Stunting dan Kesehatan Anak: Dari Keluarga Sehat Menuju Desa Bebas Stunting

Nur Pramudito • Dipublikasikan Rabu, 16 September 2026 | 11:07 WIB
Stunting dan Kesehatan Anak: Dari Keluarga Sehat Menuju Desa Bebas Stunting
Stunting dan Kesehatan Anak: Dari Keluarga Sehat Menuju Desa Bebas Stunting

OLEH: Dr. Dyah Rahmawatie Ratna Budi Utami, M.Kep.; Fida’ Husain, S.Kep., Ns., M.Kep.; Chandra Wisnu Utomo, S.E., M.M.; Dr. Haryoto, M.Sc.

Stunting masih menjadi salah satu masalah penting dalam kesehatan anak di Indonesia.

Secara sederhana, stunting adalah kondisi gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak akibat gizi buruk, infeksi berulang, dan stimulasi psikososial yang tidak memadai.

Anak dikategorikan stunting apabila tinggi badan menurut umur berada lebih dari dua standar deviasi di bawah median standar pertumbuhan anak WHO (World Health Organization [WHO], 2015).

Stunting bukan sekadar persoalan tinggi badan anak yang lebih pendek dari teman seusianya.

Kondisi ini dapat memengaruhi perkembangan otak, daya tahan tubuh, kemampuan belajar, dan kualitas kesehatan anak dalam jangka panjang.

Karena itu, stunting perlu dipahami sebagai masalah kesehatan masyarakat yang berdampak pada masa depan generasi, bukan hanya sebagai masalah gizi individu (WHO, 2014, 2015).

Secara global, stunting masih menjadi tantangan besar. Estimasi bersama UNICEF, WHO, dan World Bank menunjukkan bahwa pada tahun 2024 terdapat sekitar 150,2 juta anak usia di bawah lima tahun yang mengalami stunting, atau sekitar 23,2% dari seluruh balita di dunia.

Data ini menunjukkan bahwa stunting masih menjadi persoalan serius yang membutuhkan intervensi lintas sektor dan berkelanjutan (UNICEF, WHO, & World Bank, 2025).

Di Indonesia, hasil Survei Status Gizi Indonesia atau SSGI 2024 menunjukkan bahwa prevalensi stunting nasional turun menjadi 19,8%.

Capaian ini menunjukkan adanya kemajuan, tetapi tetap membutuhkan penguatan program karena hampir satu dari lima balita masih mengalami gangguan pertumbuhan.

Penurunan stunting perlu terus dilakukan melalui keterlibatan keluarga, Posyandu, tenaga kesehatan, pemerintah desa, perguruan tinggi, dan masyarakat (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2025).

Pencegahan stunting paling efektif dilakukan sejak masa 1000 Hari Pertama Kehidupan, yaitu sejak kehamilan hingga anak berusia dua tahun.

Periode ini merupakan masa emas karena pertumbuhan otak, organ tubuh, sistem imun, dan perkembangan anak berlangsung sangat cepat.

Oleh karena itu, kesehatan ibu hamil, pemenuhan gizi, pemeriksaan kehamilan, pemberian ASI eksklusif, MP-ASI yang tepat, imunisasi, dan pemantauan tumbuh kembang menjadi bagian penting dalam pencegahan stunting (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2024a).

Penyebab stunting tidak hanya berkaitan dengan kekurangan makanan. Anak dapat mengalami stunting karena kombinasi asupan gizi yang tidak adekuat, infeksi berulang, pola asuh yang kurang optimal, sanitasi buruk, keterbatasan akses layanan kesehatan, dan rendahnya literasi keluarga tentang gizi anak.

Karena itu, pencegahan stunting harus dilakukan secara menyeluruh melalui intervensi gizi spesifik dan intervensi gizi sensitif yang melibatkan berbagai sektor (Sekretariat Wakil Presiden Republik Indonesia, 2018; WHO, 2014).

Salah satu kunci penting dalam pencegahan stunting adalah pemenuhan protein hewani.

