Dulu Sebutan Koin, “Duit” Sekarang Jadi Sebutan untuk Uang?

Inayah Choirunisa • Dipublikasikan Kamis, 27 Agustus 2026 | 17:00 WIB
Kata duit berakar dari koin doit bernilai kecil milik VOC yang mulai diedarkan sejak 1726.
Kata duit berakar dari koin doit bernilai kecil milik VOC yang mulai diedarkan sejak 1726.

RADARSOLO.COM – Ketika seseorang bertanya, “Ada duit nggak?”, hampir tidak ada orang Indonesia yang mengira bahwa yang dimaksud hanyalah sebuah koin tertentu.

Duit kini menjadi kata yang sangat umum untuk menyebut uang, terutama dalam percakapan sehari-hari. Namun, jauh sebelum digunakan dengan makna seluas sekarang, duit ternyata memang merupakan nama sebuah mata uang logam.

Jejaknya bahkan bisa ditemukan pada koin yang berkaitan dengan Vereenigde Oostindische Compagnie atau VOC.

Baca Juga: “Bokap” dan “Gokil” Ternyata Sandi Bahasa Anak Muda Zaman Dulu

“Duit” Tertulis di Koin VOC

Museum Bank Indonesia mencatat, koin doit pertama kali diterbitkan pada 1726 di Dordrecht, Provinsi Holland. Koin tersebut memiliki lambang VOC pada salah satu sisinya dan awalnya diedarkan di wilayah tempat VOC melakukan aktivitas perdagangan. Setelah itu, koin sejenis juga dicetak di beberapa provinsi lain di Belanda.

Koin ini memiliki nilai yang relatif kecil. Dalam glosarium VOC yang dihimpun Arsip Nasional Republik Indonesia, duit merupakan koin Belanda dengan nilai 1/8 stuiver, atau setara dengan 1/2 oortje dan 2 penning.

Artinya, kata yang sekarang terdengar begitu biasa ternyata pernah merujuk pada benda yang sangat spesifik: sejenis koin bernilai kecil.

Baca Juga: Bahasa Cia-Cia di Buton pernah mengadopsi Aksara Korea

Dari Nama Koin Menjadi Sebutan untuk Uang

Lalu bagaimana kata yang awalnya menunjuk pada satu jenis koin bisa digunakan untuk menyebut uang secara umum?

Ketika koin tersebut beredar dan digunakan dalam transaksi, kata yang melekat pada benda tersebut ikut digunakan dalam percakapan masyarakat. Dalam perkembangannya, makna duit meluas. Bukan lagi hanya merujuk pada koin tertentu, tetapi menjadi sebutan untuk uang atau alat pembayaran secara umum.

Guru Besar Ilmu Linguistik Universitas Gadjah Mada, I Dewa Putu Wijana, menjelaskan bahwa kata duit diserap dari bahasa Belanda pada masa VOC. Kepala Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah Ganjar Harimansyah juga menyebut kata tersebut telah masuk ke Indonesia sejak 1726.

Perubahan semacam ini sebenarnya bukan sesuatu yang aneh dalam bahasa.

Bahasa terus berubah mengikuti cara manusia menggunakan kata. Sebuah kata dapat mengalami perluasan makna ketika masyarakat mulai menggunakannya dalam konteks yang lebih luas daripada makna awalnya.

“Sepur” Juga Mengalami Perjalanan Serupa

Fenomena tersebut tidak hanya terjadi pada kata duit.

Ada pula kata sepur yang masih dikenal dalam beberapa daerah di Jawa untuk menyebut kereta api. Kata tersebut berkaitan dengan bahasa Belanda spoor, yang berarti rel atau jalur kereta api.

Baca Juga: Kenapa Bahasa Indonesia Punya Banyak Nama untuk Satu Benda? Ternyata Ada Hubungannya dengan Budaya

Menariknya, masyarakat kemudian menggunakan istilah tersebut untuk merujuk pada kereta api secara keseluruhan.

Hal ini menunjukkan bahwa ketika sebuah kata masuk ke dalam bahasa lain, bentuk dan maknanya tidak selalu dipertahankan secara persis.

Kata asing bisa mengalami penyesuaian bunyi, bentuk, bahkan makna. Setelah digunakan terus-menerus oleh masyarakat, kata tersebut akhirnya terasa seperti bagian dari bahasa sendiri.

Bahasa Tidak Selalu Mengikuti Kamus

Dari duit dan sepur, kita bisa melihat bahwa perjalanan sebuah kata tidak selalu berlangsung secara rapi.

Tidak ada masyarakat yang setiap hari berhenti untuk menentukan, “Mulai besok kata ini harus memiliki arti baru.”

Perubahan justru terjadi perlahan. Seseorang menggunakan sebuah kata dalam konteks tertentu. Orang lain memahaminya. Penggunaan itu kemudian ditiru dan menyebar. Lama-kelamaan, maknanya menjadi sesuatu yang dianggap wajar.

Jadi, bahasa pada dasarnya bukan sesuatu yang selalu berjalan dari atas ke bawah. Masyarakatlah yang ikut menentukan kata mana yang bertahan, berubah, atau perlahan menghilang. (inayah choirunisa)

Editor : Kabun Triyatno
duit kata inayah choirunisa koin bahasa