Mahasiswa KKN UTP Ciptakan Alat Pembakaran Sampah, Asap Lebih Minim

Alfida Nurcholisah • Dipublikasikan Minggu, 6 September 2026 | 16:38 WIB
Mahasiswa KKN Universitas Tunas Pembangunan (UTP) Surakarta di Desa Karungan, Sragen membuat alat pembakaran sampah sederhana yang diklaim mampu mengurangi asap dibandingkan pembakaran secara terbuka. (DOK.UTP)
Mahasiswa KKN Universitas Tunas Pembangunan (UTP) Surakarta di Desa Karungan, Sragen membuat alat pembakaran sampah sederhana yang diklaim mampu mengurangi asap dibandingkan pembakaran secara terbuka. (DOK.UTP)

RADARSOLO.COM - Persoalan sampah di pedesaan menjadi perhatian mahasiswa KKN Universitas Tunas Pembangunan (UTP) Surakarta.

Di Desa Karungan, Sragen, mahasiswa membuat alat pembakaran sampah sederhana yang diklaim mampu mengurangi asap dibandingkan pembakaran secara terbuka.

Inovasi tersebut ditunjukkan dalam Monitoring dan Evaluasi (Monev) KKN PMM UTP 2026 belum lama ini. Jajaran rektorat, dekan, dan panitia KKN melihat langsung demonstrasi alat yang dibuat mahasiswa.

Baca Juga: Terdampak Asap, Warga Plesungan Karanganyar Ngungsi ke GOR UTP Solo, Rabu Harus Geser karena Dipakai Wisuda

Sampah yang telah dikumpulkan dimasukkan ke dalam alat sebelum dibakar. Saat proses berlangsung, asap yang dihasilkan terlihat relatif lebih sedikit dibandingkan pembakaran sampah secara terbuka.

Ketua Kelompok KKN Desa Karungan Andika Mustaqin mengatakan, ide tersebut muncul setelah mahasiswa melihat masih adanya kebiasaan warga membakar sampah secara langsung.

“Kami melihat pembakaran sampah secara terbuka masih menjadi salah satu cara yang dilakukan masyarakat. Karena itu, kami mencoba membuat tempat pembakaran yang lebih tertata dan bisa mengurangi asap,” ujarnya.

Meski masih sederhana, Andika berharap alat tersebut dapat dimanfaatkan masyarakat. Ke depan, alat juga masih bisa dikembangkan agar pengelolaan sampah semakin efektif.

Rektor UTP Surakarta Winarti mengapresiasi inovasi tersebut.

Menurutnya, KKN tidak sekadar menjadi kegiatan seremonial mahasiswa, tetapi harus mampu memberikan solusi atas persoalan yang ditemui di masyarakat.

Baca Juga: Pidato Kebudayaan di Kampus UTP Solo, Fadli Zon Dorong Mega Diversity Jadi Kekuatan Ekonomi

“Ini contoh bahwa mahasiswa mampu melihat persoalan yang ada di masyarakat kemudian mencoba menghadirkan solusi dengan pengetahuan dan kreativitas yang mereka miliki,” katanya, Minggu (6/9).

Winarti berharap inovasi yang dihasilkan mahasiswa tidak berhenti setelah program KKN selesai.

Masyarakat diharapkan dapat melanjutkan sekaligus mengembangkan program yang telah dibuat.

Selain Desa Karungan, Monev juga dilakukan di Desa Ngarung. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi evaluasi terhadap berbagai program yang telah dijalankan mahasiswa selama berada di desa.

Baca Juga: Goara-Goara Karya Dosen UTP Solo, Nguri-uri Permainan Tradisional Dengan Sentuhan Teknologi

Monev sekaligus penarikan mahasiswa menandai berakhirnya rangkaian KKN UTP di kedua desa.

Meski mahasiswa kembali ke kampus, program yang telah dijalankan diharapkan tetap memberikan manfaat bagi masyarakat. (alf)

Editor : Tri Wahyu Cahyono
Sumber : Radarsolo.jawapos.com
KKN UTP alat pembakaran sampah minim asap