RADARSOLO.COM - Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon mengapresiasi karya-karya mahasiswa dalam program unggulannya Belajar Bersama Maestro di Geleri Seruni ISI Solo, Rabu sore (26/8).
Ia menyoroti seni tidak hanya menjadi medium untuk menghasilkan karya estetis, tetapi juga dapat menjadi ruang untuk menyuarakan kritik terhadap persoalan lingkungan.
“Lukisan itu bercerita lebih dari ribuan kata. Di dalamnya ada kritik, masukan, tindakan dengan beragam teknik yang dikuasai,” kata Fadli.
Menurutnya, para peserta merupakan mahasiswa terpilih dari perguruan tinggi seni maupun universitas yang memiliki fakultas seni rupa di berbagai daerah.
Baca Juga: Bengawan Tim UNS Luncurkan Dua Mobil Hemat Energi, Solo-Lombok PP Cuma 1 Liter
Program tersebut tidak hanya diarahkan pada peningkatan kemampuan teknis, tetapi juga menjadi ruang dialog antara mahasiswa dengan maestro.
“Di tengah proses belajar itulah yang kita harapkan terjadi dialog dan conversation serta transfer of knowledge dan pengalaman hidup, sehingga terjadi juga pencapaian artistik yang lebih maksimal serta kedalaman substansi dari tema alam dan lingkungan hidup ini,” ujarnya.
Fadli menyebut, karya yang dipamerkan banyak menggunakan pendekatan surealistik. Menurut dia, lukisan dapat bercerita melebihi ribuan kata.
Karya-karya tersebut mampu menyampaikan gagasan dan kritik terhadap kerusakan lingkungan saat ini.
“Program ini bertujuan meninggalkan warisan dari maestro dari segala bidang seni. Ada tari dengan Didi Nini Thowok, sastra dengan Ahmad Tohari, teater dan karya-karya lainnya supaya ada pewarisan kepada generasi muda,” pungkasnya.
Maestro seni rupa I Gusti Nengah Nurate menjelaskan, tema alam dan lingkungan hidup dipilih untuk menggambarkan kondisi lingkungan Indonesia yang menurutnya semakin memprihatinkan.
"Alam dan lingkungan ini kita ambil sebagai penggambaran kondisi alam di Indonesia yang paling tragis akhir-akhir ini. Bagaimana pemangku kebijakan akhir-akhir ini dengan berbagai alasan merusak hutan dan menelantarkan binatang. Seperti contoh di Sumatera dan Aceh. Mereka merusak ciptaan Tuhan dan tidak merasa berdosa," paparnya saat ditemui selepas acara.
Ia menilai kerusakan hutan dan persoalan satwa menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian serius. Karena itu, seni diharapkan mampu membangun kepekaan generasi muda terhadap lingkungan.
“Kita ingin generasi saat ini bisa peka terhadap alam dan bisa mengkritisi serta memiliki rasa empati, peduli, serta memiliki niat untuk melestarikan segala ciptaan Tuhan,” kata Nurate.
Dalam program tersebut, Nurate membimbing enam mahasiswa selama sekitar 30 hari. Mereka berasal dari sejumlah perguruan tinggi seni, di antaranya ISI Solo, UNS, dan ISI Jogja.
Baca Juga: Nepotisme, Kata yang Lahir dari Kebiasaan Paus Mengangkat Keponakannya Sendiri
“Saya mengajari mereka untuk menciptakan karya yang melibatkan ketajaman seni pikiran, seni kepekaan perasaan, seni kehalusan, kekuatan daya refleksi jiwa, kekayaan gagasan, kematangan konsep, persyaratan nilai filosofi dan kedalaman seni,” jelasnya.
Rektor ISI Solo Bondet Wrahatnala mengatakan, program Belajar Bersama Maestro menjadi ruang penting untuk mempertemukan pengalaman, pengetahuan, nilai keteladanan dan tradisi kreatif maestro dengan energi serta gagasan generasi muda.
Menurutnya, kampus seni tidak boleh terpisah dari kehidupan kebudayaan. Kampus harus menjadi ruang pertemuan antara tradisi dan inovasi, maestro dan generasi muda, serta seni dengan berbagai persoalan kehidupan masyarakat.
“Karya-karya yang lahir dari proses Belajar Bersama Maestro hendaknya menjadi jejak pembelajaran sekaligus awal dari perjalanan kreatif para peserta untuk terus berkarya, bereksplorasi dan memberikan kontribusi bagi perkembangan seni rupa Indonesia,” kata Bondet. (alf/fer)
Editor : fery ardi susantoSumber : Radar Solo