RADARSOLO.COM – Kata “nepotisme” sekarang terdengar sangat akrab. Istilah ini biasanya muncul ketika seseorang mendapatkan jabatan, pekerjaan, atau keuntungan bukan semata-mata karena kemampuan, melainkan karena memiliki hubungan keluarga dengan orang yang berkuasa.
Namun, siapa sangka kata tersebut ternyata memiliki sejarah panjang yang berkaitan dengan lingkungan kepausan di Eropa. Bahkan, asal-usulnya berhubungan dengan satu anggota keluarga yang cukup spesifik: keponakan.
Kisahnya bermula dari bahasa Italia. Kata nepotismo berkaitan dengan kata nipote, yang dapat merujuk pada keponakan atau kerabat. Dari istilah inilah kemudian berkembang kata nepotism dalam bahasa Inggris dan nepotisme dalam bahasa Indonesia.
Baca Juga: Bukan Sekadar Pasar Malam, Begini Asal-usul Tradisi Sekaten di Solo
Lalu, mengapa keponakan bisa sampai menjadi bagian dari istilah yang sekarang digunakan untuk menyebut praktik pilih kasih?
Pada masa lalu, terutama sekitar abad pertengahan hingga awal zaman modern, sejumlah Paus diketahui memberikan posisi penting kepada anggota keluarganya. Salah satu jabatan yang cukup bergengsi adalah kardinal.
Kardinal merupakan salah satu pejabat tinggi dalam Gereja Katolik dan memiliki peran penting dalam urusan gerejawi. Pengangkatan seseorang menjadi kardinal berada dalam kewenangan Paus. Posisi tersebut tentu membawa pengaruh yang besar, sehingga penunjukannya menjadi sesuatu yang sangat strategis.
Baca Juga: Pernah Kepikiran dari Mana Asal Istilah-Istilah Kantor Ini?
Dalam sejarah kepausan, beberapa Paus mengangkat kerabatnya sendiri, termasuk keponakan, ke posisi penting. Praktik tersebut kemudian dikenal sebagai “nepotisme kepausan.”
Salah satu alasan praktik ini berkembang adalah karena seorang Paus tidak selalu memiliki keturunan langsung. Keponakan atau anggota keluarga laki-laki lainnya dapat menjadi orang yang dipercaya untuk membantu mengelola kepentingan politik dan administratif di sekitarnya.
Masalahnya, hubungan keluarga dan kemampuan tentu merupakan dua hal berbeda.
Ketika seseorang memperoleh jabatan penting karena kedekatannya dengan penguasa, bukan karena kapasitasnya, muncul kritik terhadap praktik tersebut. Lama-kelamaan, istilah yang awalnya berkaitan dengan pengangkatan kerabat oleh para Paus berkembang menjadi istilah yang lebih luas.
Kini, nepotisme digunakan untuk menyebut praktik memberikan kesempatan, jabatan, atau keuntungan kepada keluarga atau kerabat secara tidak semestinya.
Menariknya, istilah tersebut ternyata tidak berhenti di dunia politik atau pemerintahan. Dalam budaya populer, kita bahkan mengenal istilah “nepo baby” untuk menyebut anak atau anggota keluarga figur terkenal yang dianggap memperoleh keuntungan karier karena koneksi keluarganya.
Istilah ini banyak digunakan dalam industri hiburan, terutama ketika anak seorang aktor, musisi, sutradara, atau tokoh terkenal mendapatkan akses yang lebih mudah ke industri yang sama.
Perdebatan mengenai nepo baby juga menunjukkan bahwa nepotisme bukan hanya persoalan “siapa yang mendapatkan pekerjaan”. Ada pertanyaan yang lebih besar mengenai kesempatan, privilege, dan titik awal seseorang dalam mengejar karier.
Seseorang yang lahir dari keluarga terkenal mungkin tetap memiliki kemampuan. Namun, ia bisa saja memiliki akses yang tidak dimiliki orang lain, seperti jaringan profesional, kesempatan bertemu produser, dukungan finansial, atau nama keluarga yang sudah dikenal.
Karena itu, kata nepotisme menjadi menarik bukan hanya karena sejarahnya, tetapi juga karena maknanya terus mengikuti perubahan masyarakat.
Dari lingkungan kepausan di Eropa hingga istilah nepo baby di Hollywood, satu gagasan tetap bertahan ketika hubungan keluarga bertemu dengan kekuasaan, kesempatan bisa menjadi tidak lagi sepenuhnya setara.
Jadi, lain kali ketika mendengar kata nepotisme, ingat bahwa istilah tersebut bukan sekadar kata dalam berita politik. (inayah choirunisa)
Editor : Kabun Triyatno