RADARSOLO.COM – Sarana dan prasarana (sarpras) di TK Aisyiyah 39 Keratonan, Kecamatan Serengan, Solo terbilang memprihatinkan.
Atap ruang kelas bahkan nyaris ambruk dan hanya ditopang bilah bambu.
Kondisi ini sangat membahayakan keselamatan siswa, sehingga upaya renovasi sangat mendesak dilakukan.
Pantauan Jawa Pos Radar Solo di lokasi, Selasa (8/9), kondisi bangunan TK Aisyiyah 39 Keratonan bikin mengelus dada. Kerusakan terjadi di berbagai titik dan sudah berjalan hampir lima tahun.
Di antaranya kamar mandi, atap penyangga tampungan air, atap tempat cuci tangan, atap area bermain, serta ruang kelas dan kantor, hingga pagar besi yang mulai berkarat.
Baca Juga: Pemkot Solo Bangun Dua PAUD Negeri, Digelontor Anggaran Pusat Rp 3,2 Miliar
“Atap ruang kelas dan kantor hampir roboh. Sementara ini disangga dengan bambu. Kalau gentingnya hanya tambal sulam, soalnya belum ada anggaran perbaikan,” jelas Kepala TK Aisyiyah 39 Keratonan Yuli Astuti.
Yuli menambahkan, kondisi tersebut sudah dilaporkan ke pihak yayasan. Namun karena keterbatasan dana, renovasi hingga kini tak kunjung terealisasi.
“Dari yayasan memberikan saran untuk mengajukan dana. Pihak yayasan juga berupaya menggalang dana untuk renovasi,” bebernya.
Di sisi lain, secercah harapan muncul saat kunjungan Bunda PAUD Kota Solo Venessa Winastesia, pekan lalu.
Menurut Venessa, Pemkot Solo membuka peluang bagi PAUD untuk mengajukan proposal bantuan renovasi.
Salah satu bagian yang menjadi perhatian, yakni kondisi kamar mandi.
Menurutnya, kerusakan tersebut cukup membahayakan apabila dibiarkan. Terlebih saat digunakan anak-anak.
“Kemarin sudah saya bilang ke kepala sekolahnya untuk segera bikin proposal. Minta bantuan ke dinas pendidikan (disdik) supaya nanti segera diproses,” jelas Venessa.
Sementara itu, Kepala Disdik Kota Solo Dwi Ariyatno mengaku pengelolaan PAUD swasta menjadi tanggung jawab yayasan atau pengelola.
Namun, pemkot tetap memberikan dukungan apabila terdapat kebutuhan fasilitas yang mendesak.
Baca Juga: UMS Tegaskan Kampus Aman Dari Tindak Kekerasan
Salah satunya melalui dana hibah untuk perawatan, maupun perbaikan sarpras.
Pengajuan bantuan nantinya diverifikasi, untuk menentukan tingkat kerusakan dan kebutuhan biaya.
“Tidak semua yang diminta terpenuhi. Ada prioritas. Kalau berpotensi mengancam jiwa, itu prioritas satu. Mengganggu proses belajar, prioritas dua. Sedangkan estetika atau tampilan menjadi prioritas tiga,” beber Dwi.
Tahun depan, Dwi memperkirakan Pemkot Solo memiliki pagu anggaran sekira Rp 2 miliar untuk dana hibah pendidikan.
Namun, besaran bantuan setiap sekolah akan disesuaikan tingkat kerusakan dan hasil penghitungan kebutuhan.
Sebelumnya, dana hibah juga diberikan untuk perbaikan TK Gaya Baru. Totalnya hampir Rp 200 juta.
Dana tersebut digunakan untuk mengganti konstruksi atap, pengecatan, lantai, serta keramik lantai.
“Nanti dilihat tingkat kerusakannya. Kemudian dihitung komponen biaya yang dibutuhkan. Setelah diverifikasi, baru ditentukan bantuan yang diberikan,” ujar Dwi. (alf/fer)
Editor : fery ardi susantoSumber : Radar Solo