Protein hewani seperti telur, ikan, ayam, daging, susu, dan hati ayam mengandung zat gizi penting yang mendukung pertumbuhan anak.

Kementerian Kesehatan menekankan bahwa konsumsi protein hewani setelah bayi berusia lebih dari enam bulan menjadi salah satu strategi penting untuk mencegah stunting (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2023a).

Telur merupakan salah satu sumber protein hewani yang mudah diperoleh, relatif terjangkau, dan mudah diolah oleh keluarga.

Telur mengandung protein berkualitas tinggi, vitamin D, zat besi, vitamin B12, dan zat gizi lain yang berperan dalam pertumbuhan anak, kesehatan tulang, pembentukan sel darah merah, serta pencegahan anemia.

Oleh karena itu, gerakan one day one egg dapat menjadi strategi sederhana untuk mendukung kecukupan gizi anak, dengan tetap memperhatikan usia, kondisi kesehatan, dan anjuran tenaga kesehatan (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2024b).

Selain protein hewani, pemanfaatan pangan lokal juga dapat mendukung pencegahan stunting.

Daun kelor merupakan salah satu tanaman lokal yang dikenal memiliki potensi sebagai bahan pangan keluarga. Namun, penggunaan kelor sebaiknya diposisikan sebagai bagian dari pola makan bergizi seimbang, bukan sebagai pengganti utama protein hewani atau layanan kesehatan anak.

Pemanfaatan kelor dalam edukasi dan inovasi makanan keluarga juga telah diterapkan dalam kegiatan pemberdayaan kader Dapur Sehat Atasi Stunting di Desa Jetis (Utami et al., 2024; WHO, 2014).

Upaya pencegahan stunting akan lebih kuat bila dilakukan berbasis masyarakat. Posyandu dan kader kesehatan berperan penting dalam pemantauan pertumbuhan anak, edukasi ibu hamil dan keluarga balita, deteksi dini anak berisiko stunting, serta penggerakan masyarakat agar rutin mengakses layanan kesehatan.

Dalam panduan Kementerian Kesehatan, kader Posyandu merupakan unsur penting dalam pelayanan kesehatan dasar berbasis masyarakat (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2019).

Dalam semangat tersebut, Universitas ‘Aisyiyah Surakarta melalui program Pemberdayaan Desa Binaan (PDB) Guna Mewujudkan Desa Sehat Bebas Stunting Berbasis Masyarakat yang Berkelanjutan di Desa Jetis Kabupaten Sukoharjo turut berkontribusi dalam penguatan kesehatan anak dan pencegahan stunting.

Program ini merupakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat multi-tahun yang telah tercatat dalam pemberitaan LLDIKTI Wilayah VI dan laman SINTA sebagai program PDB di Desa Jetis Kabupaten Sukoharjo (LLDIKTI Wilayah VI, 2024; SINTA Kemdiktisaintek, 2024).

Kegiatan ini merupakan kolaborasi Universitas ‘Aisyiyah Surakarta dengan Universitas Muhammadiyah Surakarta. Tim pelaksana terdiri atas Dr. Dyah Rahmawatie Ratna Budi Utami, M.Kep. dari Universitas ‘Aisyiyah Surakarta; Fida’ Husain, S.Kep., Ns., M.Kep. dari Universitas ‘Aisyiyah Surakarta; Chandra Wisnu Utomo, S.E., M.M. dari Universitas ‘Aisyiyah Surakarta; dan Dr. Haryoto, M.Sc. dari Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Kolaborasi lintas perguruan tinggi ini memperkuat pelaksanaan program karena menggabungkan peran akademisi, tenaga kesehatan, pemberdayaan masyarakat, dan dukungan kelembagaan dalam upaya pencegahan stunting berbasis desa (Universitas ‘Aisyiyah Surakarta & Universitas Muhammadiyah Surakarta, 2026).

Berdasarkan data monitoring program kolaboratif Universitas ‘Aisyiyah Surakarta dan Universitas Muhammadiyah Surakarta, jumlah anak stunting di Desa Jetis dilaporkan menurun secara bertahap dalam tiga tahun, yaitu dari 23 menjadi 19, kemudian dari 19 menjadi 6 anak.

