RADARSOLO.COM - Perawatan tanaman kini bisa dilakukan lebih praktis dan efisien, dengan memanfaatkan teknologi internet of things (IoT).
Berupa inovasi Smart Plant Monitoring yang dikembangkan mahasiswa Pendidikan Teknik Informatika Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS).
Inovasi ini digagas Shandy Yusril Fadlullah, Silvyana Nur Hidayat, Fadhilah Fajar Hadid, Nawwaf Trystiadi, dan Muhammad Alfin Indra Prasetyo.
Alat tersebut dikembangkan saat mereka masih duduk di bangku semester VI.
Baca Juga: Asap Kebakaran TPA Putri Cempo Masuk Kelas SMP 5 Solo, Siswa Pulang Lebih Awal
Shandy menjelaskan, sistem tersebut memanfaatkan mikrokontroler ESP32 yang terhubung dengan tiga jenis sensor.
Sensor DHT11 digunakan untuk membaca suhu dan kelembapan udara, DS18B20 untuk mengukur suhu di dalam tanah, sedangkan soil moisture sensor digunakan untuk mengetahui tingkat kelembapan tanah.
Data dari sensor dapat dipantau melalui aplikasi Blynk maupun layar OLED yang terpasang pada perangkat.
Dengan begitu, pengguna bisa mengetahui kondisi tanaman dari jarak jauh melalui ponsel, maupun secara langsung melalui layar perangkat.
“Tujuannya untuk mempermudah perawatan tanaman secara akurat, efisien, dan fleksibel. Jadi tidak bergantung pada penyiraman secara manual lagi,” jelas Shandy.
Sistem tersebut juga dirancang agar penyiraman lebih presisi.
Pompa air hanya akan aktif ketika kelembapan tanah berada di bawah batas yang telah ditentukan.
Pengguna bahkan dapat memilih jenis tanaman melalui aplikasi, sehingga batas kelembapan dapat disesuaikan.
“Kami sudah simulasi ke tanaman pepaya, dengan batas kelembapan minimum 40 persen, sedangkan pisang 50 persen. Ketika kondisi tanah mencapai batas kering yang ditentukan, sistem akan mengaktifkan pompa melalui relay. Pompa nantinya akan berhenti ketika kelembapan tanah telah memenuhi batas,” imbuh Shandy.
Pengembangan inovasi tersebut diawali perancangan ide dan arsitektur sistem.
Shandy dkk kemudian memetakan pin pada ESP32, menentukan komponen dan jalur sensor, merakit perangkat keras, mengintegrasikan sistem dengan Blynk, hingga pemrograman dan pengujian.
Baca Juga: 8.200 Maba UMS Ikuti MASTA PMB 2026, 58 Di Antaranya Mahasiswa Asing
Salah satu tantangan yang dihadapi, yakni keterbatasan pin pada ESP32 ketika harus menghubungkan sejumlah sensor sekaligus.
Kendala lainnya berupa penurunan daya ketika relay aktif, serta ESP32 yang sesekali mengalami restart.
“Untuk mengatasinya, kami menggunakan baseplate dan reconnect WiFi melalui program. Jadi di dalam program bisa dimasukkan beberapa jaringan WiFi yang sudah ditentukan,” urainya.
Kestabilan jaringan menjadi kunci utama, karena sistem membutuhkan koneksi internet untuk sinkronisasi data dengan aplikasi Blynk.
Setelah pengembangan selama 1-1,5 minggu untuk perangkat fisik, sistem kemudian diuji pada beberapa tanaman.
Pengujian dilakukan dengan membandingkan tanaman saat kondisi tanah basah dan kering.
Hasilnya, sistem mampu membaca suhu dan kelembapan, serta mengaktifkan relay untuk menjalankan pompa secara otomatis.
Pengguna juga dapat memilih mode manual maupun otomatis melalui aplikasi Blynk.
Baca Juga: Dikepung Asap Tebal Kebakaran TPA Putri Cempo, KBM SMAN 8 Solo Terganggu
“Dalam mode manual, pompa dapat dinyalakan langsung oleh pengguna. Sedangkan untuk mode otomatis, sistem bekerja berdasarkan tingkat kelembapan tanah yang terbaca sensor," bebernya.
Inovasi tersebut mendapat apresiasi dengan menjadi salah satu kelompok terbaik dalam tugas akhir. Kemudian ditampilkan dalam kegiatan asesmen di Auditorium UMS, belum lama ini.
“Harapannya tidak berhenti di prototype. Kami ingin mengembangkan smart agriculture yang lebih luas. Termasuk sistem pemupukan otomatis dan prediksi kebutuhan air,” jelas Shandy. (alf/fer)
Editor : fery ardi susantoSumber : Radar Solo