RADARSOLO.COM - Bengawan Tim Universitas Sebelas Maret (UNS) kembali tampilkan dua mobil hemat energi Nilankara dan Wirasena.
Keduanya merupakan inovasi kendaraan gemat energi dengan peningkatan dari yang sebelumnya 3.0 menjadi 4.0, pada Kamis (27/8).
Nilankara dan Wirasena dipersiapkan mewakili UNS dalam ajang Kontes Mobil Hemat Energi (KMHE) 2026 di Universitas Jember pada 1-4 Oktober 2026 mendatang.
Wakil Rektor Dodi Irawan dalam launching tersebut menyampaikan apresiasi terhadap kerja keras Bengawan Tim yang selama ini konsisten melakukan riset, desain, manufaktur, hingga pengembangan kendaraan hemat energi.
"Bengawan tim merupakan tim otomotif yang bergerak di bidang riset, desain, manufaktur dan pengembangan mobil hemat energi, baik berbahan bakar bensin maupun diesel," ujar Dodi.
Baca Juga: 759 Calon Mahasiswa UMS Mundur, Lanjut PTN Dan Sekolah Kedinasan
Selama perjalanannya sejak 2011, tim terus melahirkan berbagai generasi kendaraan sekaligus menorehkan prestasi di tingkat nasional maupun internasional.
"Pada ajang Shell Eco-Marathon 2026, generasi sebelumnya dari Nilarankara berhasil mencatat konsumsi bahan bakar 754,04 kilometer per liter dan meraih juara III kategori internal combustion," paparnya.
Ia berpesan agar tim tidak berhenti pada pencapaian lomba. Riset dan inovasi yang dikembangkan mahasiswa diharapkan memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
"Jangan hanya berhenti di inovasi dan jangan cepat berpuas diri. Jadikan proses riset, pengujian maupun kompetisi sebagai kesempatan untuk belajar dan melakukan penyempurnaan," pesan Dodi.
Dengan kendaraan generasi terbaru tersebut, Bengawan tim ditargetkan kembali mengharumkan nama UNS, Kota Surakarta, hingga Indonesia di ajang kompetisi kendaraan hemat energi.
Sementara itu, Ketua Bengawan Tim Asulari Gaza Praditya mengatakan, Nilarankara 4.0 mengalami sejumlah pembaruan dibandingkan generasi sebelumnya.
"Salah satunya melalui pengurangan bobot dengan penggunaan sasis (rangka kendaraan) berbahan serat karbon dan konsep semi-monokok. Mobil ini menggunakan mesin berbasis sepeda motor dengan rasio kompresi 12:1," ujarnya.
Nilarankara 4.0 memiliki panjang sekitar 3,1 meter, lebar 0,8 meter dan tinggi 0,6 meter. Kendaraan ini menggunakan bahan bakar Pertamax.
Adapun Wirasena 4.0 dirancang dengan bentuk menyerupai mobil konvensional sehingga lebih aplikatif untuk penggunaan di jalan raya.
"Bobotnya berhasil kita kurangi dari sekitar 120 kilogram menjadi 99 kilogram melalui penggunaan sasis ladder frame dan bodi serat karbon," tambahnya.
Baca Juga: Goara-Goara Karya Dosen UTP Solo, Nguri-uri Permainan Tradisional Dengan Sentuhan Teknologi
Wirasena 4.0 memiliki panjang 2,6 meter, lebar 1,3 meter dan tinggi 1,1 meter. Mobil tersebut masih menggunakan mesin Yanmar L48 dengan rasio kompresi sekitar 20:1 serta bahan bakar diesel.
"Prototipe Nilankara dengan bahan bakar pertamax turbo dikira-kira bisa pulang-pergi ke Lombok per liternya. Sedangkan Wirasena dengan bahan bakar diesel bisa pulang-pergi Jakarta. Maksimalnya di 50 Km/jam," jelas Asulari.
Melalui peluncuran ini diharapkan bukan sekadar catatan akademik, melainkan menjadi kontribusi nyata untuk mendukung efisiensi energi dan pembangunan berkelanjutan. (alf/fer)
Editor : fery ardi susantoSumber : Radar Solo