Capaian ini menunjukkan bahwa pendekatan berbasis masyarakat dapat memberikan dampak nyata apabila dilakukan secara konsisten, terukur, dan melibatkan kader, keluarga, Kelompok Wanita Tani, pemerintah desa, perguruan tinggi, serta unsur masyarakat setempat. Untuk kepentingan publikasi resmi, data capaian ini sebaiknya dilampiri rekap Posyandu, laporan program PDB, atau dokumen monitoring desa sebagai bukti pendukung institusional (Universitas ‘Aisyiyah Surakarta & Universitas Muhammadiyah Surakarta, 2026).

Strategi yang dilakukan di Desa Jetis meliputi penanaman TOGA dan kelor, gerakan one day one egg, pemberdayaan kader kesehatan, serta pemberdayaan Kelompok Wanita Tani.

Pendekatan ini penting karena pencegahan stunting tidak cukup dilakukan melalui penyuluhan sesaat, tetapi perlu membangun kemandirian pangan keluarga, keterampilan pengolahan makanan bergizi, pemantauan tumbuh kembang anak, dan budaya hidup sehat di tingkat rumah tangga (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2019; Utami et al., 2024).

Pemberdayaan Kelompok Wanita Tani menjadi bagian penting karena keluarga membutuhkan akses terhadap pangan sehat yang mudah dijangkau. Melalui pemanfaatan pekarangan, penanaman kelor, pengolahan pangan lokal, dan edukasi gizi, masyarakat dapat memperkuat ketahanan pangan keluarga.

Strategi ini sejalan dengan pendekatan pencegahan stunting yang menempatkan masyarakat bukan hanya sebagai penerima manfaat, tetapi juga sebagai pelaku utama perubahan (Sekretariat Wakil Presiden Republik Indonesia, 2018; Utami et al., 2024).

Stunting bukan aib keluarga dan bukan pula takdir anak. Stunting adalah tanda bahwa anak, keluarga, dan lingkungan membutuhkan dukungan yang lebih baik. Setiap anak berhak memperoleh makanan bergizi, ASI, MP-ASI yang tepat, imunisasi, sanitasi yang layak, stimulasi perkembangan, serta pemantauan kesehatan secara rutin.

Dengan kerja sama keluarga, kader, fasilitas kesehatan, pemerintah desa, dan perguruan tinggi, pencegahan stunting dapat menjadi gerakan sosial yang nyata (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2023b, 2024a).

Pada akhirnya, menurunkan stunting berarti membangun masa depan. Anak yang tumbuh sehat memiliki peluang lebih besar untuk belajar dengan baik, berkembang optimal, dan menjadi generasi produktif.

Pengalaman Desa Jetis menunjukkan bahwa perubahan dapat dimulai dari desa, dari kebun keluarga, dari sebutir telur, dari kader yang aktif, dan dari masyarakat yang diberdayakan.

Dengan intervensi yang konsisten, berbasis bukti, dan berkelanjutan, desa sehat bebas stunting dapat menjadi tujuan yang dicapai bersama (UNICEF et al., 2025; Universitas ‘Aisyiyah Surakarta & Universitas Muhammadiyah Surakarta, 2026).

Keterangan Luaran

Artikel ilmiah populer ini merupakan luaran kegiatan Hibah DPPM Kemendiktisaintek Tahun 2026 dengan nomor kontrak 314/PKM/IV/2026, yang dilaksanakan melalui kolaborasi Universitas ‘Aisyiyah Surakarta dan Universitas Muhammadiyah Surakarta dalam program Pemberdayaan Desa Binaan (PDB) Guna Mewujudkan Desa Sehat Bebas Stunting Berbasis Masyarakat yang Berkelanjutan di Desa Jetis Kabupaten Sukoharjo (Universitas ‘Aisyiyah Surakarta & Universitas Muhammadiyah Surakarta, 2026).

Editor : Nur Pramudito
Universitas ‘Aisyiyah Surakarta Pemberdayaan Desa Binaan Desa Jetis sukoharjo universitas muhammadiyah surakarta