RADARSOLO.COM - Pemerintah galakkan program swasembada pangan melalui produksi padi dan jagung.
Sayangnya, sektor pertanian memiliki musuh utama, yakni hama tikus, burung, hingga wereng.
Inilah yang mendasari mahasiswa Sekolah Vokasi Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo kembangkan IoT Hama.
Berupa alat pengusir hama pertanian berbasis internet of things (IoT).
IoT Hama dirancang untuk mengatasi gangguan hama tikus, burung, dan wereng, sekaligus mengurangi ketergantungan petani terhadap pestisida kimia.
Baca Juga: Ganas! Hama Wereng Cokelat Ganyak 83 Hektare Padi Siap Panen di Banyudono Boyolali
Alat ini dikembangkan Hafiz Ahmad Husaini sebagai infrastructure engineering, Almaz Yusuf Zanuar yang fokus pada embedded system IoT, serta Satrio Aji Pamungkas sebagai pengembang perangkat mobile.
Ketiganya merupakan mahasiswa yang sebelumnya menempuh D3 Teknik Informatika UNS, yang kini berkembang menjadi Program Studi (Prodi) Sarjana Terapan Teknologi Informasi dan Kecerdasan Artifisial (Startika) UNS.
IoT Hama menggabungkan sejumlah teknologi.
Mulai dari sensor radar, frekuensi ultrasonik, sirene, cahaya, hingga light trap. Perangkat tersebut dapat dikendalikan dari jarak jauh melalui aplikasi mobile.
Sementara kebutuhan energinya memanfaatkan panel surya.
Hafiz menjelaskan, masing-masing hama menerapkan metode penanganan berbeda. Tikus misalnya, diusir dengan gelombang ultrasonik.
Kemudian hama burung dihalau dengan suara sirene dan kilatan cahaya.
Sedangkan wereng menggunakan light trap untuk menarik sekaligus menangkap hama.
“Konsepnya bagaimana alat ini bisa mengusir hama, tanpa harus menggunakan pestisida kimia secara terus-menerus. Sistemnya juga bisa dikontrol dari jarak jauh,” jelas Hafiz, Jumat (11/9).
Dari pengujian yang dilakukan, tikus diusir dengan frekuensi ultrasonik sekira 40-65 kHz.
Baca Juga: Trauma Tanam Padi, Petani Banyudono Boyolali Merugi Rp5 Juta per Patok Akibat Hama Tikus
Kemudian burung diuji dengan suara pada rentang frekuensi tertentu. Sedangkan wereng ditangkap menggunakan light trap dan juga diuji dengan frekuensi ultrasonik sekira 40 kHz.
“Pengujian telah dilakukan di laboratorium maupun lapangan dalam skala kecil, dengan radius sekitar 50 meter. Hasil awal menunjukkan perangkat dapat mengganggu dan menghalau hama sesuai metode yang digunakan,” imbuh Hafiz.
Selama pengembangan alat ini, sejumlah kendala ditemui.
Terutama terkait biaya komponen, penentuan frekuensi yang paling efektif untuk setiap jenis hama, hingga kebutuhan lokasi dan waktu pengujian lapangan.
Hafiz dkk mengatasinya dengan memanfaatkan energi alternatif, riset frekuensi secara bertahap, serta pembagian tugas dalam tim.
Hasilnya, inovasi tersebut telah memperoleh sertifikat Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Berupa hak cipta aplikasi IoT Hama dan pendaftaran paten sederhana alat IoT pengusir hama.
Dosen pembimbing Fendi Aji Purnomo menambahkan, pengembangan alat ini sudah dimulai sejak 2024.
Hingga kini pengembangan masih terus dilakukan.
“Tim mahasiswa sedang mengarah pada integrasi kecerdasan buatan (AI), agar perangkat nantinya mampu menentukan waktu pengoperasian yang lebih tepat berdasarkan kondisi hama dan lingkungan sekitar,” beber Fendi.
Dengan begitu, penggunaan energi dari panel surya bisa lebih efisien.
Petani tidak harus menyalakan perangkat sepanjang waktu, apabila sistem nantinya mampu menentukan kapan alat diperlukan.
“Ke depan kami ingin alat ini tidak hanya sekadar dikendalikan dari aplikasi, tetapi juga bisa menentukan kapan waktu yang tepat untuk bekerja. Sehingga lebih efisien,” ujar Hafiz. (alf/fer)
Editor : fery ardi susantoSumber : Radar Solo