian dari pihak keraton dapat dipandang sebagai bentuk perhatian sekaligus kemurahan hati.
Baca Juga: Baru Merantau ke Solo? Kenali 4 Kosakata Jawa Ini Biar Makin Ngelokal
Masyarakat yang berkumpul kemudian menerima pemberian tersebut. Dalam cerita yang berkembang, kebiasaan itu lama-kelamaan dikaitkan dengan aktivitas meminta pada hari Kamis.
Dari sinilah muncul cerita populer mengenai hubungan antara ngemis dan Kemis.
Namun, ada hal penting yang perlu diperhatikan. Hubungan tersebut sebaiknya dipahami sebagai riwayat atau cerita etimologis yang berkembang di masyarakat, bukan kesimpulan bahwa kata ngemis secara pasti terbentuk hanya karena tradisi Kamis di Keraton Surakarta.
Dalam kajian bahasa, asal-usul sebuah kata perlu dilihat berdasarkan bukti sejarah bahasa, bentuk kata dalam berbagai periode, serta perubahan bunyi dan maknanya. Kemiripan bunyi antara dua kata saja belum cukup untuk membuktikan bahwa salah satunya berasal dari yang lain.
Meski demikian, cerita tersebut tetap menarik karena menunjukkan bagaimana bahasa dapat berkelindan dengan kebiasaan masyarakat.
Kata yang digunakan sehari-hari ternyata bisa memiliki cerita yang panjang dan berkaitan dengan kehidupan sosial pada masa lalu. Apalagi Surakarta memiliki sejarah panjang sebagai salah satu pusat kebudayaan Jawa.
Tradisi pertemuan antara penguasa dan rakyat juga menunjukkan bagaimana konsep meminta, memberi, dan mencari berkah pernah hadir dalam kehidupan sosial masyarakat.
Hari Kamis yang sekarang mungkin hanya dianggap sebagai salah satu hari kerja dalam seminggu, dalam cerita tersebut memiliki konteks yang berbeda. Ada gambaran masyarakat yang berkumpul, menunggu keluarnya raja, dan berharap mendapatkan sesuatu dari sosok yang mereka hormati.
Pada akhirnya, kita mungkin tidak bisa menyimpulkan bahwa setiap kali seseorang mengatakan “ngemis”, ia sedang menggunakan kata yang secara langsung berasal dari “Kemis”. Namun, kisah mengenai hubungan keduanya menjadi salah satu cerita menarik tentang bagaimana bahasa, tradisi, dan sejarah lokal dapat saling bertemu.
Jadi, lain kali ketika mendengar kata “ngemis” atau “Kemis”, mungkin kita bisa melihatnya bukan hanya sebagai dua kata yang terdengar mirip. Di baliknya ada cerita panjang tentang masyarakat, tradisi, dan kehidupan Surakarta pada masa lalu. (inayah choirunisa)
Editor : Kabun Triyatno