RADARSOLO.COM – Bank, bangku, dan bangkrut terdengar seperti tiga kata yang tidak punya hubungan sama sekali. Bank berkaitan dengan uang, bangku digunakan untuk duduk, sedangkan bangkrut menggambarkan kondisi ketika seseorang atau perusahaan tidak lagi mampu memenuhi kewajibannya.
Namun, jika ditelusuri melalui sejarah bahasa dan perdagangan, ketiganya membawa kita pada cerita yang cukup menarik dari Eropa.
Kisahnya bermula dari kata banco dalam bahasa Italia yang berarti bangku atau meja.
Pada masa perkembangan perdagangan di Eropa, khususnya ketika kota-kota Italia seperti Florence, Venice, dan Genoa menjadi pusat perdagangan, para pedagang dari berbagai wilayah melakukan transaksi dengan mata uang yang berbeda.
Baca Juga: Pura-Pura Checkout Jadi Tren di Korea, Cara Baru Menyalurkan Keinginan Belanja
Pada masa itu, belum ada sistem perbankan modern seperti sekarang. Pedagang dan penukar uang menjalankan aktivitasnya secara langsung di tempat-tempat umum. Mereka dapat menggunakan meja atau bangku sebagai tempat untuk menghitung, menimbang, dan menukarkan uang.
Dari sinilah kata banco kemudian memiliki kaitan dengan aktivitas keuangan. Orang yang menjalankan kegiatan penukaran uang dikenal sebagai banchiere, yang kemudian berkembang menjadi istilah yang berkaitan dengan bank dalam sejumlah bahasa Eropa.
Jejaknya masih dapat ditemukan dalam bahasa Inggris bank, bahasa Prancis banque, dan bahasa Italia banca. Semuanya memiliki hubungan etimologis dengan istilah yang berkaitan dengan tempat atau meja yang digunakan dalam kegiatan perdagangan dan keuangan.
Baca Juga: Loud Budgeting, Tren Gen Z yang Tak Lagi Gengsi Bilang “Nggak Dulu”
Menariknya, dari dunia perdagangan Italia pula muncul sebuah istilah yang kemudian dikenal luas sebagai bankrupt dalam bahasa Inggris.
Istilah tersebut berkaitan dengan ungkapan Italia banca rotta, yang secara harfiah dapat dipahami sebagai “bangku yang rusak atau pecah”. Ungkapan ini kemudian dikaitkan dengan kondisi seorang pedagang yang mengalami kegagalan finansial.
Hubungan antara banca rotta dan istilah bankrupt menunjukkan bagaimana bahasa perdagangan pada masa lalu ikut membentuk istilah ekonomi yang masih digunakan hingga sekarang.
Dalam bahasa Indonesia, bankrupt kemudian hadir dalam bentuk bangkrut. Kata ini kini digunakan untuk menggambarkan keadaan ketika seseorang, perusahaan, atau usaha mengalami kegagalan finansial dan tidak mampu memenuhi kewajibannya.
Sementara itu, kata bank juga menjadi bagian dari kosakata bahasa Indonesia melalui pengaruh bahasa-bahasa Eropa.
Maknanya tentu sudah jauh berkembang. Bank modern tidak lagi sekadar tempat pedagang duduk dan melakukan transaksi, tetapi merupakan lembaga yang menjalankan berbagai kegiatan keuangan seperti menyimpan uang, memberikan kredit, serta menyediakan layanan pembayaran.
Perjalanan kata-kata tersebut menunjukkan bahwa bahasa tidak pernah benar-benar terpisah dari kehidupan manusia. Perubahan dalam cara manusia berdagang, menggunakan uang, dan mengatur perekonomian ikut meninggalkan jejak dalam kosakata.
Namun, jauh sebelum istilah-istilah itu menjadi bagian dari percakapan sehari-hari, dunia perdagangan Eropa telah lebih dulu mempertemukan mereka dalam sejarah panjang bahasa.
Jadi, lain kali ketika mendengar kata bank, mungkin kita bisa mengingat bahwa di balik istilah yang terdengar modern itu tersimpan jejak sebuah banco, bangku atau meja tempat aktivitas perdagangan pernah berlangsung ratusan tahun lalu. (inayah choirunisa)
Editor : Kabun Triyatno